Menikmati film The Legend of Tarzan?

431
0
Share:

GuritaNews – Anda yang menggemari tokoh rekaan sang penguasa rimba berlabel Tarzan ini, tak perlu berharap besar , bagaimana Hollywood memberikan selera hiburan tentang kisah aksi heroiknya.

 

Kenapa? mudah saja menjawabnya, Tarzan adalah manusia berjuluk si raja rimba rekaan barat, yang ‘nasibnya’ dalam film harus seiring zaman.

Mudah saja mencerna karakter Tarzan millenium dalam film The Legend of Tarzan, cerita yang mudah di tebak dan bintang filmnya yang kelewat manis dan gagah.

Jadi, tidak ada yang lebih baik yang harus disuguhkan dari Tarzan buah tangan David Yates, dengan menjelmakan figur perkasa aktor kelahiran Swedia,Alexander Skarsgard maka jadilah tarzan tampan dan terlalu sweet untuk jadi raja rimba.

Yates ingi menjuju sasaran remaja, dan untuk itulah film ini di garap se-apik teknologi visual effect yang di bungkus.

Memang, pasti ciamik jadinya! hanya saja (saya penulis) seperti kehilangan ‘selera’ raja rimbanya.
bagi saya Yates agak tanggung menjabatkan chemistry antara hutan rimba dengan Tarzan.

Kok bisa? yah karena Yates sudah kadung asyik bermain dengan efek-efek eksotis sinema.

Wajah tampan dan manis Tarzan di dalam hutan belantara dan sosok asli bernama John Clayton lll alias Lord Greystoke yang sama saja saat menggunakan jas mahal sebagai figur di segani di London.

Tampilan visual tubuh kekar dan tinggi memang harus jadi jualan hebat dalam setiap film-film ala Tarzan, namun semestinya kejelian untuk tidak melenyapkan trauma hidup di hutan, justru akan mempertahankan karakter Tarzan ala Yates yang lebih sensitif untuk di nikmati.

Sorot mata Tarzan? sama sa kok asli milik Alexander Skarsgard, gak ada bau-bau Tarzansedikitpun.

Mungkin , akan lebih menghibur kjika film ini di bongkar untuk usia segala umur, dengan menampilkan sisi humor dan tradisi action yang tidak berdarah-darah, akan memebri kasanah berbeda tentunya.

Visual effect yang di garap Yates akan sangat pas bagi mata anak-anak, mungkin Yates bingung, trauma sukses film Harry Potter miliknya harus diupayakan sebanding dengan Tarzan buatannya.

Kalau Harry Potter jelas untuk segala umur, nah jika Yates mencoba mengolah penonton remaja, sementara anak-anak dibawah umur ingin menyaksikan bagaimana??

Sudah semestinya kekinian Tarzan, harus menjelma menjadi tontonan edukatif untuk anak-anak juga, seharusnya lho…

Menurut saya, Hollywood lagi bingung bikin film remake yang menjual saat ini.

Anda perhatikan ketika sekelompok pasukan hewan , teman-teman rimba Tarzan, menyerbu kota pelabuhan, yang dalam dialog diperkirakan ribuan orang yang bakal menjadi lawannya.

Nyantanya? ¬†saya kecewa, karena saya berfikir gerombolan hewan liar itu bakal baku hantam dengan musuh-musuh Tarzan yang dilengkapi senjata api dan artileri, oh… ternyata! film ini hanya ingin memanjakan mata dengan efek-efek CGI ala Hollywood.

Jika boleh memilih , saya masih terkesan dengan aktor Miles O’Keeffe yang sukses memerankan Tarzan , dalam Tarzan, The Ape Man (1981) ketibang Christopher Lambert (Greystoke: The Legend of Tarzan, Lord of the Apes, 1984) dan lainnya serta Skarsgard.

Jadi nonton pesona Alexander Skarsgard dalam The Legend of Tarzan, tak akan beda saat ia berperan sebagai vampir tampan nan ganas, Eric Northman dalam serial True Blood.

Tapi penampilan aktris kelahiran Australia, Margot Robbie memerankan karakter Jane Portes/Clayton, patut di acungi jempol!

Cocok kalau Hollywood mau mendapuk Margot Robbie dalam aksi petualangan Jane menjadi ratu rimba.

Mungkin kita juga ingin melihat seperti apa Jane menaklukkan rimba liar Afrika sebelum ia menikahi Tarzan?

Oh… Tarzan, legendamu kian tak keruan saja. (Q2)

Share:

Leave a reply