Kesenian Wayang Berhasrat “Menggauli” Anak Muda

475
0
Share:
Wayang Siap Menggauli Anak Muda

GuritaNewsSeni pertunjukan wayang masih punya magnet dalam memerankan metodenya guna kepentingan kampanye partai politik, hingga pada kegiatan-kegiatan mengkawal pemilihan presiden sekalipun.

Realitas inilah yang membuat organisasi-organisasi pewayangan Indonesia untuk segera mengeluarkan pernyataan bersama terhadap independensi dan netralitas yang tidak berpihak sama sekali kepada kelompok politik apapun. Meski harus kita harus akui, pada kenyataaannya kesenian ini sudah lama ditinggalkan masyarakat kalangan muda ke bawah.

Seni pewayangan tak lagi menjadi etalase ‘dakwah’ premium dalam seni pertunjukan publik. Akibatnya, arus perkembangan zaman yang seiring dengan pembaruan dan kemunculan teknologi kekinian, harus membuat seni pertunjukan ini tenggelam dan ditinggalkan publik.

“Simboliknya (jagat pewayangan) sudah tak nyambung lagi dengan selera anak muda jaman now,” ujar Prof Teguh Supriyanto, Guru Besar Sastra Universitas Negeri Semarang, anggota Dewan Pakar Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) seusai menggelar acara Pernyataan Bersama Organisasi-Organisasi Pewayangan Indonesia pada Selasa (27/2) sore, di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah.

“Saat ini kami aktualisasikan melalui berbagai program digitalisasi melalui berbagai ‘game’ di area sosial media dengan tujuan untuk kembali mempopulerkan wayang orang dan kulit,” lanjutnya.

Sementara, Samodra Sriwidjaya, Presiden Dewan Eksekutif UNIMA Indonesia, mengatakan peran penting Kementerian Luar Negeri yang telah bekerjasama dengan pihaknya dalam menerbitkan 12 jilid komik pewayangan bagi anak-anak kita yang bermukim di luar wilayah Indonesia.

Dengan mengusung program “Wayang for Student”, mereka juga melakukan pergelaran wayang golek dengan bahasa kekinian. “Beragam cara untuk kembali memperkenalkan pada seni pewayangan adalah membuat mereka agar tertarik dengan wayang boneka yang dijadikan film animasi digital. Pergelaran wayang orang juga mengandalkan lakon-lakon sejarah selain kisah Ramayana dan Mahabarata saja,” papr Dr Sri Teddy Rusdy, pakar filsafat wayang. (Q2)

Share:

Leave a reply