Lanskap elok Ciwidey dalam “Meet me after Sunset”

225
0
Share:

GuritaNews – film “Meet me after Sunset” yang diperankan para bintang muda ; Maxime Bouttier (Vino), Agatha Chelsea (Gadis), juga Billy Davidson (Bagas) memiliki warna drama ramaja yang berbeda dengan varian genre di kelasnya.

Film arahan Danial Rifki – yang sebelumnya menggarap Haji Backpacker (2014) – ini, sarat memanjakan mata dengan ke-elokan nuansa hijau Ciwidey dengan lanskap lembah dan danau alam Situpatenggang.

Gambar-gambar indah berhasi terekam dengan baik lewat sinemtografi yang di arahkan dengan baik oleh Gunung Nusa Pelita (Tuyul part.1 , 2015) dengan bungkusan editing grading dan CGI (Computer Generated Imagery) hasil olahan Syarif Hidayat (Malaikat Tanpa Sayap, 2012) berhasil menajdikan Meet me after Sunset lahir dengan kolaburasi warna.

Billy Davidson (foto ; kicky herlambang/guritanews.com)

Tak bermaksud melebih-lebihkan film parikan MNC Pictures ini (dengan segala tradisi masing-masing kreatornya) , film yang di produseri Lukman Sardi ini memang di tata sedemikian rupa dengan memaksimalkan DOP dan SOP hingga menjadikan Meet me after Sunset seperti kompak dengan warna ceritanya.

Drama romantikan remaja ala trio Vino, Bagas dan Gadis memang ingin memaparkan etika dan moral; secara tak langsung.

Tanpa adegan ‘mesra-mesraan’ dengan berpegangan tangan antara lelaki dan perempuan, berpelukan, apalagi ciuman (baik itu pipi atau kening) seperti sering kita jumpai pada genre romansa remaja lainnya.

Agatha Chelsea (foto ; kicky herlambang/guritanews.com)

Namun, tetap kita harus memberi point bagus, bahwa se-sempurna apapun sebuah film , tetap hasil perbuatan tangan manusia yang teka lepas dari kelemahan.

Alur cerita seputar gundah gulanak tiga remaja ini, memang belum tergali secara emosional.

Atau boleh disebut hambar dengan greget, mungkin kadung film ini telah meresap dan bermanja ria dengan grading color dan efek CGI tadi yang secara terang-terangan meleluasakan view-view indah alam pegunungan.

Maxime Bouttier (foto ; kicky herlambang/guritanews.com)

Bahkan, keindahan sunset (matahari terbenam) dengan merah jambunya, hanya dapat kita nikmati di akhir cerita.

“Secara teknis memang tidak mudah untuk mendapatkan detail sunsetnya, tapi kita lakukan memang demi mendapatkan keindahan alam Ciwidey itu sendiri. Jadi kita putuskan untuk pengambilan gambar pada siang hari lalu kita tambal dengan CGI,” jelas Rifki kepada guritanews.com, usai screening Meet me after Sunset di Jakarta, Jum’at (9/2) petang lalu.

“Bahkan kunang-kunang yang tampil dalam film inipun semuanya adalah CGI, karena ternyata mendapatkan hewan mungil bercahaya ini sangat sulit di sana,” tambahnya.

Margin Wieheerm (foto ; kicky herlambang/guritanews.com)

Paling tidak bagi anda yang sangat menggemari film-film dengan jualan pemandangan, Meet me after Sunset menjawabnya dengan sinematografi yang mulus.

Soal akting? penampilan Maxime, Billy dan Agatha Chelsea cukup memuaskan.

 

Pun film ini juga sedikit meramu cerita dengan ‘twist’ , yang sengaja untuk mengayun cerita.

Tunggu Meet me after Sunset di 22 Februari ! (Q2)

Share:

Leave a reply