Melepas rindu sambil reunian dengan Jason Bourne yuk…

237
0
Share:

GuritaNews – Dijamin pasti bahwa Jason Bourne hanya akan berlepas rindu dengan aksi heroik serta perburuannya yang penuh aksi.

Menjumpai Matt Damon dalam film Jason Bourne di bioskop, tak pelak sebagai ajang reuni ‘saja’ bagi para penggemar berat agen Bourne.

Sutradara Paul Greengrass memang belum punya keberanian untuk menggarap ‘selera’ action yang mesti berbeda dalam film agen Bourne kali ini.

Terbukti , Jason Bourne , dari awal hingga akhir nyaris sama dengan 3 film Bourne yang dibintangi Matt damon.

Dari mulai seting lokasi yang selalu meng-angle Eropa sebagai alasan klasik asal muasal ‘dosa’ para agen rahasia Amerika.

Seperti halnya agen Ethan Hunt dalam Mission Impossible, basis eropa adalah dagangan cerita yang layak dijual hingga kini.

Mengingat ribuan spionase Amerika bertebaran di eropa – yang ‘berdosa’ akan aksi kejahatannya membantai musuh-musuhnya, demi sebuah informasi atau dianggap sebagai musuh negara.

Bak ‘mahalnya’ film-film aksi pabrikan Hollywood, setiap episode Bourne juga bukan dengan biaya rendah di produksi.

Film The Bourne Identity (2002) di buat dengan biaya produksi sekitar 60 juta dolar Amerika, The Bourne Supremacy (2004) dengan biaya sekitar 75 juta dolar.

Sementara The Bourne Ultimatum memulainya dengan biaya produksi sekitar 110 juta dolar, lalau diikuti oleh The Bourne Legacy (dibintangi Jeremy Renner) dengan biaya produksi meningkat berkisar 125 juta dolar.

Namun demikian angka pendapatan ‘terbaik’ box office dari keempat episode film yang diadaptasi dari novel thriller karya mediang Robert Ludlum itu, hanya The Bourne Identity lah yang masyur dengan pendapatan kotor sekitar 442 juta dolar, tiga sekuel lainnya masih di bawah.

Kembali dengan Jason Bourne, mengapa film ini hanya menuansakan kenangan atau hanya mengajak kita untuk reuni belaka?

Banyak adegan aksi dan laga yang dikemaspun sebenarnya juga tak beda dengan beberapa Bourne pendahulunya, aksi kejar-kejaran dengan brutal, serta kebut-kebutan kendaraan dengan menghancurkan banyak properti mahal khas Bourne, sebenarnya bukan barang baru.

Tapi inilah ciri-ciri Jason Bourne, akan banyak yang hancur lebur, tewas, jadi pesakitan ketika dia beraksi.

Mungkin pihak Universal Pictures tidak ingin kehilangan kontrol komersilnya, bahwa film ini harus punya tenaga sekuat mungkin untuk medulang untung ratusan juta dolar, jika bertahan dengan ‘nostalgia’.

Hanya sayangnya, judul Jason Bourne yang kita anggap sebagai akhir petualangan Bourne di layar lebar rupanya memang tak ingin berakhir sampai disini.

Bourne harus ‘menjajal’ lapang hati saat harus kembali kehilangan gadis yang lekat dengannya, agen Nicky Parsons (Julia Stiles), yang harus pensiun dalam Bourne kali ini.

Karakter baru pun yang ‘sebenarnya’ mirip dengan Nicky Parson pun dimunculkan.

Agen Heather Lee (Alicia Vikander), yang berperan tak beda jauh dengan Nicky, dipajang untuk memberikan bumbu humanis, yang berperan penting terhadap keselamatan Bourne dan agensi.

Bagi saya, tokoh Nicky dimatikan  hanya karena aktris Julia Stiles, memang tak lagi muda dan sudah cukup lama ia mengikut sepak terjang Bourne, kurang lebih begitu.

Setidaknya bagi anda yang telah datang ke bioskop maka anda telah reuni dengan Jason Bourne/Matt Damon, reuni untuk mengupas kisah klasik dirinya yang ‘nyaris’ samar terungkap dalam tema kali ini. (Q2)

Share:

Leave a reply