Kegagalan dan paradigma baru pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan

399
0
Share:
sumber daya

GuritaNews – Pendekatan holistik dalam pengelolaan sumber daya alam telah lama dikenal, namun dalam praktek pengelolaannya sumberdaya masih dilihat secara terpisah untuk memenuhi tujuan sektoral.

Keputusan pengelolaan secara sektoral tanpa koordinasi yang efektif dengan sektor lain, seringkali berdampak negatif pada ketersediaan sumber daya secara keseluruhan.

Sebagai contoh, di Indonesia, ekspansi yang cepat dari perkebunan dan perindustrian telah memperkuat perekonomian nasional dan mengangkat banyak produsen kecil keluar dari kemiskinan.

Namun, juga telah menyebabkan tingginya deforestasi, konversi rawa gambut, hilangnya keragaman hayati, peningkatan emisi CO dan kebakaran hutan.

Hal ini juga memiliki dampak negatif pada kesehatan manusia dan memaksa terjadinya migrasi dari daerah dampak.

Kesadaran atas berbagai masalah kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan telah mendorong berbagai pihak untuk mengadopsi pengelolaan lansekap berkelanjutan sebagai basis pembangunan berkelanjutan.

Berbagai agenda internasional, termasuk negosiasi iklim global, New York Declaration on Forest dan Bonn Challenge juga mendorong percepatan adopsi pengelolaan lansekap berkelanjutan.

Melihat gerakan global yang menyepakati bahwa skala lanskap merupakan pendekatan yang paling tepat untuk mewujudkan konsep pembangunan berkelanjutan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor (DKSHE-IPB) melalui Divisi Manajemen Kawasan Konservasi, menggelar lokakarya nasional bertajuk “Pengelolaan Kawasan Konservasi dalam Konteks Pembangunan Berkelanjutan”di Taman Tekno IPB, Kamis (20/10/2016).

Lokakarya dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof Dr Yonny Koesmaryono, Ia meyakini pengelolaan kawasan konservasi dalam lanskap yang beragam merupakan hal yang menarik untuk dikaji di masa depan.

” Saya mengapresiasi upaya-upaya menuju pengelolaan lanskap berkelanjutan dan semoga hasil lokakarya ini menjadi barokah untuk negeri dan bagi kita semua,” ujar Prof. Yonny dalam sambutannya.

 

Kegagalan dan Paradigma Baru Pengelolaan Sumberdaya Alam Berkelanjutan

Lokakarya bertujuan meng-arusutamakan paradigma baru pengelolaan sumberdaya alam pada skala lanskap secara berkelanjutan dan kaitannya dengan pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.

Acara diikuti 120 peserta dari perwakilan para pihak, baik pemerintah, swasta, LSM, mahasiswa, pakar, dan konsultan yang bekerja di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

Pemakalah utama, Ir. Haryanto, MS, membawakan materi “Pergeseran Paradigma Pengelolaan Kawasan Konservasi dalam konteks Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan”.

Materi menyoroti kegagalan pengelolaan sumber daya alam secara global ketika upaya dan inisiatif yang dibangun untuk menguatkan aspek konservasi bagi ekosistem melalui paradigma pembangunan berkelanjutan tidak dapat menghambat laju kehilangan sumberdaya hayati (biodiversity loss).

“Dengan kerangka pikir saat ini, kehadiran manusia cenderung menurunkan keseimbangan dinamis berbagai subsistem alam hingga batas yang tak terpulihkan. Jika dan hanya jika terbangun kesadarankolektif yang tinggi atau kesadaran sang khalifah, manusia akan menemukan peran fitrahnya dalam mempertahankan kelestarian jasa ekosistem di muka bumi,” ringkasnya.

Lebih lanjut, inti dari masalah kelestarian SDA adalah masalah cara pikir dan sistem nilai manusia.

Sejalan dengan hal tersebut, materi selanjutnya yang dibawakan Prof.Hadi Alikodra menekankan bahwa kualitas yang ditemukan di alam, termasuk kayu, air bersih, kehidupan liar, keanekaragaman spesies, dan lansekap yang indah dapat dianggap sebagai SDA yang digunakan untuk kesejahteraan umat manusia dalam jangka panjang.

Ide ini dikembangkan lebih lanjut melalui konsep pengelolaan lansekap, yang menempatkan prioritas pengelolaan untuk kesehatan dan pemulihan ekosistem serta spesies liar.

Guru besar konservasi tersebut menyoroti pentingnya koridor untuk konektivitas keragaman genetik antar kawasan konservasi.

Koridor satwa inipun oleh KLHK telah ditetapkan menjadi bagian kawasan ekosistem esensial,”Keuntungan utama adanya kawasan yang berfungsi sebagai koridor satwaliar adalah membantu restorasi dan proteksi kehati serta pertukaran bahan genetik diantara habitat utama. Keuntungan lainnya adalah mereduksi erosi, memperbaiki kualitas air, menghasilkan habitat lokal maupun menjaga iklim setempat,” imbuhnya.

Kedua paparan diatas semakin dilengkapi oleh presentasi ZSL (Zoological Society of London) mengenai program Kelola Sendang (Sembilang-Dangku) di Sumatera Selatan yang mengimplementasikan kemitraan pengelolaan lanskap berkelanjutan, termasuk penyediaan koridor satwa dari kawasan konservasi yang terfragmentasi, yaitu TN Sembilang Berbak dan SM Dangku.

Direktorat Kawasan Konservasi juga memberikan gambaran state of the art perkembangan kawasan konservasi di Indonesia dan perannya bagi pengelolaan lanskap dan penekanan bahwa konsep pengelolaan lanskap berkelanjutan juga sejalan dengan kebijakan yang telah dicanangkan pemerintah mengenai Cagar Biosfer dan Kawasan Strategis Nasional.

 

Pengarusutamaan Pembangunan Lanskap Berkelanjutan

Divisi Manajemen Kawasan Konservasi menyadari adanya kebutuhan untuk meng-arusutamakan pembangunan lansekap berkelanjutan ini agar dapat diadopsi para pelaku dan pemerhati konservasi sumberdaya alam, termasuk bagi akademisi perguruan tinggi.

Lokakarya dilanjutkan dengan diskusi terfokus yang membahas 3 isu utama, yaitu :

1. Kurikulum, bahan ajar dan agenda penelitian mengenai pengelolaan kawasan konservasi dan peranannya dalam pengelolaan lanskap berkelanjutan (Sustainable Landscape Management).

2. Agenda penguatan kapasitas para pihak untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dalam konteks pengelolaan lansekap berkelanjutan.

3. Kelembagaan jejaring para pihak untuk mengembangkan mekanisme “shared-learning” dalam pengelolaan lansekap berkelanjutan yang mendukung pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.

Hasil dari lokakarya ini menjadi landasan rangkaian workshop berikutnya dalam mengembangkan kesamaan framework dari para inisiator manajemen skala lanskap, penyusunan program aksi riset, penyusunan program dan agenda peguatan kapasitas para pihak pada beberapa tapak yang relevan, serta pengembangan jejaring. (***)

Share:

Leave a reply