Melongok industri film dan budaya Indonesia di dalam ‘lanskap’ Eco-futuristik

397
0
Share:

GuritaNews – Pada abad 21, kita berada dalam era “Revolusi Informasi”, milyaran informasi melintas di seluruh dunia setiap hari.

 

Setiap orang dapat berkomunikasi dengan orang lain kurang dari satu menit.

Untuk pertama kalinya, kita memiliki kemampuan dalam berbagi informasi diantara sesama dengan cepat.

Ada kutipan: “siapa yang menguasai informasi, mengontrol dunia”!

Dunia menjadi begitu global, seolah-olah kita semua menjadi sama, tidak ada keragaman, dan orang-orang menjadi kehilangan identitas.

Kita secara sistematis menghilangkan budaya dan sejarah kita sendiri; kita menjadi ketergantungan pada perangkat keras, mesin informasi.

Kita lupa bahwa kita adalah manusia dengan identitas yang unik dan berbudaya, adalah perangkat lunak dengan identitas kesadaran: kesadaran sosial, kekuatan mental dan spiritual yang membuat kita menjadi pilar kemanusiaan.

Dalam antisipasi dan mengimbangi revolusi informasi ini, perlu menjadi prioritas utama menciptakan sebuah Industri budaya yang akan mendorong seni dan budaya menjadi salah satu sumber daya yang penting dalam mempertahankan identitas dan nilai-nilai kehidupan bangsa.

Dengan tujuan memberi dukungan dalam pembangunan dan pengembangan sebuah kota Eco-futuristik yang berkelanjutan dengan menghasilkan devisa untuk negara serta mencapai Soft Power (baca: diplomasi budaya) Indonesia.

Seandainya, kita melihat dari perkembangan Industri budaya secara global, Industri kreatif akan tumbuh luar biasa besarnya, di negara-negara dengan populasi terbesar di dunia, seperti Tiongkok, India dan Amerika.

Yang menarik adalah strategi kebudayaan Korea Selatan mampu mempromosikan “Hallyu” (Korean Wave/Gelombang Korea) untuk menjadi Industri Kreatif Korea terkenal secara global.

Hallyu adalah istilah dalam industri hiburan Korea Selatan, ditengah mendunianya budaya pop Korea.

Negara Korea Selatan dengan populasi <52 juta menjadi negara kelima di mana masyarakatnya lebih memilih untuk menonton film produksi negerinya sendiri.

Praktis! film pabrikan  Korea Selatan bertahan menjadi tuan rumah di negaranya sendiri:

Pada tahun 2014, Industri Budaya Korea Selatan,”Hallyu” atau “Hánliú”, mengalir dan penyebaran Korean Wave dengan pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan>US$ 11,800,000,000 (perkiraan tahun 2015 sekitar US $ 12,1 milyar).

Sementara Tiongkok adalah negara yang berhasil membangun Industri Kreatif, melalui Film, Televisi, Interne t& hiburan lainya.

laskar-pelangi

Box office tertinggi film Indonesia, masih setia dipegang oleh “LaskarPelangi”- 2008 dengan raihan penonton 4,6 juta (foto ; istimewa)

Pendapatan Film box office Tiongkok melonjak lebih dari 59% pada tahun 2015 dengan grosses pertahun $6.2 milyar, ini adalah pertumbuhan laju tercepat di dunia.

Film “Monster Hunt” yang disutradarai Raman Hui, berhasil menjadi film dengan pendapatan Box Office tertinggi di Tiongkok, sebesar US$ 385.200.000 , pada 2015.

Pasar film Tiongkok – sudah menjadi terbesar kedua di dunia – dalam perkiraan akan melampaui perfilman Hollywood, pada tahun 2020.

India bersama Bollywood-nya, menjadi negara dengan kuota produksi film terbesar di dunia, produksi film India bisa mencapai 1.000 judul per tahun.

Industri film India adalah terbesar ke-3 di dunia dengan estimasi pendapatan tahunan >2,5milyar dolar.

Sepuluh tahun tahun terakhir, banyak film-film Bollywood tayang Internasional, termasuk di Eropa dan Amerika.

Amerika dengan industri Hollywood-nya, telah memposisikan diri sebagai negara penghasil Box Office Film di dunia.

Kantong box office Hollywood mencatat film “StarWars: The Force Awakens”, mencapai pendapatan box office di seluruh dunia dengan grosses lebih dari $2,068,223,624, pada tahun 2016.

Pada tahun 2009 film box office “Avatar” bisa mencapai rekor tertinggi pendapatan kotor seluruh dunia sebesar $ 2,787,965.087.

Ini adalah prestasi paling dahsyat yang pernah dicapai oleh film Hollywood dalam sejarah perfilman dunia.

Pada 2015, jumlah pendapatan film Amerika seluruh dunia mencapai US$ 26,608,100,000 (terdiri dari, pendapatan  kotor domestik : 40,4% = $ 10,743,600,000 dan Internasional : 59,6% = $ 15,864,500,000).

 

Sementara Indonesia memiliki populasi ke-4 yang terbesar di dunia,potensial pasarnya adalah 5 kali lebih besar dari Korea Selatan, tetapi Industri Budaya belum berkembang.

Industri filmnya hanya menghasilkan <200 film per-tahun.

Sebagian besar film diproduksi dengan anggaran kecil dan pendapatan tahunan grosses hanya<$100juta US dolar.

Mayoritas film nasional dipasarkan untuk penonton lokal.

Box office tertinggi film Indonesia, masih setia dipegang oleh “LaskarPelangi”- 2008 dengan raihan penonton 4,6 juta( masih berbanding jauh dengan film Korea Selatan, “The Admiral: Roaring Currents” – 2014 dengan >17,6 juta penonton di negerinya sendiri).

Padahal dengan populasi sekitar 250 jutaan, Indonesia hanya perlu mengambil jumlah sepuluh persennya saja sebagai potensi penonton film nasional.

Mutlak menjadi tantangan bagi para Sineas Indonesia, untuk tampil dengan mengusung karya-karya film bermutu, namun tetap diperlukan dukungan dan partisipasi semua kalangan baik dari masyarakat, akademisi, swasta, dan terutama pemerintah.

Yang pastinya, potensi komunikasi sosial dan pasar ekonomi belum sepenuhnya di eksplorasi secara komprehensif.

Jika pengembangan strategi komunikasi di industri film nasional dapat dihubungkan sejalan dengan pengembangan industri kreatif; maka sejatinya akan menempatkan Industri Budaya Indonesia menjadi yang terbesar ke-4, serta menjadikan Soft Power (baca: diplomasi budaya) Indonesia sebagai salah satu pilar dunia.

Kita berandai saja -namun bukan tidak mampu diwujudkan- jika kelak suatu hari Indonesia membangun Kampung Seni dan Budaya, dalam Industri Budaya di sebuah pulau yang indah nan eksotik di negeri ini, demi menjadikan tata kota tersebut sebagai kota Eco-futuristik di Dunia.

Fitur pemikiran disertai pemahaman lunak, kerangka Eco-futuristik adalah membangun fisik Industri Kreatif dengan mewujudkan ranah penelitian, pengembangan dan pusat pendidikan yang nantinya dijadikan sebagai sentra hiburan dan edukasi, seperti film, musik, game, seni, fashion, kuliner, pariwisata,taman tema,informasi hubungan, dan lainnya,dengan mengedepankan khas pusat Seni dan Budaya Maritim di bagian selatan bumi ini.

Eco-futuristik bertujuan mewarisi,adat istiadat, seni, budaya dan keseimbangan alam dalam mencapai masyarakat yang manusiawi antara manusia dan lingkungan alam semestanya. (Q2/Romsky)

Share:

Leave a reply