Si kaya dan si miskin ala Mooncake Story

116
0
Share:

GuritaNews – Potret kehidupan si kaya dan si miskin dalam sebuah film, sebenarnya bukan barang baru untuk disajikan, namun akan berbeda ketika lakon si kaya dan si miskin di kemas dengan atmosfer dan gaya penuturan yang lebih segar.

 

 

Film Mooncake Story, karya Garin Nugroho, memang tak perlu secara menguras perasaan untuk berbelit menguras persoalan klise soal nasib si kaya dan si miskin yang terbentang jauh.

Kali ini Garin memaparkan dengan garis dan gayanya sebagai sineas festival, mengambil filosofi kue bulan , Garin mencoba mengalirkan instrumen film yang kaya sinematrografi dan gaya bertutur yang (kali ini) tidak mengerutkan dahi.

Film Mooncake Story, sebernanyapun tidak total mengurai warna Garin dalam membesut karyanya, sekilas film ini di usung dengan gaya-gaya ngepop, maklum dalam film ini ada dua bintang kondang Bunga Citra Lestari (Asih ) dan Morgan Oey (David).

Morgan Oey (foto ; Q2HER/www.guritanews.com)

Instalasi ‘ngepop’ memang sesekali perlu ditampilkan demi menjaga eksistensi si artis agar jauh dari kritik penggemarnya.

Garin juga tidak memperlakukan Mooncake Story begtiu seriusnya, tampilan aktor komedi Jaja Miharja cukup membatasi bahwa film ini punya warna yang nyaris lengkap.

Mungkin ini sebagai sikap toleransinya kepada penonton Indonesia dan penggemar kedua bintang topnya.

Garin memaparkan dengan ‘wajar’ kompleksitas problem masing masing tokoh dalam film ini.

Asih yang hendak mengambil alih sebagai kepala rumah tangga sepeninggal mediang suaminya, masih perlu pengakuan dari anak lelakinya, Bimo, dan adik perempuan Asih.

David yang mengalami penyakit hilang ingatan, membangun problematiknya dari soal masa lalunya hingga ia bertemu Asih, sosok wanita yang layak mendapat kebaikan dari dirinya.

Bunga Citra Lestari (foto ; Q2HER/www.guritanews.com)

Sebuah koneksitas problem -bukan saja- si kaya dan si miskin, yang mengerucut kepada kebutuhan hidup bahwa bukan tanpa alasan manusia hadir di alam semesta ini.

Garin mengemas kisah klasik ‘si kaya dan si miskin’ dengan selera prinsip linear dan sinematografinya yang khas.

Jika anda sering meratapi keindahan Bulan maka anda selalu melihat cahaya redupnya yang bersinar membentang bumi untuk menerangi pekatnya malam, bahkan Bulan tak pernah mengeluh kepada Sang Khaliq yang menciptkanNYA, karena cahaya redupnya.

Bahkan ia selalu mengalah ketika Matahari harus mengambil alih tempatnya untuk bergatian menerangi bumi di waktu pagi hingga di bibir senja.

Preskon Mooncake Story (foto ; Q2HER/www.guritanews.com)

Mungkin saya (penulis) menafsirkan bahwa masih ada manusia yang indah bagaimana eloknya Bulan di waktu malam.

Keragaman problem yang dinarasikan dengan gaya bertutur Garin kali ini memang cukup tersaji ringan, tak bermaksud menggurui, atau sok tahu.

Mooncake Story yang diproduksi Tahir Foundation bekerjasama dengan MVP Pictures ini ,tayang mulai 23 Maret di seluruh bioskop! (Q2)

Share:

Leave a reply