Kelewat ‘sibuk’ dengan selebrasi KARTINI, lupa..! ada sejarah bernama Rahmah El Yunusiyah

647
0
Share:

guritanews – Sejarah adalah bentukan penguasa, pendapat yang hingga kini masih berlaku, termasuk dalam hal gerakan emansipasi wanita di Indonesia, yang dalam catatan sejarah nasional di pelopori oleh RA Kartini.

Buku sejarah di sekolah-sekolah tingkat dasar hingga menengah menyebut bahwa gerakan kesetaraan perempuan itu mutlak di motori asal-muasalnya oleh sosok perempuan Jawa yang cerdas kelahiran Jepara bernama Kartini.

Kartini tak lain sebagai sosok perempuan yang harus menerima kenyataan bahwa tempat perempuan itu di rumah, yakni hanya sebatas mengabdi kepada suami.

Pergolakan prinsip dan karakter perempuan Indonesia saat itu, secara perlahan di bangun oleh Kartini, demi sebuah cita-cita : membentuk kesetaraaan mutlak antara perempuan dan kaum lelaki.

Singkat kisah, upayanya ditengah keterbatasan tersebut kian sempurna lantaran Kartini wafat dalam usia 25 tahun pada tahun 1904.

Selanjutnya, nama besar Kartini praktis terbentuk oleh banyak pihak khususnya kolonial Belanda yang hendak mencoba mengambil hati penduduk nusantara lewat politik etis atau politik balas budi.

Boleh jadi emasnsipasi wanita yang digelontorkan Kartini, berkembang ketika pemerintah kolonial dengan sukses membuat doktrin empiris tentang emansipasi wanita, yang tak lagi setara dengan pemikiran Kartini, hingga kini.

Yang terlupakan oleh kita pasca wafatnya Kartini, adalah selang 19 tahun kemudian di Padang Panjang,Sumatera Barat, seorang perempuan muda bernama Rahmah El Yunusiyah yang lahir pada 20 Desember tahun 1900, telah lebih dahulu sukses mewujudkan apa yang -sebenarnya- baru saja diimpikan mediang R.A Kartini itu.

Usai menempuh pendidikan dasar formal selama 3 tahun, perempuan muslim bernama Rahmah El Yunusiyah ini melanjutkan dengan pelajaran keislaman serta bahasa Arab dan Latin di Diniyah School (1915) yang diasuh dua orang kakaknya, Zaenuddin Labay El Yunusi dan Muhammad Rasyid.

Rahmah El Yunusiyah

Rahmah El Yunusiyah

Sekolah tersebut menerapkan pola ko-edukasi, alias laki-laki perempuan belajar dalam satu kelas.

Selain belajar di sekolah sang kakak, Rahmah juga belajar fiqh lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah (orang tua almarhum Buya Hamka) di Surau Jembatan Besi.

Rahmah tercatat sebagai murid perempuan pertama yang ikut belajar di Surau Jembatan Besi saat ia berusia 15 tahun,

Keputusan belajar lebih dalam itu di ambil Rahmah karena dirinya harus berbaur saat belajar di kelas yang sama dengan murid laki-laki.

Namun, perempuan tidak bebas mengutarakan pendapat, serta tidak berwewenang menggunakan haknya dalam belajar.

Apalagi banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene-nya laki-laki, sementara para murid perempuan enggan bertanya.

Di sisi ini, Rahmah merasa gerakan kaum muda Minangkabau yang berfokus pada masalah pendidikan belum masuk ke hal kesetaraan gender.

Rahmah merasa, perempuan belum menjadi subjek setara pria dan akan tetap dalam kebodohan paradigma patriakhi itu.

Menurut Rahmah, kebodohan masyarakat atau umat Islam bermula dari kebodohan di rumah atau keluarga.

Padahal, rumah tangga adalah tiang masyarakat, sementara masyarakat adalah tiang negara.

Maka, kemajuan sebuah masyarakat juga harus dimulai dari mendidik dan memajukan gender perempuan.

Untuk itu, sejak awal, dirinya sangat sadar peran terbaik untuk perempuan adalah menjadi pendidik.

Anak-anak berkualitas lahir dari ibu yang berkualitas, serta hasil dari olah didik yang juga berkualitas.

Tentu yang dimaksudnya adalah bagaimana pemikiran ini menjadi terang menderang diterima kaum lelaki, pembuktiannya adalah Rahma memulai sebuah ‘action’ untuk mewujudkan sebuah label emansipasi.

Seraya berjalan waktu, keinginan besar untuk mengeluarkan kaumnya keluar dari kebodohan, mendapat dukungan penuh dari Zainuddin Labay.

Tak butuh waktu lama, pada tanggal 1 November 1923, saat ia berusia 23 tahun, bersama teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyyah School) ia berhasil mendirikan sekolah khusus perempuan bernama Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat.

Secara garis besar, Rahmah merumuskan tujuan pendidikan dari Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, dalam satu frasa, “Membentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT”.

Murid pada tahun pertama iitu berjumlah 71 orang yang sebagian terdiri dari ibu-ibu muda, termasuk putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo Rasuna Said.

Kelompok ibu-ibu muda yang mendapat kesempatan belajar itu mendapat nama khusus yaitu “Sekolah Menyesal”.

Pada tahun pertama, pola belajar-mengajar masih menggunakan system halaqah, atau duduk menghampar dengan diajar oleh seorang guru.

Dua tahun kemudian, ia menerapkan sistim pendidikan sekolah modern yang menggabungkan pendidikan agama, pendidikan sekuler dan pendidikan keterampilan secara klasikal.

Keteguhan hati Rahmah mendapat ujian, sebuah gempa hebat mengguncang kota itu pada tahun 1926.

Bangunan sekolah dan asrama permanen yang baru ia rintis hancur total.

Rahmah El Yunusiyah Ribuan murid datang dari berbagai penjuru tanah air’

Namun ia berusaha untuk langsung bangkit.

Rahmah membangun kembali sekolahnya dengan batangan bambu dua lantai berukuran 12×7 m2 dan menghimpun kembali para muridnya.

Upaya tersebut masih kurang, bersama pamannya ia menjelajahi Aceh, Sumatera Utara, hingga menyeberangi Selat Malaka untuk mencari bantuan dana ke Malaysia.

Usaha itu tak sia-sia karena selain berhasil mengumpulkan dana cukup besar, keluarga-keluarga sultan di Malaysia juga mengirim anak-anak perempuan mereka ke sekolah tersebut.

Sejak kembali beroperasi setelah gempa besar tersebut, Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini mencatat kemajuan besar.

Ribuan murid datang dari berbagai penjuru tanah air.

Hal itu tak lepas dari sifat dirinya yang open minded alias mau menerima hal-hal baru dan positif.

Salah satunya adalah mendatangkan datangkan guru senam asal Amerika untuk melatih kebugaran para murid sekolah tersebut.

Diantara ribuan siswa yang berhasil beberapa diantaranya adalah, Menteri Sosial kerajaan Malaysia Tan Sri Datin Aisya Ghani.

Sosok yang membuktikan bahwa anak didik Rahmah tak hanya sukses sebagai wanita yang berfokus pada pembentukan keluarga dan anak-anak muslim yang berkualitas, namun juga memberi kontribusi kepada masyarakat.

Selian Datin Aisya Ghani, ada juga nama Siti Zubaidah dan Siti Sakinah, keduanya adalah mantan ketua Dewan Partai Islam se-Malaysia (PAS).

Fakta diatas menjadi bukti bahwa sekolah ini mampu melahirkan perempuan-perempuan berkualitas yang mampu memberi sumbangan signifikan kepada masyarakatnya.

Pengakuan bahwa Rahmah adalah pelopor pendidikan khusus perempuan Indonesia juga datang dari Universitas Kedua tertua dunia yakni Al Azhar di Kairo, Mesir.

Itu berawal saat Grand Syeikh Universitas itu Syaikh Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Putri tahun 1955.

Syaikh Abdulrahman tertarik dengan pola pendidikan yang dijalankan Rahmah.

Sepulangnya dari kunjungan tersebut, Universitas yang berdiri pada masa Perang Salib ini membuka pendidikan khusus Perempuan yang bernama kulliyyât al-banât.

Karena sejak didirikan, Al Azhar belum memiliki sekolah pendidikan khusus perempuan.

Rahmah diundang ke Mesir pada tahun 1957 untuk menghadiri peresmian sekolah khusus itu, sekaligus untuk menerima gelar Syaikhah atau Doktor Honoris Causa.

Sebuah gelar yang sangat langka untuk warga luar jazirah Timur Tengah, apalagi kepada seorang wanita.

Gelar tersebut diberikan karena Rahmah dianggap ahli dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu agama Islam.

Rahmah adalah juga pelaku aktif emansipasi wanita.

Sebab di kancah politik, namanya tercantum dalam struktur Dewan Pimpinan Pusat Partai Masyumi di Jakarta tahun 1952-1955.

Dilanjutkan dengan menjadi anggota dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan

Rakyat Sementara untuk periode tahun 1955-1958.

Itu pula yang barangkali membuatnya menjadi pendukung gerakan PRRI Sumatetra Tengah pada tahun 1957-1958.

Meski demikian padatnya napak tilas ikhtiarnya, sejarah memang tidak berpihak kepadanya, sebagaimana nasib yang juga dialami pentolan PRRI yang umumnya berasal dari Partai Masyumi.

Pengucilan dan pengkerdilan secara politik juga dialami oleh Rahmah, baik saat Presiden Soekarno masih berkuasa, hingga di era rezim orde baru Presiden Soeharto.

Terbukti sampai sekarang, karya besarnya berupa sekolah yang masih berdiri megah belum mendapat penghargaan semestinya.

Rahmah belum tercatat sebagai figur yang diakui sebagai pahlawan nasional.

Persis sama dengan mayoritas petinggi Partai Masyumi yang bergabung dengan PRRI.

Semakin ironis jika melihat Rangkayo Rasuna Said sejak jauh hari sudah diangkat menjadi pahlawan nasional, serta menjadi nama untuk satu jalan utama ibu kota.

Kenyataan diatas sangat bertolak belakang dengan perlakuan kepada RA Kartini.

Kumpulan surat korespondensinya yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht, yang oleh sastrawan Armin Pane juga diterjemahkan dengan makna yang tak semestinya, menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, seolah-olah jauh lebih memberi pengaruh kepada perjuangan perempuan Indonesia.

Buku yang semestinya diterjemahkan menjadi “Dari Kegelapan Menuju Cahaya Tuhan”, sebuah kalimat yang ada dalam salah satu Ayat Qur’an itu seperti jimat dan mantra, bahwa wanita Indonesia sudah diwakili oleh Kartini.

Sosok yang rela jadi Istri kedua seorang Wedana yang sebelumnya telah lebih dahulu menceraikan tiga orang perempuan.

Maka wajar saja, bila 21 April yang menjadi tanggal peringatan emansipasi wanita Indonesia, masih berkutat pada peringatan tahunan yang isinya lebih kepada pengenaan busana kebaya. Hanya sekedar symbol dan pakaian.

Kering tanpa makna. Sebab sumber inspirasi utamanya bukan sosok Kartini sendiri melainkan Mr. J.H. Abendanon, seorang Belanda yang secara budaya dan mental sangat berjarak dengan Kartini.

Atau dalam bahasa konspiratif, Abendanon berhasil menyingkirkan karya besar yang telah dibuat Rahmah El Yunisiyah karena berpotensi mempercepat keruntuhan dominasi Eropa.

Pada saat yang sama, ia sengaja mengangkat karya Kartini yang masih di ranah ide sebagai sebuah “mahakarya”, namun secara isi tak akan menggangu kenyamanan Belanda sebagai penjajah, minimal dalam jangka pendek.

Gertrude Bell

Dunia hingga kini masih mencatat nama besar Gertrude Margaret Lowthian Bell (14 July 1868 – 12 July 1926), perempuan asal Inggris yang berkelanan hampir di banyak penjuru jazirah Arabia, dalam momentum politik, eksplorasi, budaya, peperangan.

Bell tercatat sebagai perempuan karismatik yang oleh Pangeran faisal (saat itu) dijuluki Queen of  The Desert.

Di akhir hayatnya Bell dimakamkan di kota Baghdad, Iraq, mungkin ini tempat pemakamannya sebagai penghormatan kepada dirinya atas peran sertanya menyatukan beberapa wilayah jazirah saat itu, yang terkotak oleh empiris mungil di tengah gurun.

Bell jua lah permpuan yang pernah meramalkan bahwa saat pangeran Faisal kelak menjadi raja, maka dia akan memimpis dua menyatukan dua negeri yakni ; Iraq dan Syria saat itu.

Lalu kenapa kita tidak malu hati, ketika asyik berpuluh tahun lamanya bahkan (jika perlu) seratus tahun, melupakan jasa-jasa besar Rahmah El Yunusiyah..???

Silahkan nilai kenyataan ini, mempercayai sejarah bentukan penguasa, atau mencoba terbuka kepada fakta bahwa penyimpangan masih terpelihara.?? (naskah ditulis oleh : Oleh: Wem Fauzi / editor : Q2/Yok)

Share:

Leave a reply