Seberapa perlu LSF ‘membabat’ kualitas pesan film 2 Batas Waktu?

868
0
Share:

GuritaNews – Menjadi pemahaman mutlak bahwa film adalah pesan, apapun yang hendak disampaikan.

Meski tak semua film via lembaga sensor (di negara manapun) akan lunak tersampaikan pesan yang dibungkusnya, mengingat policy yang berlaku.

Lembaga Sensor Film (Lembaga Sensor Film) Indonesia adalah sebuah badan yang mengkoreksi dan memutuskan, kelayakan sebuah film (baik film nasional maupun asing) sebelum di tayangkan di bioskop.

Jadi memang tidak mudah (untuk ditegaskan) melakukan tugas menyimak, mencerna lalu bila perlu ‘menggunting’ beberapa potong adegan atau dialog dalam film tersebut, dengan catatan yah itu tadi ‘jika dibutuhkan’.

Dengan adanya Lembaga Sensor Film (LSF) maka semua film mutlak mengalami proses ‘koreksi’, baik adegan, dialog, cerita, dan gambar.

Irish Bella (foto ; q2her/guritanews.com)

Irish Bella (foto ; q2her/guritanews.com)

Begini yang terjadi dalam sebuah film drama berkonten ‘pure religi’  berjudul 2 Batas Waktu, yang semestinya menjadi ‘mesej’  paling mudah dan lunak sebagai film.

Cukup disayangkan saat film yang yang di produksi oleh Tujuh Rumah Produksi ini, harus (rela tak rela) samar menyampaikan pesan ketika LSF menggunting beberapa ‘point’ yang semestinya berperan penting sebagai pesan kepada penontonnya.

Sandra Olga (foto; q2her/guritanews.com)

Sandra Olga (foto; q2her/guritanews.com)

“Kita sudah berdiskusi alot dengan LSF bahwa film ini adalah religi original, tidak ada misi apapun kecuali dakwah lewat sebuah film. Namun kan mereka juga punya pemikiran lain,” jelas Tirta Siregar, produser 2 Batas Waktu.

Pada pemutaran perdananya kemarin, di Blok M Square, kalangan media pun banyak mempertanyakan kenapa banyak adegan yang sebenarnya menjadi clue dan pesan di film ini harus ‘dipenggal’.

“Mau gak mau sih kita ikutlah, jika itu menurut mereka menjadi kebijakan. Tapi kami tetap pada yang hakikih saja, bawah 2 Batas Waktu pure dakwah,” lanjut Tirta.

Marcelina Natasya (foto : q2her/guritanews.com)

Marcelina Natasya (foto : q2her/guritanews.com)

Pada kesempatan lain analis film nasional, Syamsudin NM, secara teripsa mengatakan kepada guritanews.com, ‘sebelum di sensor kan pati di tonton dulu oleh tenaga sensor setelah itu mereka menyampaikan hasilnya kepada anggota badan sensor’

“Nah penyampaian hasil ini kan menjadi diskusi, sedalam dan sejauh apa nilai-nilai edukasi dan informasi dalam film tersebut. Dan kalau ada kegamangan , makan biasanya mereka duduk untuk menyaksikan berasama-sama, juga di ajak yang punya filmnya,” jelasnya.

“Memang LSF punya kebijakan, namun sepengetahuan saya, sepanjang film tersebut tidak memilki unsur apapun yang bisa menimbulkan keresahan, saya kira aman-aman saja kok,” tambahnya.
Lalu kekhawatiran apa sebenarnya hingga banyak ayat-ayat indah Al-Quran ‘dipenggal’ (sensor) LSF dalam film ini ?

“Banyak lah mas alasannya pihak mereke (LSF, redakasi). Ada ayat bagus dalam surah Az-Zukhruf dan lainnya dipenggal. Lantaran menurut mereka tidak ada korelasi dengan cerita film,” pungkas Tirta .

Sejatinya Tujuh Rumah Produksi lewat’2 Batas waktu’ telah memberanikan mengusung sebuah film yang memang memiliki dakwah yang kuat, meski harus berhadpan dengan policy.

Film 2 Batas Waktu yang tayang mulai 26 Mei, bukan tanpa kesdaran dihadirkan bagi masyarakat, sebagai sarana dakwah.

Kandungan spirit yang menempel dalam film yang dibintangi Irish Bela, Medi Zati, Mercelina Natasya, Sandra Olga, Cok Simbara ini sudah semestinya menjadi ruang berbagi (mengkaji) sejenak untuk sekedar memahami lebih ‘berani’ siapa kita? (Q2)

Share:

Leave a reply