Mendikbud ‘sekolah sehari penuh’ Versus generasi ‘Game Online’

294
0
Share:

GuritaNews – Pemikiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, guna menerapkan sistem sekolah sehari penuh menuai pro kontra di media sosial.
Dalam keterangan persnya, kementerian pendidikan mengatakan ide ini muncul untuk memenuhi pendidikan karakter di sekolah, yang idealnya menurut Presiden Jokowi, diberikan sebanyak 80% (dari total kegiatan belajar mengajar) di tingkat sekolah dasar, dan 60% di tingkat sekolah menengah pertama.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, sistem sekolah sehari penuh (full day school – FDS) tidak melulu soal belajar di dalam kelas tetapi juga “dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.”

Namun, konsep ini banyak dikritik oleh pengguna media sosial.

Pemilik akun Facebook Zen RS menulis reaksinya ; Dalam sekali pukul, kebijakan ini semakin menjauhkan pendidikan nasional dari dunia yang riil, menggali jurang yang semakin dalam antara sekolah dengan kenyataan sehari-hari, sekaligus menanam ranjau yang akan mengamputasi kaki anak-anak kita sehingga tak bisa lagi berlari menjangkau horison imajinasi.

Pernyataan Zen RS juga mendapat beragam tanggapan seperti di kemukakan pemilik akun Facebook Adang Saripudin : Kalau yang di wacanakan full day adalah seharian belajar saya kurang setuju, tapi jika sehabis jam pulang sekolah diarahkan kepada kegiatan yang positif seperti ekstrakulikuler, diskusi, kerja kelompok dan pemberian skill dan pengembangan potensi untuk bekal dimasa depan dan kelak ketika sudah bermasyarakat saya setuju, karena jika dilihat para pelajar sudah jadi penerus jempol (gadget).

Sistem sekolah sehari penuh bukanlah hal baru dan sudah diterapkan oleh sejumlah sekolah di Indonesia.

Dalam sistem ini, umumnya siswa akan beraktivitas penuh di sekolah pada Senin hingga Jumat dan mendapat libur dua hari yaitu Sabtu dan Minggu.

foto3

Faktor tenaga pengajar/guru juga perlu terus menerus di evaluasi, bagaimana negara ini juga punya kemampuan menghasilkan para guru yang bermutu. (foto istimewa)

Sedikit kita menoleh terapan sistem pendidikan di negara Finlandia, dengan menggunakan pola belajar disekolah selama 5 jam , terbukti efektif untuk menghasilkan orang-orang pintar.

Sebuah situs media : Hipwee, pada tahun 2014, lewat tulisan Hardiana Noviantari pernah mengulas tentang kesuksesan Finlandia menghasilkan orang-orang pintar.

Dalam ulasannya dikatakan : Pelajar umur 15 di Finlandia justru berhasil mengungguli pelajar lain dari seluruh dunia dalam tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA). Itu membuktikan faedah dan efektivitas sistem pendidikan di Finlandia.

Tidak bermaksud agar negara ini harus menerus menjiplak kesuksesan negara lain, melihat kehebatan Finlandia, namun setidaknya -terutama- sistem pendidikan memang dibutuhkan bobot yang seimbang dengan kualitas masyarakatnya sendiri.

foto2

Apakah kita bangga melihat anak-anak kita menjadi generasi gadget?? Tanpa bekal kepintaran yang bisa mereka berikan bagi negeri ini?? (foto istimewa)

Kita menunggu saja apa yang dihasilkan dari pemikiran pak menteri tersebut, jangan terlalu dini untuk ‘ringan’ menarik kesimpulan.

Bangsa ini memang harus tumbuh segera dengan banyak pemikiran dengan langkah jitu tapi efektif, untuk mencetak generasi cerdas-kreatif tanpa melupakan nilai-nilai budaya.

Problem ‘menyadarkan’ generasi muda dari zaman dahulu juga bukan hal mudah untuk dilakukan, apalagi meluluh lantakkan ancaman narkoba yang kini menjalar ke hampir seluruh pelosok negeri, telah merusak generasi muda Indonesia.

Dan jangan sampai juga para pelajar Indonesia hanya lebih nyaman sepulang sekolah, malah sibuk memainkan dua jempol tangannya demi menjadi yang ‘hebat’ di pentas game online yang melekat dalam gadgetnya, problem kan..??? Apakah kita bangga melihat anak-anak kita menjadi generasi gadget?? Tanpa bekal kepintaran yang bisa mereka berikan bagi negeri ini??

Jika kelak wacana pak menteri ini dapat diwujudkan, tentu kita juga berharap lahirnya formula jitu untuk mencetak anak-anak bangsa yang berkualitas, namun juga perlu disertai tenaga pengajar / guru yang berstandar.

Faktor tenaga pengajar/guru juga perlu terus menerus di evaluasi, bagaimana negara ini juga punya kemampuan menghasilkan para guru yang bermutu. (Q2/Romsky)

Share:

Leave a reply