Intrik Captain America vs Iron Man Rasa Avengers

335
0
Share:

GuritaNews – Avengers di ambang dilema. Mereka tidak lagi dilihat masyarakat hanya sebagai pahlawan super. Sebagian, seperti kata Sekretaris Negara Thaddeus Ross (William Hurt), juga menganggap mereka kelompok berbahaya.

Itu menyusul aksi penyelamatan oleh Captain America (Chris Evans), Falcon (Anthony Mackie), Black Widow (Scarlett Johansson), dan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) di Lagos.

Setiap aksi Avengers memang tak bisa menghindari korban masyarakat sipil. Demikian pula di film sebelumnya, Avengers: Age of Ultron, saat tim pahlawan super itu menyelamatkan Sovokia, kota basis kelompok Hydra.

Karena itu, Avengers pun diberi dua pilihan. Tak lagi boleh beraksi sendiri, melainkan di bawahi Badan Dunia. Atau main hakim sediri dan bakal dianggap kriminal. Dari situlah dua kubu Avengers mulai tercipta.

Iron Man (Robert Downey Jr.) memilih tanda tangan. Alasannya, selain agar Avengers tetap ada dan bersama, juga untuk kembali merebut kepercayaan publik. Tapi Captain America punya pemikiran sendiri. Ia memilih mangkir.

Menurut Sang Kapten, Badan Dunia selalu punya agenda. Itu bisa berganti-ganti sesuai masa kepemimpinan maupun kepentingan. Bisa jadi suatu saat mereka diminta tidak bertindak meski sebenarnya harus.

Dua pendapat yang sama-sama keras itu menciptakan perpecahan. Black Widow, War Machine (Don Cheadle), dan Vision (Paul Bettany) sependapat dengan Iron Man. Sementara Falcon bersama Captain.

Scarlet Witch dijaga untuk tetap netral, dan Hawkeye (Jeremy Renner) memilih bebas dari keduanya: pensiun.

Perselisihan antarkubu meruncing ketika Winter Soldier alias Bucky (Sebastian Stan) muncul dan sebagian dirinya mengingat sang kawan lama, Steve Rogers alias Sang Kapten. Kondisi itu pun dimanfaatkan pihak ke-tiga yang dendam pada Avengers.

Perang pun pecah. Avengers yang di film-film sebelumnya begitu solid, harus mengerahkan kekuatan supernya untuk melukai satu sama lain. Padahal di sisi lain, masih ada masalah masa lalu Bucky yang belum terselesaikan.

Tapi ini bukan soal siapa menang dan siapa kalah.

Seperti biasa, sutradara Anthony dan Joe Russo selalu berhasil memukau penonton lewat dentuman-dentuman aksi di awal film. Mengawali film dengan kejadian masa lalu, penonton dibuat mengernyitkan dahi karena penasaran.

Rasa penasaran itu sejenak terlupakan saat kedua sutradara menyentak dengan aksi Captain America cs di Lagos, yang ternyata berkaitan dengan dilema Avengers. Winter Soldier kemudian dimunculkan di saat yang tepat, untuk mengaitkan perasaan penonton yang terombang-ambing memilih sisi antara dua pahlawan super, dengan masa lalu sekaligus aksi yang lebih dahsyat.

Meskipun, penonton sempat dibuat agak bingung dengan latar lokasi yang terus berganti-ganti dengan durasi singkat.

Tapi efek visual yang tak perlu diragukan lagi, didukung penggunaan kamera khusus untuk IMAX di beberapa adegan besar, mampu menutupi itu. Belum lagi intrik yang diselingi banyolan-banyolan segar khas Marvel.

Sayangnya, Russo bersaudara seolah lupa bahwa ini film Captain America: Civil War, bukan sekuel Avengers. Porsi Sang Kapten bisa dibilang terlalu sedikit dibanding kebersamaan Avengers secara keseluruhan. Meskipun, tak bisa dipungkiri persoalan intinya lebih menyangkut pribadi Captain.

Namun dengan menampilkan Captain America beraksi dengan beberapa personel Avengers sejak awal film, penonton lebih terbuai oleh kebersamaan mereka, bukan Sang Kapten.

Sutradara seolah terjebak menghadirkan euforia pahlawan super secara massal, tidak lagi sempit pada salah satu tokoh seorang. Cerita memang bisa sangat berkembang, tetapi apa gunanya film lepas berjudul salah satu karakter, jika lagi-lagi membicarakan kebersamaan kelompok Avengers, meskipun tanpa Thor dan Hulk?

Tapi dibanding film perang antarpahlawan yang sebelumnya disuguhkan DC Comics, Batman v Superman: Dawn of Justice, masalah dalam Captain America: Civil War lebih terasa matang, kompleks, dan hidup. Soal adegan aksi dan efek visual mungkin sama, tapi pembangunan film ini juga unggul soal karakter.

Captain America terlihat lebih tegas, meski juga lebih serius. Iron Man, tetap dengan gaya sombong dan slengekannya, ternyata punya sisi sensitif yang tak disangka sebelumnya. Falcon terkadang memecah kebosanan dengan celetukan sederhana tapi konyol. Black Widow, tetap dengan gaya independen tapi tetap setia kawan.

Namun dari semua adegan dan karakter, kalau boleh bertepuk tangan atau sekadar mengacungkan jempol, yang paling membuat puas adalah kemunculan Spider-Man baru (Tom Holland).

Bocah remaja yang baru mendapat kostum Spidey dan menjadi pahlawan super paling muda di film itu, seperti dalam trailer Captain America: Civil War, muncul secara mengejutkan tapi menimbulkan kesan amat mendalam.

Melalui debutnya itu, Holland membuktikan ia bisa “menghapus jejak” pemeran Spider-Man sebelumnya, Tobey Maguire dan Andrew Garfield. Ia sukses sebagai remaja tanggung yang labil dan “rookie” soal pahlawan super. Setiap melihat pahlawan super mengeluarkan kemampuannya, bahkan jika itu untuk menyerangnya ia berkata: “Luar biasa!”

Pertemuan pertamanya dengan Iron Man pun langsung menjadi adegan yang mencuri perhatian. Demikian pula dialog-dialog yang mampu ia ucapkan secara menggelitik. Holland sukses menciptakan karakter Spidey-nya sendiri. Meski hanya muncul beberapa menit, ia bak ice breaking untuk film.

Demikian pula Ant-Man (Paul Rudd). Secara karakter ia memang tak menonjol. Tapi kemampuan supernya membesar dan mengecil mampu mengejutkan seluruh pahlawan super kecuali Falcon yang memang sudah pernah berhadapan langsung dengannya.

Salah satu adegan Ant-Man pun layak disebut mencuri perhatian, saat seolah ia jadi pahlawan untuk pahlawan super.

Secara keseluruhan, Captain America: Civil War masih mampu menghadirkan kejutan demi kejutan di tiap adegan, meski sudah banyak rumor beredar soal itu. Bahkan bagi pembaca komiknya, film ini masih mampu memberi kejutan.

Captain America: Civil War tayang global pada 6 Mei 2016. Namun Asia mendapat keistimewaan menontonnya terlebih dahulu. Di Indonesia dan Asia Tenggara, Captain America: Civil War bisa disaksikan 27 April 2016.

Pada Rabu (20/4) malam, media dari beberapa negara di Asia seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Korea, bahkan Selandia Baru, memenuhi Great World City, bioskop Golden Village Singapura untuk menonton perdana film yang kabarnya berbujet sangat besar itu.

Tim Captain America sendiri—Evans, Mackie, Stan, didampingi sutradara Joe—datang pada Kamis (21/4) untuk menyapa penggemar di Marina Bay Sands sekaligus berpose di karpet biru. Mereka juga akan premiere di MasterCard Theater, Marina Bay Sands.

Hari ini, Jumat (22/4) akan ada aksi lampu khusus untuk Captain America. Itu merupakan bagian dari promosi film. Captain America kebagian promosi ke Asia, sementara Iron Man menantangnya dari belahan dunia lain, yakni Eropa.

Share:

Leave a reply