Industri film Indonesia perlu belajar dari jatuh bangun industri film Korea

262
0
Share:

guritanews – Gapailah ilmu film ke negeri gingseng, maksudnya Korea Selatan.

Pernyataan ini tidak dilebih-lebihkan atau nggak dibuat-buat maupun diotak-atik, justru sampai saat ini perfilman negeri gingseng itu – berikutnya kita sebut Korea – masih saja menjadi perbincangan bermutu dalam kancah perkembangan perfilman dunia.

Semua pihak mengetahui bahwa perkembangan perfilman dunia tidak lepas dari kedigdayaan Hollywood , disusul dengan kekuatan Bollywood, diikuti Hongkong, Perancis dan Nigeria– yang sekarang ini didaulat sebagai kekuatan baru dalam peta perfilman Benua Afrika.

Industri perfilman Korea tetap menarik untuk disimak, dicermati, bahkan menjadi kajian serta telaah dalam jagad perkembangan film dunia.

Alih-alih film Korea pun mendunia, tidak hanya digemari oleh penonton negerinya sendiri.

Warga Korea sangat mencintai film produksinya sendiri.

Hal ini , sepertinya, berbeda dengan publik Indonesia yang -kadung- lebih mencintai film asing.

Mengapa demikian ? Apabila masalah ini bercermin terhadap industri perfilman Korea, maka masalah ini tidak lepas dari campur tangan pemerintahnya.

Pihak pemerintah Korea, pada tahun 1980-an, banyak menyekolahkan pekerja film ke luar negeri.

Tidak hanya pergi menimba ilmu ke Hollywod, Hongkong dan India, tapi juga ke Eropa, terutama Italia dan Perancis.

Seiring dengan kondisi tersebut, pemerintah Korea lalu melakukan perombakan peraturan di bidang perfilman secara menyeluruh, teristimewa tata edar film, perihal pajak, bioskop , sensor, dan tidak kalah pentingnya mengedukasi masyarakat (Korea tentunya) untuk mencintai film produksinya sendiri.

Pemerintah Korea menyadari pentingnya peran film dalam membangun kekuatan di bidang ekonomi dan budaya, terutama menyangkut masalah karakter.

Sementara pekerja film, bekerja dengan ketulusan dan tidak selalu (ataupun musti) berprasangka satu sama lain , sehingga terciptalah hubungan yang harmonis dalam berinovasi.

Visi yang diemban tidak lain memenangkan dalam persaingan global dan membumikan film produksinya , ini berkaitan dengan kearifan lokal, di tanah airnya sendiri.

Hasil yang dipetik adalah lahirlah film Seopyeonje atau Sapyonje, yang produksi tahun 1993, disutradarai oleh master pembuat film Im Kwo –taek.

Film Sapyonje, merupakan salah satu film Korea yang paling banyak dipuji, secara domestik maupun internasional.

Sapyonje, merupakan salah satu film yang direkomendasikan.

Mengisahkan tentang sebuah keluarga penyanyi pansori keliling.

Film ini memang melahirkan gelombang ketertarikan baru atas kebudayaan tradisional Korea.

Bisa disebut, Sapyonje , merupakan salah satu film yang direkomendasikan, oleh pakar masalah Korea yakni Robert Koehler dalam bukunya berjudul Seoul, dari sebelas film yang patut ditelaah seksama terhadap jatuh bangunnya industri perfilman Korea, sampai akhirnya berkibar –masuk dalam papan atas – pada peta perfilman dunia.

Satu lagi film yang direkomendasikan dan malah dianggap puncak dari perkembangan perfilman Korea, yaitu Oldboy produksi tahun 2003.

Film Oldboy (sekuel kedua dari trilogi The Vengeance Trilogy) , masterpiece karya sutradara Park Chan-wook, drama gelap dan brutal yang mengisahkan tentang seorang pria berusaha membalas dendam setelah dipenjara selama 15 tahun tanpa alasan yang tidak diketahui. Dalam Festival Film Cannes tahun 2004, Quentin Tarantino – sebagai Ketua Dewan Juri- memberi Oldboy hadiah utama.

Sayangnya, sutradara Amerika, Spike Lee, gagal mecetak box office saat me-remake film ini dengan judul sama pada tahun 2013.

Oldboy (2013) karya Spike Lee gagal dipasaran

Betapa perkembangan perfilman Korea pernah mengalami masa nestapa yang kemudian sanggup berjaya pada kancah perfilman internasional.

Sejarah film Korea bermula pada akhir abad ke-19, tidak lama setelah bioskop pertama Korea dibuka tahun 1903.

Tahun 1920an hingga tahun 1930-an menjadi saksi diputarnya banyak film bisu yang bagus, namun di masa pra Kemerdekaan, para sutradara Korea sangat dibatasi dengan aturan sensor ketat yang diberlakukan pemerintah kolonial Jepang.

Tahun 1950an dan 1970-an keadaan politik dan social relative bebas, juga menjadi saksi melimpahnya film-film bagus termasuk beberapa film terbaik Korea yang pernah dibuat.

Namun situasi itu berubah total dengan diberlakukannya konstitusi Yushin, yang bersifat dictatorial pada tahun 1972.

Kontrol politik dan sosial semakin ketat, dan hampir membunuh industri film Korea pada waktu itu.

Pada tahun 1980, sensor film secara perlahan diperlunak.

Hasilnya kualitas film Korea meningkat.

Sayangnya bagi industri film, perkara ini bertepatan dengan dibukanya pasar film Korea terhadap film-film Hollywood dan Hongkong, sehingga pangsa pasar film Korea berkurang secara drastis.

Kendati demikian mulai tahun 1990, dunia perfilman Korea mengalami kebangkitan.

Segala sesuatunya itu bisa terjadi, setidaknya berkat sebuah kebijakan proteksi kouta layar, namun sebagian besar lantaran bermunculan bakat-bakat pembuat film baru, termasuk kemunculannya sutradara Park Chan-wook, Bong Joon-ho dan Kim Ki-duk.

Secara internasional , film-film Korea mulai memasuki festival-festival film internasional.

Misalnya film Oldboy karya Park Chan-wook, memenangkan Grand Prix pada Festival Film Cannes tahun 2004.

Mulai saat itulah film Korea bersinar ke jagad perfilman dunia.

Industri Hollywood pun terasa ketar ketir, dan mulai memperhatikannya.

Tapi Hollywood tidak kehilangan akal, bahkan dengan membeli beberapa hak cipta film Korea untuk dibuah ulang versi Hollywoodnya.

Ya, bagaimana dengan keadaan industri perfilman Indonesia saat ini ?

Sebenarnya sejarah film Indonesia juga pernah mengalami masa pasang surut , jatuh bangun untuk tetap bisa berjaya di negerinya sendiri.

Pada perkembangannya sekarang ini, ya, jauh sekali dari perkembangan industri film Korea.

Banyak sebab kenapa industri film Indonesia tidak maju-maju, dan apa kendala yang membuat tidak maju ?

Panjang jika diurai sebabnya, bisa jadi karena banyak pihak yang ‘mengobok-obok’ demi tujuan materi belaka, walhasil industri film Indonesia sekian lama seperti ‘betah’ maju di tempat.

Sudah saatnya –ini anjuran yang berkali-kali- dan tidak ada salahnya bercermin pada industri film negeri ginseng, kira-kiranya carilah ilmu film ke Korea. (Syamsudin Noer Moenadi , Jurnalis Senior, Esais dan Pemerhati Film/Q2 )

Share:

Leave a reply