Multitafsir cerita film Enak tho Zamanku-Piye Kabare

136
0
Share:

GuritaNews – Film Enak tho Zamanku-Piye Kabare yang disutradarai Akhlis Suryapati, hampir selesai menjalani proses akhir.

Rabu (20/9) lalu, trailer dan behind the scene film tersebut dipertontonkan dalam acara Kumpul Syukur selesainya produksi Enak tho Zamanku-Piye Kabare, di Jakarta.

“Ya, kami berkumpul setelah pekerjaan utama selesai,” kata QDemank Sonny Pudjisasono, produser Midessa Pictures yang memproduksi Enak tho Zamanku-Piye Kabare.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar, sekarang kami mempersiapkan film ini untuk segera bisa dinikmati oleh masyarakat.”

QDemank Sonny berharap, film ini akan memberi pencerahan pada masyarakat dalam menyikapi kekuasaan, tanpa harus tendensius mengkultuskan zaman tertentu.

Judulnya Enak tho Zamanku, bukan Enak Zamanku Tho. Bisa dibedakan frasanya.

“Nah daripada bingung ngeributin film Pengkhianatan G30S/PKI, maka film Enak tho Zamanku lebih jelas dan lugas nilai keberpihakannya pada moral. Tidak ada beban sejarah. Lha wong film fiksi.”

Film Enak tho Zamanku-Piye Kabare disebut-sebut sebagai film yang multitafsir.

Film ini mengusung genre drama action dan komedi, namun alur cerita, karakter para tokoh, serta adegan-adegan dan dialog-dialog dalam film ini, bisa cepat ditangkap sebagai simbol-simbol peristiwa yang memaparkan situasi tertentu dari sebuah kondisi sosial-politik kekinian.

“Tentu saja untuk menafsirkannya, hanya bisa setelah menyaksikan filmnya nanti,” kata Akhlis Suryapati.

“Terlepas dari berbagai kemungkinan adanya penafsiran macam-macam, film ini sangat menghibur, seru, dan segar-berisi.”

Ratu Erina (foto: kicky herlambang)

Enak tho Zamanku-Piye Kabare dibintangi artis-artis muda yang sedang naik daun, seperti Ismi Melinda, Panji Addiemas, Ratu Erina, Eko Xamba, dan Ananda George.

Mereka beradu akting dengan artis-artis senior seperti Soultan Saladin, Dolly Marten, Otig Pakis, Yurike Prastika, Riza Pahlawan.

Sejak dimulai syuting, film ini sudah mengambil perhatian karena judulnya yang mengambil frasa yang popular di masyarakat serta menjadi ungkapan yang identik dengan adanya kerinduan masyarakat terhadap tokoh Orde Baru Soeharto.

Ada yang menduga film ini membawa motivasi pencitraan dari kelompok tertentu.

Untuk hal itu Akhlis Suryapati tertawa menanggapi.

Ismi Melinda (foto: kicky herlambang)

“Bagus kalau misalnya ada pihak tertentu membiayai, apalagi kalau pihak Cendana,” katanya.

“Sayangnya, sampai hari ini yang ada untuk biaya produksi adalah uang Bung Sonny (produser) ditambah dikit-dikit dari saya. Gagasan membuat film ini pun dari kami berdua, seneng karena judul dan ceritanya terasa asyik.” (Q2)

Share:

Leave a reply