Simak deh trailer film aksi menegangkan 22 Menit berdurasi 118 detik ini!

49
0
Share:
Preskon trailer 22 Menit (guritanews.com)

Melalui 22 Menit Eugene ingin bisa menyuguhkan cerita tentang orang-orang yang terkena dampak serangan teroris.

GuritaNews – Studio Buttonijo Films meluncurkan trailer film aksi menegangkan 22 Menit berdurasi 118 detik, yang serentak di tayangkan di bioskop 19 Juli 2018 mendatang.

Film 22 Menit karya sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita Pohan ini terinspirasi dari keberanian warga Jakarta saat teroris melakukan aksi meledakan bom di persimpangan jalan Thamrin, pada bulan Januari 2016.

“Film ini kami buat untuk menggambarkan keberanian dan juga ketahanan bangsa Indonesia dalam menghadapi serangan teroris,” kata Eugene.

Melalui 22 Menit Eugene ingin bisa menyuguhkan cerita tentang orang-orang yang terkena dampak serangan teroris.

Tokoh utama dalam film ini adalah Ardi (Ario Bayu), seorang polisi yang juga anggota unit anti terorisme.

Meski resiko pekerjaannya tinggi, Ardi teguh dan sabar menjalani harinya.

Ardi bahkan tak pernah absen mengantar anak perempuannya ke sekolah sebelum bertugas.

Dalam hitungan 22 menit, Ardi dan satuannya berhasil meringkus pelaku.

Namun peristiwa tersebut akhirnya ikut mengubah hidup banyak orang untuk selamanya.

Kisah drama yang juga penuh aksi ini dibintangi oleh Ade Firman Hakim, Fanny Fadillah, Ence Bagus, Ardina Rasti, Hana Malasan, Taskya Namya dan aktor kawakan Mathias Muchus.

Naskah 22 Menit ditulis oleh Muhammad Husein.

Seperti yang terlihat dalam trailernya, film berdurasi 100 menit ini memiliki banyak aksi mendebarkan, mulai dari adegan bom meledak, baku tembak di tengah jalan hingga aksi berbahaya turun dari helikopter yang hanya bisa dilakukan oleh anggota kepolisian terlatih.

Sayangnya, efek ledakan bom yang di visualkan (perhatikan dengan seksama) masih tampak kasar.

Jika efek  visual ledakan ini menggunakan campur tangan teknologi sekelas Computer Generated Imagery (CGI), maka proses ‘pemolesan’ efeknya teramat sangat minimalis.

Sebab biasanya film aksi dengan menggunakan efek-efek ledakan dahsyat seperti bom, dibutuhkan tangan dingin untuk menghidupkan visual ledakan tersebut.

“Kami ingin film ini juga bisa menggambarkan kecanggihan fasilitas yang dimiliki oleh polisi Indonesia. Selama ini, kemajuan teknologi yang mereka punya tidak diketahuibanyak orang,” jelas Myrna yang sudah cukup lama melakukan riset di Polda Metro Jaya.

Lexy selaku produser film mengatakan bahwa penumpasan aksi terorisme juga mengandalkan kontribusi masyarakat luas.

“Melalui film ini, kami ingin juga mengingatkan bahwa kita semua harus bisa saling bahu-membahu menjaga kesatuan Republik Indonesia,” kata Lexy.

Nantinya, sebagaian hasil penjualan tiket film 22 Menit akan disumbangkan kepada para korban ‘bom Thamrin 2016’.

“Film ini adalah pembelajaran soal anti terorisme di Indonesia, karena itu kami sangat berharap karya kami mendapat dukungan dari seluruh penduduk negeri,” kata Eugene mengakhiri. (Q2)

Share:

Leave a reply