May Day, Buruh Indonesia Akan Deklarasikan Embrio Partai

249
0
Share:

GuritaNews – Hari Buruh Sedunia atau May Day 2016 akan berbeda dengan peringatan serupa sebelumnya.

Tahun ini kelompok buruh akan mendeklarasikan organisasi multisektoral bernama Rumah Rakyat Indonesia. Organisasi ini dipersiapkan sebagai cikal bakal lahirnya partai politik yang digagas kaum buruh.

Ketua Umum Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia, Ilhamsyah, mengatakan selama ini peringatan May Day hanya mengampanyekan tuntutan buruh kepada pemerintah. Beberapa di antaranya penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing, serta kenaikan upah layak nasional.

Namun menurut Ilhamsyah, tuntutan itu tak kunjung didengar pemerintah, apalagi direalisasikan. Maka buruh mulai menentukan posisi politiknya. Mereka tidak percaya lagi kepada pemerintah dan partai politik yang ada saat ini.

“Kami tidak percaya kepada negara dan partai borjuasi. Kesadaran hari ini, buruh harus ikut menentukan arah kebijakan negara,” ujar Ilhamsyah saat ditemui di sekretariatnya, Tanjung Priok, Jakarta.

Gagasan untuk membentuk partai politik untuk buruh sebenarnya telah muncul tahun lalu. Namun realisasinya dimulai dengan pembentukan organisasi embrio tahun ini.

Meski diinisiasi kelompok buruh, kata Ilhamsyah, organisasi tersebut untuk mewadahi aspirasi kelompok lain seperti petani, nelayan, mahasiswa, dan perempuan.

Rencananya deklarasi akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, setelah buruh menyampaikan tuntutan mereka di Istana Negara esok siang, Minggu (1/5). Deklarasi juga akan digelar serentak di 32 provinsi di Indonesia.

Ilhamsyah menyangkal partai politik yang digagas kelompok buruh semata mengejar keikutsertaan pada Pemilu 2019. Selama empat kali pemilu era reformasi, menurut dia, pemerintah tidak melakukan perubahan signifikan terkait arah kebijakan negara.

“Kebijakan yang bertumpu pada modal asing semakin menjerat bangsa Indonesia ke cengkeraman kapitalisme global. Negara tidak punya posisi tawar terhadap pemodal asing,” kata Ilhamsyah.

Dampak kebijakan itu ikut dirasakan buruh. Upah murah, ujar Ilhamsyah, membuat buruh kesulitan memenuhi kebutuhan hidup layak. Dia pun menuding pemerintah tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya, tapi malah melindungi para pemilik modal.

“Kenapa upah murah selalu dipertahankan pemerintah, kontrak outsourcing tidak mau dicabut, ini keputusan politik. Upah murah dijadikan daya tarik untuk mengundang investasi asing. Negara dikendalikan kaum pemilik modal,” kata Ilhamsyah.

Ia yakin partai yang lahir dari kaum buruh mampu bersaing dengan partai politik yang ada saat ini. Dia mengklaim, hanya gerakan buruh yang memiliki massa terbanyak dan terorganisasi dari pusat hingga daerah.

“Kami yakin dengan kekuatan kaum buruh yang terorganisir, dengan jumlahnya yang mayoritas, bisa bertarung dengan mereka melalui jalur pemilu,” katanya.

Share:

Leave a reply