Pesan Dalam Pertunjukan Wayang Orang

419
0
Share:
Wayang Orang

GuritaNews – Menyerap pesan mendalam pada sebuah pertunjukan wayang orang memang punya catatan tersendiri bagi penikmatnya, bahwa sejatinya pagelaran wayang orang yang merupakan transformasi dari wayang kulit memang selalu bertutur dengan lega dan nyaman melalui medium cerita dan lakon serta karakter baik, jelek dan penengah.

Bisa disebut drama cerita dalam lelakon wayang ini juga memiliki kekuatan stroy telling dan dramaturgi seperti yang ada dalam film drama.

Pementasan wayang orang dalam cerita Trisara Tinayuh, adalah sebuah revolusi ringan yang kekinian, dalam hal penataan panggung yang tak lagi menggunakan backdroop bergambar, lalu eksplorasi para pemian yang lebih di bebaskan untuk berimprovisasi.

Lanskap cerita pewayangan sebenranya tak pernah kabur dari kisah leluhur Mahabarata dan Ramayana, namun demikian Trisara Tinayuh, yang di bungkus oleh Wayang Orang Sriwedari punya selera yang memikat dengan melakukan metamorfosa kisah-kisah klasik Mahabarata dan Ramayana.

Wayang Orang Trisara Tinayuh (foto : kicky herlambang/guritanews.com)

Premis sudah jelas, bahwa Trisara Tinayuh hanya sekedar menyampaikan kegelisaan akan pola prilaku manusia masa kini, yang kian menipis dan menjauhi hasrat untuk melekatkan adab ketimuran yang di wariskan nenek moyang. Lahirlah, keserakahan dan kezaliman, versi milenium yang kian memaksa kita untuk melakukan pergeseran nilai-nilai tradisional kepada modernisasi.

Wayang Orang Trisara Tinayuh (foto : kicky herlambang/guritanews.com)

Jika sosok Arjuna yang telah memegang erat tiga pusaka utama sebagai penyempurnaan dirinya, namun ia harus khilaf apa jadinya? Ketika pada suatu kesempatan pusaka itu raib, lalau Arjuna harus menimpakan masalah ‘darurat’ ini kepada orang disekililingnya, maka saling tuding pun terjadi. Jika negeri pewayangan Arjuna tdak ingin kacau balau lalu dimanakah ia harus berdiri semestinya? (Q2)

Share:

Leave a reply