Miris….! gaji sangat kecil, seorang guru di Kamboja jadi perampok

Share:

GuritaNews – Seorang guru sekolah dasar di Kamboja, yang beralih profesi sebagai  perampok bersenjata, akhirnya berhasil ditangkap polisi setempat. 

Kepolisian Phnom Penh mengatakan bahwa Moeng Sary,  berusia 62 tahun,  yang menjadi buronan polisi selama lima tahun mengaku memilih jadi perampok karena gajinya sebagai guru sangat kecil.

Selama lima tahun Sary melakukan 37 aksi perampokan.

Dia kini didakwa dengan pencurian dan penggunaan senjata api tanpa izin, seperti dilaporkan Khmer Times.

Moeng Sary, mantan guru di Provinsi Prey Veng, Kamboja selatan, ini diidentifikasi polisi menyusul peristiwa perampokan sebuah toko perhiasan, dengan membawa lari perhiasan dan uang tunai senilai Rp1,5 miliar, setelah menganiaya pemiliknya.

Dua anak buah Sary diringkus lebih dahulu, yang memastikan bahwa Moeng Sary -lah pemimpin komplotan perampok tersebut.

Moeng Sary ditangkap secara kebetulan, saat aparat polisi sedang melakukan pemeriksaan sebuah proyek pembangunan di Phnom Penh.

Kepala polisi setempat, Chey Senghan, kepada Cambodia Post memaparkan bahwa Sary mengaku melakukan aksi perampokan karena gaji yang dimilikinya sangatlah keciL, hingga mendorong dirinya  memilih ‘berkarir’ sebagai perampok, di usianya yang uzur.

“Idenya sangat kekanak-kanakan, seperti remaja saja,” lanjut Senghan. (Q2)

Seorang guru sekolah dasar di Kamboja, yang beralih profesi sebagai  perampok bersenjata, akhirnya berhasil ditangkap polisi setempat.

Kepolisian Phnom Penh mengatakan bahwa Moeng Sary,  berusia 62 tahun,  yang menjadi buronan polisi selama lima tahun mengaku memilih jadi perampok karena gajinya sebagai guru sangat kecil.

Selama lima tahun Sary melakukan 37 aksi perampokan.

Dia kini didakwa dengan pencurian dan penggunaan senjata api tanpa izin, seperti dilaporkan Khmer Times.

Moeng Sary, mantan guru di Provinsi Prey Veng, Kamboja selatan, ini diidentifikasi polisi menyusul peristiwa perampokan sebuah toko perhiasan, dengan membawa lari perhiasan dan uang tunai senilai Rp1,5 miliar, setelah menganiaya pemiliknya.

Dua anak buah Sary diringkus lebih dahulu, yang memastikan bahwa Moeng Sary -lah pemimpin komplotan perampok tersebut.

Moeng Sary ditangkap secara kebetulan, saat aparat polisi sedang melakukan pemeriksaan sebuah proyek pembangunan di Phnom Penh.

Kepala polisi setempat, Chey Senghan, kepada Cambodia Post memaparkan bahwa Sary mengaku melakukan aksi perampokan karena gaji yang dimilikinya sangatlah keciL, hingga mendorong dirinya  memilih ‘berkarir’ sebagai perampok, di usianya yang uzur.

“Idenya sangat kekanak-kanakan, seperti remaja saja,” lanjut Senghan. (Q2)

Share:

Leave a reply