Memboyong carut marutnya perfilman nasional dalam Kongres Peranserta Masyarakat Perfilman Pribumi

208
0
Share:

GuritaNews – Carut marut perfilman nasional, menggugah hasrat sejumlah tokoh dan insan film, untuk segera menggelar Kongres Peranserta Masyarakat Perfilman Pribumi (KPMPP) di Surabaya, pada 2 – 3 April 2018 mendatang.

Perhelatan akbar ini digelar sebagai sikap peduli sekelompok pegiat perfilman nasional yang wewadahi diri sebagai Peranserta Masyarakat Perfilman Pribumi, yang digagas oleh Sony Pudjisasono.

Pada kesempatan acara pra kongres yang di helat di hotel Sultan, Jakarta, Selasa (19/12) kemarin, Sony mengatakan bahwa tujuan kongres digelar berangkat dari keresahan dirinya dan rekan-rekan lainnya ‘melihat nasib Perfilman nasional yang kian tertindas oleh peran kapitalisme’

“Ayo bersama sama kita gerakkan nurani kita untuk tidak membiarkan film nasional kian merana di kalahkan kapitalisme barat” ungkapnya kepada guritanews.com, di sela acara.

Ajakan senada juga di paparkan ketua ASIREVI, Rully Sofyan bahwa ‘menjadi kewajiban kita untuk mempertahankan kondisi ini’

“Hollywood dengan produk kapitalisme nya, telah melakukan penetrasi dan infiltrasi di industri film kita tanpa batas dan tawar menawar lagi,” paparnya.

Rully Sofyan (foto : Kicky Herlambang)

“Kalau kita tinggal diam, maka film pribumi tak akan pernah jadi tuan rumah di negeri sendiri,” lanjutnya.

Sementara Kepala Pusat Pengembangan Film Kemendikbud, Dr. Maman Wijaya, mewakili pemerintah juga menyampaikan sikapnya berkaitan kongres tersebut.

Sony Pudjisasono dan Dr.Maman Wijaya (foto: Kicky Herlambang)

“Pemerintah akan sangat menyambut baik hasrat teman-teman disini. Dengan harapan, berawal dari pertemuan ini maka akan melahirkan draf materi pembahasan saat kongres nanti. Kami sangat apresiasi apapun hasilnya buang hendak disampaikan kepada pemerintah,” jelasnya.

Acara juga dihadiri Ketua PPFI HM Firman Bintang, Ketua KFT / Parfi Febryan Aditya, Ketua Senakki Akhlis Suryapati, serta lainnya.

Artis muda, Yenni Ermela, mengatakan ‘gagasan menggelar kongres ini sangat perlu, untuk menyampaikan banyak hal tentang iklim perfilman kita’

Yenni Ermela dan Pudjisasono (foto: Kicky Herlambang)

“Tak banyak orang tahu apa yang terjadi di dalam industri film kita”

Senada dengan Yenni, bintang FTV , Nada Kotto mengatakan jika dirinya sangat ingin terlibat dalam kongres nanti.

“Jika diperkenankan untuk turut serta saya siap! Bahkan saya juga akan ajak rekan-rekan artis lainnya untuk ambil bagian” jelasnya.

Nada Kotto (foto: Kicky Herlambang)

Begitu pun juga di tegaskan pesinetron dan penyanyi cantik Cut Mila, bahwa ia yakin kegiatan ini akan memunculkan atmosfir baru nantinya.

“Kongres ini kan juga berbicara banyak hal, terutama sistem dan undang-undang perfilman kita yang belum maksimal di terapkan,” ujarnya m

Cut Mila dan produser BIC Pictures, H.Firman Bintang (foto: Kicky Herlambang)

Perfilman nasional memang menjadi tema issue menarik berbagai kalangan yang terlibat didalamnya.

Dari mulai pembahasan kualitas sineas dan film, para pekerja film, tema film hingga perhelatan masalah kuota layar bioskop, yang masih menjadi kegelisahan beberapa produsen film  Indonesia.

Persoalan kuota layar (yang diberikan  exhibitor)bakala menjadi tema panas pada kongres nanti.

Perfilman nasional dengan segala bentuk dan problematiknya, memang kerap menjadi perhatian publik.

Namun ketika industri Hollywood kian bertahta di layar bioskop nasional, melalui penetrasi dan infiltrasinya, mutlak sudah bahwa publik seperti hendak mengasingkan diri dari polemik lokal tadi, yang hanya sederhana saja, dengan kesimpulan pabrikan kapitalisme praktis lebih renyah di cerna masyarakat.

Lalu bagaimana pemerintah dan kita harus bersiasat??

Tak perlu formula jitu, asalkan kita semua sepakat untuk rapat-rapat membuat batas arus penjajahan budaya tersebut, mungkin pada akhirnya masyarakat dipaksa untuk berani kembali kepada nasib budaya lokalnya sendiri.

Hanya saja pembuatan batas juga perlu konsistensi pemerintah tentunya, dalam merumuskan sistem yang pro pribumi, bahwa tak perlu lagi negeri ini merasa seperti Nyaman di jajah!

Kongres Peranserta Masyarakat Perfilman Pribumi, mungkin akan menjadi contoh besar sebagai upaya mencari dan membungkus jawaban bagaimana menuntaskan persoalan carut marutnya perfilman nasional. (Q2)

Share:

Leave a reply