Yuk… Kita ngobrolin (nasib) film nasional

604
0
Share:

GuritaNews – Sebuah  babak baru  pentas  persaingan teramat ketat  bagi  industri  film  Indonesia  telah  dimulai,  saat Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) nomor 44 tahun 2016 pada 12 Mei 2016 lalu.

 

Perpres ini mengatur tentang daftar bidang usaha tertutup dan terbuka dengan persyaratan penanaman modal atau dikenal  sebagai  Daftar  Negatif  Investasi  (DNI).

Yang   paling  ingin  dibahas,  sebenarnya  adalah  perihal mengeluarkan industri perfilman dari daftar  Negatif Investasi (DNI), termasuk peredaran film.

Perpres ini berlaku sejak 18 Mei 2016,mengeluarkan industri perfilman dari daftar  Negatif Investasi (DNI)  termasuk peredaran.

Seiring  dengan itu,  Presiden  pun  juga  telah  membuka keran  persaingan di pasar bebas, Masyarakat Ekonomi Asean.

Terkesan cerah! ketika kita memiliki anggapan bahwa saatnya industri film nasional berkembang pesat.

Boleh saja, anggapan sederhana ini muncul, sebagai ilustrasi harapan cerah bagi kita semua.

Hanya  saja, persoalannya, tak semata kepada problematik  industri, namun lebih kepada apa  sebenarnya tujuan para    investor  asing  ikut  andil  dalam    industri  film   nasional?  benarkah  mereka  ingin  ikut meningkatkan kualitas film nasional?

Atau dengan kesungguhan hati membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan, yang (semestinya) banyak menggunakan tenaga kreatif lokal? Atau sebatas klise, yang  secara tak langsung melakukan penetrasii budaya, alih-alih mereka hanya ingin mengeduk keuntungan semata dari kebebasan yang didapat karena terbela oleh kebijakan pemerintah?

Persoalannya, kemajuan apa  yang bisa kita dapat, jika tidak diimbangi oleh kebijakan yang jelas!

Di cabutnya DNI pada bidang  film, tetap  harus diiringi  sikap  pemerintah  lewat  peraturan dan  kebijakan yang jelas, tetap  membela pengusaha  pribumi namun juga lunak bagi investor asing., setidaknya ada Peraturan Menteri.

Kedepan akan  banyak gedung bioskop  dibangun, yang tentu hasil dari kucuran dana asing.

Hanya  saja, benarkah pembangunan bioskop  tersebut akan  menjadi wadah bagi film nasional ? Karena film nasional pun masih menjadi  problem unik bagi penonton Indonesia sendiri.

Bagaimana kita berupaya keras untuk memancing hasrat penonton local untuk  mau  tandang ke bioskop merogoh kocek untuk menyaksikan film karya anak  bangsa.

Yah.. inipun dengan catatan kompleks, kalau  bagus filmnya maka  penonton juga rela antri tiket nonton  di bioskop. Nah,  kalau  filmnya  kurang  bagus, siapa  yang  salah? Nah,  kalau  bioskopnya sangat jauh  dari kecamatan, bagaimana?

Pada hari Sabtu, 25 Juni, sore , Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI), bekerjasama dengan Tabloid Seleberita dan Forum Wartawan Hiburan (FORWAN), menghelat peluncuran buku 13 Kunci Rahasia Menjadi Pemenang (karya Jay Krhesna) dilanjutakan obrolan santai bertema Yuk Kita Ngobrolin (nasib) Film Nasional, di Lobby Utara The Plaza Semanggi, Jakarta.

Acara obrolan ringan jelang berbuka puasa yang mengikut sertakan kalangan jurnalis sinema ini dihadiri ; produser Ody Mulya Hidayat, Syamsul Lussa (Vice President Film Asean), Akhlis Suryapati (SNAKKI), Ramon Papana (pelopor stand up comedy Indonesia), Jay Krhesna (Motivator) dipandu presenter cantik , Steffy Burase.

Menanggapi persoalan ‘abu-abu’ nasib film nasional saat ini, Ody mengatakan bahwa film nasional tetap punya geliat.

“Pokoknya jangan pesimis, film itu kan juga industri, jadi bisnis mutlak. Maka saya juga berharap akan terus lahir film-film Indonesia berkualitas. meski keran MEA telah dibuka dan DNI bidang film telah di cabut. Ini menandakan bahwa para produser film nasional juga harus siap membuat film yang bermutu, agar bisa bersaing,” jelas Ody

“Namun… keran MEA dan DNI itu kan juga harus ada aturan mainnya, yah harus ada peraturan menteri (Permen). Dalam hal ini kebijakan yang mengarah lunak kepada kami sebagai produser dan seperti apa nilai ‘untungnya’ bagi investor asing?,” lanjutnya.

“Kita para produser film Indonesia siap kok mau seperti apa ‘gelagatnya’ , tapi juga pemerintah harus melihat sikap kami selama ini yang telah berjuang memproduksi film-fiulm bermutu, jadi bukan sekedar mempersilahkan mereka (investor asing) masuk kesini, terus tanpa aturan yang jelas. Kan mereka juga butuh perangkat aturan yang menguntungkan mereka? ”

Sementara Syamsul Lussa memaparkan, kegamangan wajar saja terjadi ketika ramai berita dan issue bakal terjadi infiltrasi dan penetrasi budaya, “Gak perlu khawatir, semua sedang di persiapkan aturannya. Dan sebenarnya kan ini kesempatan buat kita semua untuk melihat dengan lapang hati,”

“Yah.. Jangan terlalu Indonesia banget lah… Kita kan semua harus mengikuti perkembangan. jadi harus punya keberanian menerima sesuatu yang baru,” sahut Syamsul.

Dari kiri ke kanan : Kicky Herlambang (KJSI), Syamsul Lussa (Vice President Film ASEAN), Ody Mulya Hidayat (Produser), Jay Krhesna (Motivator), Akhlis Suryapati (Ketua Umum SNAKKI), Steffy Burase (hosted/presenter) , foto bersama seusal menggelar diskusi santai 'Yuk... Kita Ngobrolin (nasib) Film Naisonal' (foto : Elson/guritanews.com)

Dari kiri ke kanan : Kicky Herlambang (KJSI), Syamsul Lussa (Vice President Film ASEAN), Ody Mulya Hidayat (Produser), Jay Krhesna (Motivator), Akhlis Suryapati (Ketua Umum SNAKKI), Steffy Burase (hosted/presenter) , foto bersama seusal menggelar obrolan santai ‘Yuk… Kita Ngobrolin (nasib) Film Naisonal’ (foto : Elson/guritanews.com)

Sementara Akhlis Suryapati cukup ‘getol’ menegaskan : yah kalau kita ngobrolin soal nasib film Indonesia ‘yah begini ini.. keadaannya.. film Indonesia kan ada karena bioskop’

“Yah, kalau ‘nasib’ dalam pengertian lainnya, mungkin kita perlu menguras tenaga dan otak habis-habisan. Dari soal konten, promosi, kualitas, kehadiran bioskop yang masih minim , juga persoalan karakter penonton kita…” tanggapnya dengan santai.

“Yang penting cara kita menerima saja, mau itu investor asing dari manapun yang hendak bangun bioskop atau membuat film di Indonesia, jadi kemabli kepada bagaimana kita bersikap saja. Semua ini terkait kepentingan perseoarangan ataupun kelompok tertentu. MEA dan DNI ada karena kepentingan tadi,”

Berbeda dengan Ramona Papana, yang lebih ringan berbicara bahwa ‘film adalah sebuah misi dan pesan, bagi saya sejauh ini sih film Indonesia masih tetap bertahan ditengah gempuran film asing dan kapitalis,” ucapnya.

Lebih ringan motivator yang juga bermain dalam film ‘Kalam-Kalam Langit’ Jay Krhesna mengungkapkan pemaparan sedikit berbeda : Indonesia mesti banyak memproduksi film-film yang edukatif dan bermoral ‘setidaknya tanpa meninggalkan kesan budaya ketimuran kita’

Apakah  kita mesti belajar  seperti negeri tirai bambu, Tiongkok, Perusahaan film raksasa Dalian Wanda Grup, telah  membeli studio besar Legendary Pictures, demi mempopulerkan film-film Tiongkok di industri Hollywood.

Sikap  bos   Dalian  Wanda  Grup,   Wang   Jianlin,  merupakan  bagian  dari  reaksi  hebatnya,  dengan mengantarkan film-film Cina yang belum terlalu banyak di putar di pasar Amerika.

Dan inilah contoh  besar sebuah penetrasi asal Asia.

Sekedar bertanya dalam  hati kecil, seberapa hebat kelihaian dan  keberanian para  pengusaha bermodal besar di negeri ini untuk menyepak peradaban dunia lewat penetrasi yang telah di pelopori Wang Jialin?

Apakah  kita harus bertaruh uang  sebanyak-banyaknya di bisnis film nasional? (Q2)

Share:

Leave a reply