Konsumsi Daging Kambing Saat Idul Adha

113
0
Share:

GuritaNews – Saat Idul Adha tiba, sajian daging kambing banyak tersaji di atas meja.

Nikmat memang rasanya, tapi terkadang, mendengar namanya saja bisa membuat orang jadi was-was saat menyantapnya.

Penyebabnya tak lain karena stigma daging kambing sebagai pemicu munculnya masalah dengan kolesterol, hipertensi, atau asam urat. Namun sebenarnya, Anda tak perlu merasa takut dan pantang menyantap. Banyak ahli yang sudah menyebut bahwa mengonsumsi daging kambing tidaklah menjadi sebuah masalah, asal sesuai dengan kaedah tertentu.

“Buat mereka yang memang sekali-kali makan daging memang tidak ada masalah jika mengosumsi daging kurban,” kata Ari Fahrial Syam, ahli penyakit dalam sekaligus profesor gastroentrologi, Departemen Penyakit Dalam, Universitas Indonesia, seperti dalam siaran pers yang diterima, beberapa waktu lalu.

Hanya saja, anggapan daging kambing yang mengandung kolesterol tinggi sudah telanjur mengakar di masyarakat. Padahal, menurut referensi kandungan nutrisi Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA, daging kambing memiliki kandungan kalori, lemak total, lemak jenuh, protein, dan kolesterol lebih rendah dibandingkan ayam, sapi, babi, dan domba.

Per 85 gram daging yang dimasak, daging kambing memiliki kalori sebesar 122, sedangkan ayam 162 kalori, sapi 179 kalori, babi 180 kalori, dan domba 175 kalori. Dari segi lemak pun daging kambing memiliki kandungan paling sedikit. Per 85 gram sajian, daging kambing memiliki lemak 2,6 gram, ayam sebesar 6,3 gram, sapi sebesar 7,9 gram, babi sebesar 8,2 gram, dan domba 8,1 gram.

Kandungan kolesterol daging kambing juga paling rendah, yaitu 63,8 miligram per 85 gram penyajian. Ini lebih rendah dari ayam yang memiliki kandungan kolesterol sebanyak 76 miligram, sapi dan babi sebesar 73,1 miligram, serta domba sebanyak 78,2 miligram.

Meski secara hitungan kalori dan kandungan lemak daging kambing tergolong rendah, namun bukan berarti tak memiliki aturan dalam mengonsumsinya. Mengutip beberapa saran dari para ahli, merangkum sejumlah kaedah bagi Anda yang ingin menyantapnya.

1. Kenali Teknik olahan

Mengenali teknik olahan membantu Anda memahami kondisi terbaik untuk menikmati daging kambing. Beberapa teknik memasak untuk daging merah cenderung tidak sehat, misalnya dibakar dan digoreng. Teknik memasak seperti ini akan menghasilkan heterocyclic amines yang diyakini dunia kesehatan sebagai pemicu kanker pada manusia.

Olahan lainnya yang kerap dipakai dalam memasak daging adalah menggunakan santan dan garam yang banyak, seperti gulai. Kondisi ini menjadi masalah bagi sebagian orang karena menambah lemak serta garam yang memicu penyakit kardiovaskular seperti kolesterol dan hipertensi.

2. Hindari Jeroan dan bagian tertentu

Jeroan kambing termasuk favorit di kalangan masyarakat seperti pada soto babat atau tongseng. Namun, jeroan dan beberapa organ seperti torpedo sebenarnya tidak sehat bagi tubuh. Menurut Ari, jeroan-jeroan kambing atau sapi dapat meningkatkan kadar asam urat darah.

“Bagi pasien yang memang penderita hipertensi, kadar kolesterol darahnya tinggi (dislipidemia), kadar asam urat darahnya tinggi (hiperuresemia), penderita kencing manis dan kegemukan, harus ekstra hati-hati dalam mengonsumsi daging kambing atau sapi selama masa hari raya kurban,” kata Ari.

Bagian lain yang harus dihindari adalah iga kambing karena mengandung banyak lemak. Kepala Divisi Metabolik Endokrim Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Em Yunir mengatakan baiknya memilih bagian daging yang kadar lemak lebih rendah seperti paha.

“Komponen lemak kambing yang masih muda belum tinggi dan harus diimbangi dengan asupan sayur dan buah. Kalau makan apel atau tomat, saya sarankan makan juga kulitnya agar serat yang dikonsumsi semakin banyak,” kata Yunir.

3. Walau tensi rendah jangan asal makan kambing

Bagi sebagian orang yang menderita tekanan darah atau tensi rendah, daging kambing kerap menjadi sasaran makanan dengan alasan agar meningkatkan tensi. Namun, ternyata cara ini justru membawa masalah baru.

Tekanan darah rendah bisa disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena perdarahan, kurang minum sampai dehidrasi karena berbagai sebab, kelelahan atau kurang tidur. Tekanan darah rendah juga dapat disebabkan karena gangguan jantung, baik karena kelainan katup atau serangan jantung bahkan gagal jantung.

Namun ketika mengonsumsi daging, apalagi berlebihan, maka dampak yang muncul adalah sembelit dan memicu naiknya asam lambung sehingga dapat memperparah kondisi. Ini belum termasuk dampak jangka panjang seperti peningkatan kadar lemak dan kolesterol darah.

4. Kenal waktu dan tidak berlebihan

Di hari raya kurban sebagian masyarakat mungkin mendapatkan daging dalam jumlah besar. Untuk itu, Ari mengingatkan, jika daging berlebihan tersebut dikonsumsi dalam waktu pendek, maka tentu akan menyebabkan masalah kesehatan.

Dampak langsung yang bisa saja terjadi ketika makan daging berlebihan adalah sembelit. “Jika daging dikonsumsi berlebihan menjelang tidur maka akan merangsang terjadinya refluks isi lambung sehingga dapat mengganggu tidur,” kata Ari mengungkapkan.

Menurut Ari, daging kambing maupun daging sapi adalah sumber protein hewani yang baik. Protein dalam daging amat dibutuhkan untuk pembentukan hormon, enzim, protein darah, juga untuk mengganti dan memperbaiki sel yang rusak.

Karenanya bagi mereka yang jarang makan daging merah tak menjadi masalah menikmati daging kurban. Namun tentu mesti dilakukan jangan sampai berlebihan.

Share:

Leave a reply