Peperangan gelap ‘Underworld: Blood Wars’ yang miskin greget!

195
0
Share:

GuritaNews – Entah apa yang -jauh – lebih menarik dari Underworld: Blood Wars besutan sutradara Anne Foerster?

Praktis film ini seperti menyesatkan diri dalam drama politik kalangan Vampir yang klise.

Diskusi dan perdebatan yang dikendalikan para aktor Inggris, yang tak meyakini perkataan mereka sendiri, ini terjadi dalam Underworld: Blood Wars.

Sayang sekali, film ini seperti ‘nyaris’ hilang akal untuk memboyong misi pertempuran antara kelompok Vampir dan Lycan.

Kate Beckinsale, untuk keempat kalinya memerankan karakter Selena, seperti tak memiliki selera heroik.

Selena di benturkan oleh problematik , masa lalu, cinta, kesetiaan, serta peperangan, entah apa yang hendak di sampaikan Foerster dalam membenamkan karakter heroik Selena, yang terkesan melaju tanpa kekuatan.

Kenapa Underworld: Blood Wars seakan terjerembab antah berantah antara modern dan era abad pertengahan yang serba guram dan kelam?

Intrik istana vampir sebenarnya tak perlu lagi menjadi ‘dagangan’ dalam film ini, memunculkan sosok jahat Samira (Lara Pulver) yang berambisi merebut tahta, ternyta juga tak mampu membangkitkan emosional film ini.

Bahkan kehadiran Marius (Tobias Menzies) pemimpin Lycan yang hendak memerangi golongan vampir, tak menampakkan ambisiusnya, padahal persekokongkolan Marius dengan Lena (Clementine Nicholso) yang tak lain adalah loyalis Samira.

Lena yang harus mati ditangan Samira sendiri-pun, juga tak greget.

Film ini punya sedikit ‘kepanikan’ untuk membungkus ending, akhirnya dari menit pertama hingga akhir, Underworld: Blood Wars, tak lain hanya peperangan ‘gelap dan buram’ tanpa emosional dan linear cerita yang miskin greget.

Sayang judul…(Q2/Thyo)

Share:

Leave a reply