Menikmati selera megah ‘The Great Wall’ Zhang Yimou

197
0
Share:

GuritaNews- Bagi anda yang belum menyaksikan film The Great Wall, arahan Zhang Yimou, pasti bertanya-tanya seberapa hebatnya keberanian sutradara kelahiran Tiongkok berusia 65 tahun ini memanjakan mata kita dengan sinematografi takjubnya.

Sebut saja aksi garapan kolosalsnya lewat ; Hero (2002), Curse of The Golden Flower (2006) yang sangat dramatik, atau saat kita melihat bagaimana ia bermain di angle-angle sulit dengan mengendalikan permainan ‘camera movement’ lewat pertarungan dramatik antara Andy Lau dengan Zhang Zi Yi serta Takeshi Kaneshiro dalam House of Flying Daggers (2004).

Cara-cara Yimou memaparkan sebuah ke-klasikan para jago-jago kungfu di eranya, memang serba terlaksana dengan penuturan yang mampu menyeret kita kepada masanya.

Bukan sekedar sinematografi dan teknik penyutradaraan, bahkan mengemas naskahpun , Yimou harus berkompromi dengan kemewahan kostum kolosal.

Lagi-lagi persoalan kostum menjadi kekuatan film ini untuk lebih terasa ‘taste’ nya.

Lihat saja betapa kemewahan dan kemegahan kostum yang dipakai ribuan figuran dan para aktornya yang serba ‘ciamik’ dalam Hero dan Curse of the Golden Flowers.

Lewat kolosal klasik The Great Wall, seperti kita ingiun menebak bahwa Yimou hendak menyempurnakan hasratnya untuk membuat sebuah kolosal ‘the best’ nya sepanjang karirnya sebagai produser dan sineas.

Betapa frame tembok cina dengan formula CGI (yang pasti mahal harganya) sangat membuat kita takjub.

Adegan bagaimana para aktornya lompat seperti terbang atau terjun kebawah dengan kawat seling dengan ‘green screen’ , nyaris tanpa cacat.

Untuk adegan lompat-lompatan bak pendekar kungfu sunguhan, Yimou (saya.penulis) anggap berhasil membut perbedaan jauh dengan film-film kolosal sebelumnya.

Penggunaan CGI untuk ‘blowing up effect’ The Great Wall juga terasa hidup dan masuk nalar, entah berapa ratus kilogram bubuk mesiu yang diledakkan demi membuat kedahsyatan ledakan dalam film ini.

Untuk ‘animasi animals’ , jangan khawatir, tampilan hewan buas bernama ‘Taotie’ cukup halus dengan balutan CGI nya.

Yimou juga sukses mempertahankan karakter para pemainnya ; Matt Damon, Andy Lau, Jing Tian, Willem Dafoe, Pedro Pascal, Eddie Peng, secra keseluruhan nyaris tampil dengan performa tanpa cacat.

Bahakn dalam persoalan dialog, Yimou menampilkan kompromi language yang sangat wajar, tidak mungkin tiba-tiba, Lin Mei (Jing Tian) sang komandan pasukan dan Wang (Andy Lau) yang penasehat strategi perang tiba-tiba mampu berbahasa Inggris.

Jasa Ballard, seorang tawanan yang mengajarkannya berbahsa Inggris.

Secara keseluruhan, The Grat Wall sebagai film epik fantasi telah membayar kerinduan kita untuk kembali menikmati film-film kolosal era kejayaan Tiongkok ribuan tahun lalu. (Q2)

Share:

Leave a reply