Krisis Percaya Diri Masih Jadi Alasan Orang Merokok

263
0
Share:

GuritaNews – Pada abad ke 19, rokok atau tembakau awalnya hanya diperuntukkan untuk pria dan tidak diperbolehkan untuk wanita.

Sekitar tahun 1920, ketika emansipasi wanita dan persamaan gender mulai digembar-gemborkan, wanita perlahan ikut merokok.

Meski demikian, dari sudut pandang secara psikologis, ada efek yang berbeda ketika pria atau wanita merokok.

Dalam hal ini, tak sedikit pria yang merasa lebih maskulin ketika merokok. Anggapan ini berkembang dikalangan mereka para pria, yang kemudian menjadikan stigma bahwa pria yang tidak merokok itu tidak keren.

“Tak bisa sepenuhnya disalahkan, perkembangan pemikiran tersebut karena secara historis, rokok memang berkorelasi dengan laki-laki,” kata Psikolog Marcelia Lesar.

“Secara psikis pria merasa maskulin ketika merokok karena terkait pada sosial kultural, yang mana pola merokok ini dikondisikan untuk pria.”

Lainnya, terkait pada karakteristik kepribadian, yang kemudian berkembang di masyarakat. “Dalam pandangan sosial, pria perokok itu karakteristiknya cenderung terkait dengan sifat yang ekstrovert, pemberontak, serta berani mengambil risiko. Dengan kata lain, maskulin,” ujar Marcelia saat dihubungi CNNIndonesia.com, belum lama ini.

Terakhir, Marcelia mengatakan, kedekatan rokok dan pria juga terkait pada konsep hegemoni. Kaum pria beranggapan bahwa daya tahan tubuh mereka lebih kuat dari perempuan, jadi tidak lebih rentan terhadap bahaya rokok.

“Dengan merokok, laki-laki merasa lebih kuat dari wanita, yang mana sesungguhnya, dari segi anatomi dan biologi, tingkat kerentanan laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda,” ungkapnya.

Jika ditelisik lebih dalam, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku merokok berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri.

“Perilaku ini untuk menutupi rasa tidak percaya diri, selain itu rasa di dalam masyarakat terlebih khusus antara kaum laki-laki, dia merasa kurang ‘laki’, kalau tidak merokok,” ungkap wanita yang akrap disapa Marcel ini.

Berdasarkan hasil survei independen yang dilakukan CNNIndonesia.com secara acak melalui sosial media dari 20-26 Mei, diungkapkan bahwa 23 persen responden merokok karena adanya ledekan teman, selain ajakan.

Selain itu, satu yang menarik ditemukan pada survei tersebut, bahwa lima persen dari mereka tertarik untuk membeli rokok karena promosi langsung yang ditawarkan oleh Sales Promotion Girl atau SPG. Menurut, Marcelia hal inipun kembali pada efek maskulinitas.

“Kalau tertarik dengan seorang perempuan yang good looking, besar kemungkinan dia menunjukkan sisi kelaki-lakiannya dengan mengatakan sebagai perokok. Walaupun sekarang ada banyak yang berani bilang dia tidak merokok,” ujarnya.

Perihal perubahan persepsi merokok dengan asosiasi keren dan maskulin, Marcelia mengatakan itu tidak mudah. “Mengubah suatu kebiasaan yang sudah berlangsung berabad-abad dan dipercayai bahkan diimani para pria tak hanya di Indonesia, tapi juga di segala bangsa, bukanlah hal mudah,” sebutnya.

Marcel mengatakan, cara paling kuat mengubah cara pandang masyarakat adalah melalui tayangan iklan.

“Sekarang, sudah bisa dilihat pergeserannya. Ada kesetaraan gender dalam media advertising, termasuk juga soal rokok,” kata Marcel.

Selain itu, lingkungan juga merupakan faktor yang berpengaruh dalam mengubah kebiasaan merokok. “Yang namanya lingkungan, secara tidak langsung akan terbawa dan terpengaruh signifikan apalagi lingkungan yang intensitasnya tinggi,” imbuh dia.

Untuk itu, Marcel menyarankan, mereka yang tidak nyaman dengan rokok, atau berniat berhenti merokok, bisa mengurangi intensitas bergaul di lingkungan tersebut. “Bukan berarti tidak berteman lagi, tapi kalau tahu itu lingkungan perokok berat, intensitasnya saja yang dikurangi,” tuturnya.

Share:

Leave a reply