Terlalu ‘sibuk’ kita dengan viral, lupa ada film menarik tentang PRAMUKA

590
0
Share:

GuritaNews – Film Ayu Anak Titipan Surga yang mendekati masa penayangannya di bioskop mulai 12 Januari mendatang terus gencar melakukan berbagai kiat promo di berbagai media.

 

Film ini sebenarnya begitu mendapat perhatian banyak pelajar Sekolah Dasar di berbagai wilayah Indonesia.

Acara nonton bersama yang bisa dibilang sebagai sebauah acara dengan menyedot jumlah penonton terbanyak di Indonesia sebelum film tersebut tayang resmi di bioskop.

Tak pelak jumlah 100.000 penonton yang mayoritasnya siswa pelajar Sekolah Dasar ini mendapat perhatian dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

Penggagas dan CEO MURI, Jaya Suprana, menyematkan penghargaan prestis kepada film AATS sebagai Film dengan Penonton Terbanyak sebelum Tayang Resmi.

Upaya keras yang dilakukan Bagus Hariyanto sebagai produser dan bos rumah produksi Griya Pelopor Budaya ini membuahkan hasil menakjubkan.

Memboyong AATS menjadi satu-satunya film nasional dengan jumlah penonton sebanyak seratus ribu lebih atau dengan kata lain penjualan tiket terbesar jumlahnya untuk acara nonton bersama, sebelum film tersebut di tayangkan secara resmi di bioskop nasiona, pada 12 Januari 2017.

aats-muri-by-kicky-herlambang

Produser Bagus Hariyanto berjabat tangan dengan Jaya Suprana, (tengah) pemeran Ayu ; Lutfhiyyah Putri (foto : Q2HER / www.guritanews.com)

“Ini sebuah hasil kerja keras kami semua untuk menjadikan film AATS sebagai hiburan edukatif yang bermutu. Layak untuk di tonton bersama keluarga,” jelasnya kepada media.

Pihak rumah produksi, Griya Pelopor Budaya,  terus menerus melakukan acara nonton bersama film yang juga dibintangi Norman Kamaru ini.

Bahkan sekuel film AATS pun dipersiapkan, dengan memulai open casting secara terbuka di sebuah mal di kawasan selatan Jakarta selama beberapa hari , pada akhir Desember lalu.

Meski hanya di perankan oleh sederet artis muda pendatang baru, sejatinya film AATS memang hendak menghantarkan pesan.

Sosok Ayu sebenarnya dibentuk sedemikian sederhananya, dengan sebuah tujuan menciptakan ikon ‘anak baik’ Indonesia.

Sebuah ikon bermerk ‘Ayu’ lahir di era -tanpa batas- digital dan sosmed, lewat pemaparan cerita edukatif dan inspiratif, film AATS mencoba memulangkan kembali energi dunia anak Indonesia yang kini tenggelam asik di dalam kecamuk dan kepelikkan dunia digital dan sosmed.

Anak-anak Indonesia seperti terjerembab dalam pola aksi modernitas yang serba bebas.

Film AATS hendak menggugat kerinduan kita terhadap dunia anak yang serba tertata dengan etika lewat Paraja Muda Karana (PRAMUKA) Indonesia.

Dan semestinya ada kearifan dari kita semua untuk mau berbuat lebih kepada generasi, bahwa modernitas juga punya ‘kesia-siaan’.

Perang caci maki sea viral-viral (yang membodohi) di sosmed juga sudah selayaknya menjadi bekal kesadaran kita untuk membentuk batas manfaat, bahwa sedemikin banyaknya anak-anak dibawah umur yang juga menjadi penikmat sosmed tanpa ‘pengendalian’.

Sedikit saja kita (jangan hilang akal atau gagal paham yah…) bertanya ; kenapa tak banyak orang mau sibuk untuk memperbincangkan film edukasi ini di sosmed..??

Simple jawabannya ; karena kebanyakan para pelaku sosmed asyik dengan membangun kanal opini antah berantahnya, dari mulai saling menyanjung hingga saling hujat.

Ayu Anak Titipan Surga mencoba (sekali lagi) berupaya keras mendekatkan dunia anak yang semestinya ; cerdas dan ceria.

Dunia anak yang penuh impian elok dan lekat dengan kebajikan, sudah semestinya kita kembalikan, jangan membiarkan mereka (anak-anak) terlibat dalam persoalan pelik dan kisruh di ranah sosial media.

Luthfiyyah Putri dan Adhyaksa Dault (foto : Q2HER/www.guritanews.com)

Luthfiyyah Putri dan Adhyaksa Dault (foto : Q2HER/www.guritanews.com)

Ketua Krwartir Nasional Pramuka, Adhyaksa Dault, mengatakan bahwa Ayu Anak Titipan Surga adalah realitas kuat bahwa dunia anak Indonesia penuh suka cita.

“Ini sebuah film yang bagi saya punya kekuatan moral dan sarat edukasi, jadi selayaknyalah kita bangga ada sebuah rumah produksi mau mengangkat tema menarik tentang Pramuka? Saya sangat apresiatif dan mendukung total apa yang telah di lakukan rumah produksi Griya Pelopor Budaya,” jelasnya saat di sambangi guritanews.com di kediamannya.

Kisah dalam film AATS memang bukan kemutlakkan yang harus kita sepakati sebagai sebuah sandaran moral bagi anak bangsa, paling tidak film ini punya magnet bagi seratus ribu lebih siswa pelajar yang telah menontonnya di bioskop saat menghadiri acara nonton bersama. (Q2)

Share:

Leave a reply