Inovasi terapi baru tersedia untuk pasien kanker Limfoma Hodgkin di Indonesia

482
0
Share:

GuritaNews – Jakarta, Indonesia, 17 Januari 2018 – PT Takeda Indonesia pada konferensi pers hari ini mengumumkan sebuah inovasi terapi terbaru bagi para pasien kanker Limfoma Hodgkin di Indonesia.

“Di Takeda, kami terus mendorong ekspektasi di dunia onkologi melalui ilmu pengetahuan yang transformatif, kemitraan yang inovatif dan dedikasi penuh dalam membantu pasien,” jelas Kwa Kheng Hoe, Presiden Direktur, PT Takeda Indonesia.

“Takeda terus berkomitmen untuk menciptakan terapi-terapi inovatif kepada pasien kanker di seluruh dunia. Limfoma Hodgkin merupakan penyakit yang tidak umum dan mematikan. Untuk itu, fokus utama kami saat ini adalah untuk meningkatkan perhatian publik di Indonesia terhadap penyakit ini.”

Jenis Kanker yang Umumnya Menyerang Kelompok Usia Remaja dan Dewasa Muda

“Kanker Limfoma Hodgkin adalah kanker yang menyerang sistem kelenjar getah bening yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh,” jelas Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPDKHOM, Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik (PERHOMPEDIN). “Meski penyakit ini dapat menyerang siapa saja, data menunjukkan mayoritas penderitanya ada pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Lebih dari sepertiga kasus ditemukan pada usia 15-30 tahun1 dan menyumbang sekitar 20 persen dari total jumlah kasus limfoma.”

Secara global, lebih dari 62.000 orang terdiagnosa Limfoma Hodgkin dimana sekitar 25.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini.

Di Indonesia, angka kasus baru Limfoma Hodgkin pada tahun 2012 mencapai sebesar 1.168, dengan jumlah kematian sebesar 687.4 Menurut data Globocan, angka ini diprediksi akan mengalami peningkatan di tahun 2020, dengan kasus baru sebesar 1.313 serta angka kematian sebesar 811.

Angka kematian yang tinggi di Indonesia terkait erat dengan keterlambatan pendeteksian, sehingga mengakibatkan sebagian besar kasus kanker sudah berada pada stadium lanjut.

“Sayangnya, karena tidak umum, banyak masyarakat tidak mengenal faktor risiko dan gejalanya,” tambah Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPD-KHOM. “Padahal, 80 persen dari kasus Limfoma.

Hodgkin dapat disembuhkan melalui kemoterapi jika terdeteksi dini5. Untuk itu, penting untuk tidak meremehkan benjolan pada tubuh, meski ukurannya kecil.”

Penyebab, Gejala dan Faktor Risiko.

Gejala paling umum dari Limfoma Hodgkin diantaranya benjolan pada kelenjar getah bening yang ditemui di daerah leher, ketiak dan pangkal paha.

Gejala lainnya termasuk demam atau meriang, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas hingga sebesar 10 persen atau lebih, kelelahan yang berlebihan dan kekurangan energi, kehilangan nafsu makan, batuk yang berkepanjangan, pembesaran limpa dan/atau hati.

Inovasi dan Teknologi Terapi Baru.
Pada Limfoma Hodgkin, kombinasi kemoterapi awal dapat memberikan respon yang bertahan lama.

Namun demikian, petugas kesehatan di Indonesia menyatakan sebanyak 20 persen dari pasien tersebut akan mengalami relaps (atau kambuhnya penyakit limfoma) atau refrakter (tidak memberikan respon) terhadap pengobatan awal.

“Prognosis pasien dengan kondisi relaps dan refrakter biasanya lebih buruk dan akan lebih sulit untuk disembuhkan,” jelas Dr. dr. Dody Ranuhardy, SpPD-KHOM, MPH, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik (PERHOMPEDIN).

“Namun, dengan perkembangan teknologi dan terapi baru, harapan kesembuhan bagi para pasien dengan kondisi relaps dan refrakter dapat meningkat. Terdapat beberapa opsi pengobatan Limfoma Hodgkin di Indonesia. Salah satu inovasi terkini adalah pengobatan Antibody Drug Conjugate (ADC), yang dikategorikan sebagai terapi bertarget (targeted therapy). Terapi bertarget dapat membantu mengirimkan agen yang kuat ke sel kanker yang menjadi target terapi ini, sekaligus meminimalisir paparan kepada sel yang tidak ditargetkan. ADC terdiri dari sejumlah terapi kanker bertarget yang telah menunjukkan keberhasilan dalam berbagai jenis kanker, termasuk Limfoma Hodgkin dengan kondisi relaps dan refrakter.”

Menutup acara, Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPD-KHOM menyimpulkan, “Upaya peningkatan kesehatan masyarakat, termasuk pengobatan dan diagnosa kanker, membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan menjadi tanggung jawab bersama. Menemukan cara baru untuk mendeteksi dan mengobati kanker sedini mungkin merupakan tahap yang paling penting – yang mana tidak dapat terwujud tanpa partisipasi dan kerjasama seluruh komunitas medis. Peneliti, dokter dan petugas kesehatan lainnya harus bekerja bersama untuk membangun pengetahuan dan kemajuan agar dapat membawa manfaat bagi para pasien.”

Share:

Leave a reply