Persembahan Terbaik di Bulan Batik

132
0
Share:

GuritaNews – Diinisiasi oleh anak-anak muda, Batik Fashion Week sukses terselenggara pada 30 September hingga 2 Oktober 2016 lalu.

Batik Fashion Week sendiri merupakan sat gerakan regenerasi dalam pelestarian dan perkembangan warisan budaya bangsa, Batik, dalam perjuangan menuju penetapan United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) memproklamirkan Indonesia sebagai the world capital of Batik. Seiring dengan peringatan Hari Batik Nasional, Batik Fashion Week 2016 yang telah rampung beberapa waktu lalu mencatatan sejumlah persembahan terbaik dalam rangkaian peragaan busana para desainer mode antar generasi yang turut memadukan unsur musik serta tari-tarian. Mengusung tema besar “Parang”, yang berarti pantang menyerah, tiga hari penyelenggaraan Batik Fashion Week menyisakan catatan menarik dalam tiap hari pelaksanaannya.

Batik Fashion Week (BFW) 2016 dibuka dengan Gala for the Opening bertema “Reimagining The Past Through The Eyes of The Future”, yang menghadirkan beragam koleksi dari 12 desainer antar generasi yang diseling oleh Gigi Art of Dance pada sekuens tertentu. Dimulai dengan pertunjukan koleksi dari desainer yang relatif baru terjun ke dunia batik seperti Rama Dauhan dan Kulo by Sekar Larasati, sekuens pertama pada hari pembukaan ini memiliki tema “New-Generation”. Sementara itu, “Young Souls”, menghadirkan koleksi dari desainer-desainer yang relatif kawakan dalam mengolah kain batik sebagai material busana seperti Populo Batik dan Ghea Fashion Studio. Sebagai penutup dihadirkan koleksi dari beberapa desainer yang kreasinya sudah dikenal sejak abad ke-19 sebagai salah satu bentuk penghargaan akan warisan inspirasi pengolahan kain batik dalam busana seperti Danar Hadi oleh Saptodjojorkartiko dan Iwan Tirta Private Collection.

Pada hari kedua, sebuah tema lain dijadikan pedoman dalam peragaan busana. “Day to Malam”, dapat diartikan sebagai dua arti “Malam” dalam arti malam hari atau bisa juga lilin yang digunakan dalam proses membatik. Pada hari kedua ini ditampilkan tiga peragaan busana oleh tiga lini mode berbeda. Pertama, Danar Hadi dengan tajuk “Line to Culture”. Kedua, Parang Kencana dengan koleksi “Scarlet” bersamaan dengan NES yang mengambil tema “Piring Selampad.”. Kemudian ditutup oleh koleksi dari Sejauh Mata Memandang dan Galeri Batik Jawa yang mengambil tema “Folk Summer Look in Indigo”.

Minggu, 2 Oktober, yang bertepatan dengan Hari Batik Nasional, BFW 2016 menghadirkan koleksi dari Sang Maestro Kain Batik, Obin Komara melalui lini andalannya BIN HOUSE. Sebagai penutup rangkaian acara BFW 2016, peragaan busana istimewa milik BIN HOUSE terbagi atas 5 sekuens yang memainkan emosi seluruh hadirin yang memadati Warehouse Plaza Indonesia. Masing-masing sekuens yang ditampilkan pada penutupan BFW 2016 membawa nuansa berbeda satu dengan yang lainnya. Model-model yang mengenakan kain batik kontemporer maupun motif-motif klasik yang dikreasikan sedemikian rupa dalam cita rasa modern asik terlarut dalam suasana sendu dari iringan lagu patah hati, namun di sekuens selanjutnya asik bergoyang ketika lagu-lagu ceria mengalun di dalam ruang peragaan busana. Puncaknya, selain salah seorang model yang meluncur menggunakan sepatu roda, dua orang model ikon BIN HOUSE, Selma Abidin dan Kimmy Jayanti kompak berjalan mengibarkan kain batik halus berwarna merah dan merah putih di sepanjang lintasan peragaan busana. Pada akhirnya, peragaan busana milik BIN HOUSE menjadi penutup rangkaian Batik Fashion Week 2016 yang penuh warna dan gairah akan lestarinya kain batik di Indonesia.

Share:

Leave a reply