Mencegah Sakit Dengan Vaksinasi

393
0
Share:
Vaksinasi, mencegah lebih baik dari mengobati - dr. kristoforus

GuritaNews – Mencegah lebih baik dari mengobati, adalah kredo tentang kesehatan yang paling agung. Salah satu upaya mencegah sakit adalah dengan melakukan vaksinasi.

Pentingnya vaksinasi dalam mencegah merebaknya penyakit telah lama diakui oleh masyarakat dunia. Banyak penyakit dari yang tidak berbahaya hingga yang mematikan sekalipun, bisa dicegah dengan vaksinasi. Tak heran berbagai pemerintah didunia getol melakukan kampanye vaksinasi demi meningkatkan kesehatan rakyatnya.

Di Indonesia, vaksinasi juga sudah dikenal sejak lama. Bahkan pemerintah Indonesia secara khusus melakukan gerakan imunisasi bagi para balita. Pekan Imunisasi Nasional bahkan digelar untuk lebih banyak mengajak masyarakat melakukan tindakan pengebalan ketahanan tubuh dengan vaksinasi.

Jakarta Marketing Week, sebuah festival yang diinisiasi oleh mahaguru pemasaran Indonesia, Hermawan Kertawijaya kembali menghadirkan dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD. Ahli penyakit dalam yang juga CEO dari In Harmony Vaccination. Kali ini dr. Kristoforus mengangkat tema “Healthy World Through Vaccination” – menuju dunia yang lebih sehat dengan vaksinasi. Kegiatan ini bertempat di Mall Kota Kasablanka pada  Sabtu , 5 Mei.

Berangkat dari keprihatinan bahwa banyak penyakit yang ditangani selama ini sebetulnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengakui bahwa masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya bisa menerima vaksinasi.  Kondisinya masih mengkhawatirkan.

Tak heran sejumlah penyakit mematikan berkembang subur di Indonesia, mulai dari hepatitis hingga hiv/aids. Jumlah penderita Hapatitis di Indonesia sangat besar yaitu 28 juta jiwa, menempati peringkat 3 terbesar didunia. Menurut dr. Kristoforus, jumlah ini semestinya bisa dikurangi karena vaksin hepatitis telah ada di Indonesia sejak 20 tahun lalu.

Indonesia memiliki berbagai tantangan untuk menuju masyarakat sehat lewat vaksin. Menurut dr. Kristoforus terdapat sejumlah faktor yang menghambat. Diantaranya adalah munculnya resistensi dari masyarakat yang digelorakan oleh kelompok anti vaksin. Kemudian pemikiran skeptis masyarakat dan perilaku untuk beraksi ketika suatu peristiwa telah terjadi.

Kelompok anti vaksin, menurut dr. Kristoforus cukup signifikan dalam melakukan penolakan terhadap vaksinasi. Upaya mereka bahkan telah menurunkan partisipasi masyarakat dalam imunisasi. Tak heran seperti di Aceh dan Sumatera Barat, tingkat imunisasi balita menurun drastis, hingga sebesar 25% – 35% saja. Isu-isu konspiratif dan informasi yang menyesatkan menjadi alat propaganda kelompok anti vaksin ini.

Diantara kelompok-kelompok masyarakat, banyak pula yang skeptis dengan vaksin. Kelompok ini bebal meski sejumlah data-data dari pemerintah dan lembaga kesehatan telah menunjukkan penurunan angka kematian oleh peran vaksinasi.

Sementara itu ada sebagian anggota masyarakat yang memilih untuk melakukan vaksinasi jika telah terjadi sakit atau wabah tersebut menjangkit. Seperti kejadian difteri baru-baru ini. Dalam keterangannya, masyarakat ramai-ramai memburu vaksin difteri ketika kejadian ini merebak. Tingginya permintaan vaksin difteri bahkan membuat stok sampai kehabisan. Sayangnya, kini telah sepi kembali setelah bencana ini tertangani masyarakat enggan melakukan vaksinasi, jelas dr. Kristofous.

In Harmony Vaccination sendiri merupakan sebuah lembaga penyedia layanan kesehatan pencegahan, baik berupa vaksinasi ataupun imunisasi bagi semua kalangan usia. Klinik yang berada di bilangan Jalan Percetakan Negara Jakarta Pusat ini menjadi tempat praktik dr. Kristoforus selama ini. (Lukman Hqeem)

Share:

Leave a reply