Untuk Angeline : agak ‘nanggung’ menguras rasa

193
0
Share:

GuritaNews – Film Untuk Angeline, sebenarnya di buat demi menggambarkan betapa masih banyaknya kepiluan nan tragis yang di alami anak-anak Indonesia.

 

Terlepas kepada persoalan kasus kematian Angeline yang dilakukan ibu angkatnya, film Untuk Angeline -memang lebih ringan- mem-visual tentang bagaimana kejamnya seorang ibu angkat -yang dengan tega- menghabisi nyawa anak yang diadopsinya sejak bayi.

Sutradara Jito Banyu, sepertinya ingin bermain ‘hati-hati’ dalam memberi penafsiran kekejaman seorang ibu tiri (bisa dibilang seperti itu).

Roweina Umboh (foto : Q2her/guritanews.com)

Roweina Umboh (foto : Q2her/guritanews.com)

Namun, setidaknya film Untuk Angeline telah hadir ‘mendaulat diri’ sebagai pesan bathin kepada kita semua.

Sepeninggal kematian suaminya (John ; diperankan Hans de Kraker), Terry ( Roweina Umboh) yang menajdi ibu angkat Angeline (Naomi Ivo) kerap memperlakukan bocah berumur 8 tahun itu dengan tidak wajar.

Dari mulai menghukumnya tanpa alasa, dengan memberi makan kucing sekaligus -Angeline- juga harus memakan panganan hewan tersebut, hingga tak diberi makan dengan layak.

Tery sepertinya asyik dengan ‘akhlak kejinya’ kepada Angeline, yang belumlah mengerti apa itu dosa dan syurga.

Kekejaman Terry harus berakhir dengan kematian Angeline, hingga mass mediapun membakar-bakar dirinya lewat pemberita kasus penyiksaan anak hingga tewas.

Kinaryosih (foto ; Q2her/guritanews.com)

Kinaryosih (foto ; Q2her/guritanews.com)

Dalam film produksi Citra Visual Sinema, Jito ini memang tidak ingin terlalu dalam mengurai emosional, bagaimana Terry meng-aktualisasikan ‘kekuasaan’ semena-menanya kepada hidup Angeline.

Mungkin film Untuk Angeline, lebih menawarkan sebuah drama datar saja.

Frame drama yang di garap lewat teknik penyutradaraan Jito, memang tidak mengecewakan, hanya saja (saya, penulis.red) sedikit mereka-reka, kenapa film ini agak ‘nanggung’ untuk berani menguras ‘rasa’ kita??

Akan terasa lebih nikmat jika film ini mampu mengoyak bathin kita, namun yah itu tadi, misi Untuk Angeline adalah pesan yang langsung terhubung kepada kita yang ada di bumi pertiwi ini.

Persis pada tahun 1985 film Ari Hanggara (dibintangi : Yan Cherry Budiono) membuat kegemparan cukup dahsyat di bioskop-bioskop.

Film yang dibintangi aktor gaek Deddy Mizwar itu cukup mendapat sambutan hebat, banyak penonton di bioskop sibuk mengusap air mata di wajah seusai menyaksikan film berdurasi sekitar tiga setengah jam itu.

Dewi Hughes (foto : Q2her/guritanews.com)

Dewi Hughes (foto : Q2her/guritanews.com)

Ari Hanggara tewas ditangan bapak kandungnya sendiri, malam menjelang subuh.

Keinginan Ari tak pernah terwujud untuk tinggal di pesantren, saat ajalnya berakhir beberapa jam sebelumnya, di tangan sang bapak, tanggal 8 November 1984.

Medio 2015 kematian bocah berusia 8 tahun bernama Angeline, terungkap.

Kematian tak wajar yang diakibatkan dari penyiksaan ibu angkatnya sendiri, Margriet Christina Megawe.

Kisah memilukan hati ; Angeline dan Ari Hanggara, adalah sedikit dari banyak ‘nasib’ anak-anak Indonesia yang mengalami kekerasan hingga berakhir dengan kematian yang mengenaskan.

Film Untuk Angeline sedikit banyak mengingatkan kita bahwa betapa masih banyak cara yang baik dan bijak untuk mengasihi anak tanpa harus menyiksanya hingga mati!

Perlakuan keji Margriet terhadap mediang Angeline, tetap harus menjadi perhatian kita semua. (Q2)

Share:

Leave a reply