PDB Indonesia Mengecewakan, Rupiah Merosot

339
0
Share:
Rupiah - Soekarno Hatta

GuritaNews – Hussein Sayed, Chief Market Strategist FXTM mengatakan bahwa Rupiah tergelincir ke level terendah sejak Januari 2016 yaitu 14,000 karena pertumbuhan PDB Indonesia melambat pada kuartal pertama 2018.

Menurutnya, Produk Domestik Bruto Indonesia tumbuh 5.06% YoY, di bawah proyeksi 5.20% karena penurunan ekspor dan pengeluaran konsumsi publik. Walaupun konsumsi konsumen yang lambat adalah faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi, hal ini mungkin berubah pada kuartal kedua 2018. Optimisme terhadap ekonomi Indonesia dan prospek pertumbuhan dapat membaik jika konsumsi meningkat menjelang bulan Ramadan.

Menariknya, Indeks Harga Saham Gabungan sempat melonjak 1.60% dan ditutup di 5885.098 walau PDB mengecewakan.Sehubungan dengan prospek forex, Rupiah melemah terhadap Dolar dan harga bergerak mencapai 14.000 pada saat laporan ini dituliskan. Pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat mempersulit Bank Indonesia untuk meningkatkan suku bunga. Walau demikian, posisi Rupiah yang mengkhawatirkan dapat menjadi alasan bagi BI untuk bertindak demi melindungi mata uang Indonesia.

Hussein menilai penguatan Dolar AS terjadi meski NFP tak sesuai harapan. Sebagaimana dipaparkan pada akhir pekan lalu bahwa Data umum peningkatan lapangan kerja berada di bawah ekspektasi analisis yaitu “164K aktual vs 193K prediksi”, namun data bulan sebelumnya direvisi naik 32K. Rata-rata upah per bulan juga gagal mencapai ekspektasi dengan pertumbuhan hanya 2.6% YoY. Berita baiknya, tingkat pengangguran turun ke 3.9% yang merupakan level terendah dalam 18 tahun terakhir.

Pasar tenaga kerja secara umum masih solid, dan dengan kenaikan inflasi, Federal Reserve akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. Walau demikian, belum ada bukti yang memadai untuk mengatakan bahwa ekonomi mengalami overheating sehingga skenario yang paling mungkin terjadi adalah dua kali kenaikan suku bunga lagi di tahun 2018.

Menjelang akhir musim rilis pendapatan di AS, politik sepertinya akan kembali mendominasi. Inilah yang perlu kita pantau selama satu pekan mendatang. Belum lagi masalah negosiasi putaran pertama antara China dan Amerika Serikat berakhir Jumat lalu tanpa ada terobosan. Walaupun China mengatakan bahwa negosiasi perdagangan ini menunjukkan kemajuan, tapi belum ada hasil yang pasti. AS meminta China memangkas defisit perdagangan setidaknya $200 miliar pada akhir 2020.

Menurut banyak ekonom, hal ini sepertinya mustahil dapat tercapai. Negosiasi yang sedang berlangsung mungkin bisa mengulur waktu dan mengurangi ketegangan di jangka pendek, tapi investor akan terus mengantisipasi ancaman perdagangan berikutnya. Pernyataan dari Presiden AS Donald Trump akan selalu diperhatikan.

Kemampuan negosiasi tim Trump akan diuji lagi pekan lalu dengan berlanjutnya diskusi NAFTA. Menurut Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Robert Lighthizer, jika AS gagal merampungkan negosiasi dagang dengan Kanada dan Meksiko dalam dua pekan mendatang, maka kesepakatan dapat terancam. Dolar Kanada dan Peso Meksiko akan sangat terpukul apabila kesepakatan tidak berhasil tercapai.

Dilain pihak, pembatalan kesepakatan Nuklir Iran oleh Donald Trump diperkirakan akan membuat harga minyak mentah naik. Harga minyak mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir, dan investor mengambil posisi menunggu apakah akan mendorong harga ke level tertinggi baru atau mulai melancarkan aksi ambil untung.

Selama beberapa pekan terakhir, Trump terus mengkritik kesepakatan nuklir Iran dan berencana untuk keluar dari kesepakatan ini mulai 12 Mei kecuali negara-negara Eropa setuju untuk membenahi kelemahan yang ada. Walaupun harga minyak diperkuat oleh berkurangnya pasokan, premi risiko besar telah terefleksikan dalam harga karena ancaman Trump.

Tidak mudah mengukur derajat besarnya dampak pemberlakuan kembali sanksi terhadap ekspor minyak dari Iran. Inilah alasan mengapa ekspektasi analis sangat bervariasi. Apakah ekspor akan terpengaruh sebesar 100 ribu atau 1 juta akan sangat bergantung oleh karakteristik sanksi baru ini.

Kondisi ini berdampak negative bagi sektor perbankan dan bisnis di Iran, dimana pada gilirannya akan memicu ketidak stabilan di Timur Tengah. Dalam jangka pendek, harga minyak mentah diperkirakan akan menyentuh setidaknya di level $80 per barel. (Lukman Hqeem)

 

 

Share:

Leave a reply