Odi Mulya akhirnya senang sikap perbankan gelontorkan modal produksi film

263
0
Share:

GuritaNews – Sektor Industri kreatif memiliki kuota Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 7,1 %, menurut data yang dicatat Bank Indonesia dan Bank Dunia.

Ada lima sektor industri kreatif sebagai penyumbang PDB terbesar, yakni ; Kuliner sebesar   32,51%, fesyen dan mode sebesar 28,29%, kerajinan sebesar 14,44%, percetakan dan penerbitan sekitar 8,11%, serta desain berkisar 3,90%.

Namun sebenarnya, sektor industri kreatif seperti film, juga memiliki kontribusi dalam memberikan kuota PDB nasional.

Dalam sebuah acara simposium bertajuk  ‘Membangun Komitmen Perbankan bagi Ekonomi Kreatif’ yang digelar pada 15 November lalu, Triawan Munaf, Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Berkraf), telah memperjelas betapa sektor dimaksud layak dilibatkan dalam unsur bantuan permodalan oleh perbankan nasional.

Baru baru ini, Produser Odi Mulya Hidayat, memaparkan kegembiranya, terkait aktualisasi daripada simposium tersebut, bahwa pada akhirnya ‘ada pihak bank yang lunak untuk mau berinvestasi di bidang film’

“Teknisnya kan sebenarnya, yah upaya saja, meyakinkan mereka (pihak bank) untuk mau menggelontorkan investasi atau permodalan sebuah produksi film,” jelas Odi kepada guritanews.com.

Sebenarnya bisnis dalam industri film tak lebih sebagai pertaruhan (dalam pemahaman ringkas) jika filmnya laku di tonton banyak orang dengan pemasukan angka penjualan tiket yang sangat besar melebihi jumlah modal produksinya,  maka produser akan medulang untung.

Jika sedikit yang menonton dengan perolehan penjualan tiket yang sarat minim bahkan dibawah angka produksinya, maka dipastikan merugi.

Namun sebenarnya, bukan berarti ‘abu-abu’ , sekedar perumpaan lunak saja ; saat si produser film mengajukan kredit modal untuk pembuatan film, setidaknya telah diketahui oleh pihak bank bahwa perusahaan tersebut sehat tidak dalam keadaan ‘miskin’ dan data produksi film (tentu dalam hal ini catatan box office) laris, yang di miliki oleh perusahaan rumah produksi tersebut memang punya track record bagus dalam menjual filmnya di bioskop.

Masalah jaminan apa yang harus di gelontorkan oleh pihak perusahan film, juga bukan persoalan yang menjadi ‘kerutan dahi’  bagi pihak bank, pun para rumah produksi juga memiliki asset yang layak di jaminkan.

“Inilah industri film, saya secara pribadi lewat visual bisnis dan komersil, harus bertahan dengan kejelian berhitung, semua produser saya yakin juga begitu. Bikin film yang bagus (sebagus apapun) tapi juga harus punya ‘magnet’ mendatangkan banyak penonton dong…?” jelasnya.

Apakah anda akan menjadi produser pertama yang bakal ‘bisa’ dibiayai pihak perbankan untuk memproduksi sebuah film?

“Yah semoga, Insya Allah, saat ini memang kami (saya dengan salah satu pihak bank) sedang diskusi terkait permodalan. Yahhh saya tetap meyakinkan mereka bahwa bisnis film tidak merugikan bank kok.. sangat menguntungkan..” pungkasnya. (Q2)

Share:

Leave a reply