Vape Lebih Aman dari Rokok ?

130
0
Share:

GuritaNews – Irfan (27) sebelumnya seorang perokok berat. Namun, sejak beberapa bulan terakhir Irfan tidak lagi menghisap tembakau rokok konvensional. Sebagai gantinya, karyawan swasta ini mengonsumsi rokok elektrik yang biasa disebut vape.

“Katanya lebih aman vape daripada rokok konvensional. Niatnya sih vaping biar bantu berhenti merokok,” ujarnya.

Vape yang sedang digandrungi masyarakat terutama anak muda di perkotaan ini merupakan rokok elektrik generasi keempat.

Tidak seperti rokok konvensional yang mengeluarkan asap, vape justru menghasilkan uap berwarna putih seperti asap.

Vape biasanya memiliki berbagai varian rasa sehingga disukai konsumen.

Lantas, benarkah vape lebih aman bagi kesehatan ketimbang rokok biasa?

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengkategorikan vape sebagaielectronic nicotine delivery system (ENDS). Ini merupakan jenis peralatan yang biasa digunakan untuk menghantarkan nikotin ke dalam tubuh pengguna, zat serupa yang terdapat pada rokok konvensional.

Disinilah letak persoalannya.

Dokter spesialsi paru Agus Dwi Santoso mengatakan karena vape tetap menggunakan nikotin, maka tingkat bahayanya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional.

Agus menjelaskan nikotin merupakan zat yang bisa menyebabkan ketagihan dan membuat rasa nyaman.

Dalam jangka panjang, nikotin berpotensi menyebabkan penggumpalan di pembuluh darah.

“Inilah yang menyebabkan berbagai penyakit seperti jantung koroner, stroke, impotensi pada laki-laki, hingga infertilitas pada perempuan,” tuturnya kepada Bisnis pekan lalu.

Agus menambahkan penggunaan vape secara terus menerus akan menyebabkan risiko yang sama dengan konsumsi rokok konvensional.

Selain persoalan nikotin, vape juga berbahaya karena cairannya bisa diisi ulang dengan berbagai rasa sehingga lebih menarik bagi konsumen.

Menurut Agus, potensi bahaya akibat cairan yang mengandung pengawet dan bahan kimia pada vape ini sangat besar.

Cairan tersebut biasanya mengandung karsinogen yang ditenggarai bisa menyebabkan kanker. Agus menjelaskan rokok elektrik ini memang tidak mengandung tar seperti pada rokok konvensional. Namun, keberadaan zat karsinogen ini sudah cukup berbahaya bagi tubuh.

Agus menambahkan, beberapa negara Eropa saat ini sudah mengawasi dengan ketat keberadaan vape ini.

Pasalnya, dalam beberapa penelitian terbaru di Eropa terdapat indikasi cairan vape diisi dengan narkoba. Risiko tersebut harus diwaspadai karena di Indonesia pun belum terdapat aturan yang jelas mengenai vape tersebut.

Aspek lain yang patut diwaspadai adalah keberadaan partikel uap yang dihirup saat mengonsumsi vape. “Uap air memiliki partikel yang jauh lebih kecil dari asap sehingga sangat mudah masuk ke saluran nafas,” ujarnya,

Agus menjelaskan uap yang dihasilkan vape biasanya mengandung radikal bebas yang bisa menyebabkan berbagai keluhan saluran nafas.

Mulai dari iritasi, tenggorokan yang terasa perih, hingga potensi asma atau kanker paru dalam jangka panjang.

Agus menuturkan kandungan nikotin dalam vape memang lebih rendah daripada rokok konvensional. Namun, dalam hal ini tidak ada istilah mana yang lebih aman.

Pasalnya, keduanya sebenarnya memiliki kandungan risiko tinggi yang sudah sepantasnya dihindari.

Nah, bagi anda yang masih mengonsumsi vape dengan alasan lebih sehat ketimbang rokok, sudah saatnya untuk mempertimbangkan lagi pendapat tersebut.

Share:

Leave a reply