The Choice : dilematis adaptasi karya Nicholas Sparks yang ‘selalu’ monoton

342
0
Share:

GuritaNews – Membosankan dengan gaya roman itu-itu saja yang kerap di suguhkan dalam film – film adaptasi novel karya Nicholas Sparks.

 

Sebut  saja seperti ; Dear John, The Notebook, Safe Haven, The Longest Ride, A Walk to Remember adalah beberapa judul film adaptasi novel karya Sparks, yang dianggap banyak kritikus membosankan namun laku dijual, agak sedikit dilema sebenarnya.

Kini, The Choice adalah kesebelas kalinya film yang diadaptasi dari penulis novel terkenal kelahiran Nebraska, Amerika Serikat, berusia 50 tahun itu.

Tidak terlalu rumit untuk menebak hal-ikhwal cerita romantika dalam The Choice, bagi anda penikmat film-film drama yang diadaptasi dari novel karya Sparks, tentu sudah mampu menebak, awal, pertengahan dan ending yang seperti apa.

Namun sebagai tontonan , The Choice, tetap menarik disajikan, meski kita tetap memiliki hasrat untuk berontak agar film-film melodrama sejenis ini tidak selalu terhimpit oleh peran-peran konyol seperti ; kekasih yang selalu dipaksa -Sparks- bernasib sial.

Maklum hampir semua novel Sparks menempatkan tragedi dan nasib sial bagi pelaku romantikanya.

Ringan sebenarnya, The Choice hanya menggaris bawahi ‘kesetian cinta’ , lewat perihal klise ini Sparks seperti meski hendak sedikit menggurui kepada khalayak bahwa kesetiaan memang tak pernah pudar oleh apapun.

Sekilas benar , hanya saja The Choice yang juga di produseri Sparks, terlau jauh menjangkau logika.

Cinta adalah soal perasaan terdalam setiap insan, yang sejatinya sulit tergambar dengan mimpi indah sekalipun.

Energi romansa sejati lebih dulu ditawarkan sastrawan legenda sekelas William Shakespeare lewat karya-karya puitisnya seperti Romeo & Juliet, demikian melegendanya karya Shakespare tetap saja hanya sebuah uraian lakon dramatis yang hanya mampu sekedar singgah dalam benak dan ingatan kita.

Claire Danes dan Leonardo DiCaprio dalam Romeo and Juliet (1996)

Claire Danes dan Leonardo DiCaprio dalam Romeo and Juliet (1996)

Tidak perlu harus kita berlelah hati mengakuinya secara mutlak bahwa kematian, kesialan atau tragedi harus terjadi dalam setiap kisah asmara.

Hal yang pasti adalah pengorbanan.

Penggambaran mati, sial dan tragedi lainnya dalam kisah-kisah klasik romansa di era modern hanyalah etika penulis agar novelnya mudah diterima, karena akan kebanyakan manusia senang dengan kisah-kisah klise seperti ini.

Di Indosenia beberapa sineasnya juga sudah mulai rajin membungkus film-film -yang katanya sih- diadaptasi dari ‘best seller novel’.

Meski mereka juga akhirnya menyadari, tak mesti film yang diangkat dari novel sukses penjualannya, juga punya kemampuan mengeduk keuntungan.

Buktinya…. banyak kok yang rugi bikin film yang diadaptasi dari novel yang katanya best seller itu.

Saat inipun kian ramai penulis novel kagetan yang gemar mengusung tema-tema romansa berbalut religi, yang selalu saja didalamnya di selipkan itu tadi, kalau gak kekasihnya, mati, sakit parah, atau tragedi lainnya agar novelnya jauh menarik.

Kenapa harus balutan religi?? simpel saja ; gampang dijual dan mudah dicerna.

Bahkan juga tak sedikit penulis novel yang tiap kali menerbitkan kisahnya tak pernah memiliki atmosfir segar dan berenrgi, dari karya pertama hingga kesekian, selalu monoton.

Mungkin sama dengan Sparks, hanya agar dianggap sebagai penulis produktif, meski film-film yang diadaptasi dari novelnya juga tak sedikit yang minim penghasilan.

Namun apapun tentang novel roman yang di tuangkan dalam film tetaplah punya daya tarik berbeda.

Hanya sepenggal catatan bagus dalam film The Choice yaitu saat sutradra Ross Katz, berhasil menjaga chemistry lakon Gabby Holan (Teresa Palmer) dan Travis (Benjamin Walker), hingga di akhir film.

Share:

Leave a reply