Spirit Imlek dari historikal, legenda, hiburan hingga meng-edukasi generasi

83
0
Share:

GuritaNews – Oleh Syamsudin Noer Moenadi – Suasana kota Denpasar, seminggu sebelum perayaan Imlek yang tahun 2017 dirayakan tanggal 28 Januari, tepat hari Sabtu, biasa saja.

Pusat perbelanjaan di Ibukota Provinsi Bali itu, tidak banyak hiasan lampion.

Setidaknya di Jakarta ,Ibukota Republik Indonesia, yang malah sejak awal Januari bergelantungan lampion berwarna merah mencolok yang demikian gemerlapan.

Imlek atau Sin Chia adalah sebuah perhelatan yang aslinya dilakukan para petani di Tiongkok.

Perhelatan ini biasanya jatuh pada tanggal satu dibulan pertama di awal tahun baru Perhelatan ini pun semi.

Pesta Imlek dimulai padatanggal 30, bulan ke-12 dan berakhir padatanggal 15 bulan pertama.

Acara pesta Imlek meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta dan perayaan Cap Go Meh.

Tujuan dari persembahyangan tersebut ialah sebagai wujud syukur dan doa harapan sepaya di tahun depan mendapat rezeki yang lebih banyak.

Bisa juga persembahyangan itupun untuk menjamu leluhur serta sebagai sarana silaturahim dengan karabat dan tetangga.

Maklumlah perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani yang penuh keramaian dan pada perayaan Imlek tersuguhkan atraksi barongsai maupun kembang api.

Ya, Imlek itu merupakan nama sebuah sistem kalender yang sebenarnya sangat kaya dengan makna.

Ada enam makna yang terkandung dalam Imlek.

Yakni makna astronomis, religi, historis, sosiologis, pariwisata dan makna politis.

Makna astronomis lantaran sebuah sebuah sistem penanggalan yang tidak saja menggunakan sistem sonar, orbit bulan mengelilingi bumi, tapi juga bumi mengelilingi matahari.

Hal ini yang menyebabkan Imlek berbeda dengan – katakanlah – kalender Hijriah, yang selalu maju sebelas hari.

Sedangkan Imlek ada penyesuaian selama sembilan belas tahun, disisipkan tujuh kali bulan ketiga belas.

Makanya mengakibatkan jumlah hari di dalam penanggalan Imlek sama dengan penanggalan Masehi.

Makna religi, historis, sosiologis dan makna pariwisata bisa jadi banyak orang yang sudah memahami sekaligus menjalani.

Saya pernah bertemu dengan keluarga yang bukan keturunan Tionghoa ,namun mengenalkan budaya Imlek kepada ketiga anaknya sejak dini.

Keluarga ini mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menghargai perbedaan.

Tentu saja masalah ini bisa mengasah anak-anak bersikap terbuka terhadap perbedaan yang ada disekitarnya.

Menjelang Chinese New Year keluarga itu mengajak ketiga anaknya berjalan-jalan ke daerah Pecinan seperti Petak Sembilan di Jalan Kemenangan III Glodok , Jakarta Barat.

Di Petak Sembilan mereka sekeluarga dapat merasakan denyut kehidupan masyarakat etnis Tionghoa lewat aktivitas perdagangan dan ritual kepercayaan yang kuat terasa.

Penting untuk digaris bawahi , bahwa kedua orang tua itu menjelaskan kepada anak-anaknya ketika mengunjungi atau melihat suatu acara, yaitu Wayang Potehi, pertunjunkan barongsai, pernik—pernik Imlek seperti lampion, juga perayaan bazar dan kuliner.

Sejatinya anak-anak diberitahu apa makna perayaan Imlek.

Tidak bisa disangkal menjelang Chinese New Year beberapa pusat keramaian sudah menyiapkan acara khas Imlek.

Pusat keramaian itu dihias dengan lampion yang asal usulnya terdapat beberapa versi.

Namun salah satu cerita yang terkenal mengenai Li Zicheng, seorang pemimpin pemberontak petani yang tidak merampok rakyat miskin.

Sosok Li hingga kini menjadi legenda yang akrab bagi masyarakat Tiongkok.

Jika anda pernah membaca novel karya Jin Yong ; The Deer and the Cauldron, atau mungkin anda pernah melihat serial televisi pabrikan Hongkong yang sempat ditayangkan beberapa tahun lalu di Indonesia berjudul ‘Pangeran Menjangan’ atau film Sword Stained with Royal Blood, karya Cheung Hoi-ching maupun milik Chang Cheh, maka anda akan menemukan tokoh bernama Li Zicheng.

Li sengaja meminta rakyat miskin untuk memasang lentera merah di depan rumah supaya tidak dirampok.

Suatu hari saat terjadi banjir, Li meminta kelompoknya membantu rakyat yang memasang lantera merah di depan rumahnya.

Sebagai ucapan terimakasih kepada Li, warga memasang lampion warna merah pada saat pesta dan hari raya sebagai simbol kegembiraan.

Kebiasaan tersebut kian menjadi tradisi bagi masyarakat Tionghoa, salah satunya memasang lampion pada hari raya Imlek.

Tradisi ini lantas menjalar keseluruh dunia. Tidak hanya di wilayah pecinan ,pusat perbelanjaan , tempat lainnya pun menyemarakkan Imlek dengan gemerlap lampion.

Sesungguhnya juga banyak kegiatan yang dilakukan pada perayaan Imlek bagi yang bukan keturunan Tionghoa.

Misalnya berwisata kedaerah pecinan.

Berjalan-jalan dipecinan bersama keluarga pastilah menyenangkan.

Kita menjadi tahu perihal budaya Tionghoa seperti apa, alih-alih pada perhelatan Imlek.

Paket wisata pecinan, makna pariwisata, di beberapa kota : Pontianak, Singkawang (keduakotaituberada di wilayah Kalimantan Barat) , Semarang (Jawa Tengah) dan Manado (Sulawesi Utara) memang dijual kepada turis mancanegara maupun wisatawan nusantara.

Contoh saja seperti kota Manado, yang membuat target ribuan wisatawan nusantara dan 2000 turis dari Tiongkok datang ke Sulawesi Utara.

Makna politis, bahwa pada suatu ketika Imlek dilarang dirayakan. Terjadi tahun 1967-an.

Pada waktu itu ada ketakutan sesuatu yang berbauT iongkok .

Persoalan ini berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September.

Sekarang ini, zaman bergerak terus dan pastinya selalu menuju perubahan ,Imlek bebas dirayakan dengan suka cita.

Dalam Makna sosialogis, keluarga Tionghoa secara suka-cita merayakan Imlek dengan makan malam bersama keluarga besar dan merupakan salah satu tradisi yang terus dipertahankan.

Makan malam bersama keluarga selain sebagai momen bersosialisasi, juga berfungsi untuk mendidik anak-anak mempelajari tradisi leluhur.

Perayaan Imlek haruslah kita sambut dengan ketulusan, dan dalam perayaan itupun mencuat kan toleransi beragama.

Sungguh merupakan kebahagian yang tidak terhingga nilainya. Dan semuanya itu bukanlah mitos. Sebaliknya ada mitos yang menyatakan bahwa Imlek identik dengan hujan atau memang merayakan Imlek selalu harus dengan hujan ?

Pertanyaan itu dapat di mengerti, hanya saja perlu dicatat bahwa awal tahun baru Imlek dari tanggal 21 Januari sampai 19 Februari dan ketika mau maju melebihi 21 Januari disisipkan bulan ketiga belas.

Di Indonesia, pada bulan Oktober- April itu dikenal musim penghujan. Lantas pada bulan April- Oktober masuk musim panas.

Nah, bulan Januari- Februari pastinya musim hujan. Kiranya bukanlah mitos merayakan Imlek dengan hujan.

Jadi perayaan Imlek adalah saat yang tepat untuk berbagi kebahagiaan bersama banyak orang, terutama pula untuk orang yang kurang beruntung.

Sebuah siprit dalam perjalanan kultur masyarakat Tionghoa, yang bertahan ber-abad lamanya hingga kini.

Selamat perayaan Imlek ,bahagia selalu. (Syamsudin Noer Moenadi ,Jurnalis dan Esais yang tinggal di Jakarta)

Share:

Leave a reply