Indonesia butuh aktor ‘multitask’ jika ingin bersaing di pentas dunia

547
0
Share:

GuritaNews – Film adalah karya seni terakhir yang lengkap pada abad ini.

 

Karena terdapat beberapa unsur seni didalamnya seperti seni rupa, seni fotografi, seni arsitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater, seni musik.

Film juga merupakan sebuah karya kolektif / bersama, bukan perbuatan individual seorang sutradara / produser saja.

Prosesnya yang begitu panjang dimulai dari pra produksi membuat sebuah gagasan, penulisan skenario , pemilihan peran (casting) , proses produksi (shooting) sampai proses pasca produksi ; editing, promosi, hingga penayangannya.

Sabtu-Bersama-Bapak-1

“ The Right Actor in the Right Script “.(poster film Sabtu Bersama Bapak)

Tahapan – tahapan tersebut melibatkan banyak orang yang -memang- di butuhkan pada setiap tahapannya. .

Keberhasilan / kesusksesan sebuah film bukan sekedar dilihat dari berapa besar biaya produksinya ?, Atau mengandalkan ketenaran sutradara ?, Siapakah penulis skenarionya ? Siapa bintangnya ?.

Apakah salah satu faktor yang punya kekuatan menentukan sebuah film itu akan menjadi sukses / berhasil ?

Saya mencoba akan memulai mengadopsi petikan pepatah “The Right Man in the Right Place “ menjadi “ The Right Actor in the Right Script “.

 

Aktor yang tepat pada skenario yang tepat
Dibutuhkan kepekaan seorang sutradara, produser dan casting director untuk melihat bakat para aktor yang dipilih, sesuai karakter pada skenario tanpa harus mengandalkan Super Star Syndrome.

Ini memang adalah tugas berat seorang Produser, sutradara dan Casting Director.

Peran mereka di awal sangat menentukan untuk roh sebuah film, kok bisa ?

Unsur utama dari film fiksi adalah aktor dan ceritanya !!.

Jika salah (saja) kita menempatkan seorang aktor/aktris pada karakter peran yang bakal di mainkan, maka akan sia – sia sebuah proses panjang produksi film tersebut.

Sering terjadi saat semua itu sudah terbungkus dalam film yang siap ditayangkan.

koala-kumal

You Got The money.. So You Got The Power !!! (poster film Koala Kumal)

Maka saat film ditayangkan, penontonpun menggugat lewat komentar miring saat menyaksikannya.

Biasanya para penonton berucap : Perannya tidak cocok ! , Seharusnya bukan dia yang main ! , Sayang ya karakternya dibuat seperti itu oleh si pemeran, jadi ga greget !

Miss Casting ! Hal ini adalah sebuah momok bagi Producer, Director dan Casting Director karena jika memang hal ini terjadi maka proses kreatif mereka pada pra produksi tidak berjalan dengan baik atau ada suatu kepentingan yang memang tidak bisa di ganggu gugat.

Misalnya si produser tetap mempertahankan harus aktor/aktris terkenal ‘si A’ atau mungkin produser menghendaki aktor/aktris ‘si B’ yang tidak terkenal, yang memainkan untuk peran tertentu.

Namun sutradara dan casting director memberikan masukannya bahwa sang Aktor/ Aktris yang ‘dikehendaki’ oleh si bos/produser tidak tepat.

Tapi, apa daya , You Got The money.. So You Got The Power !!!

Nah, jika hal ini terjadi, para film-maker kitapun tidak kuasa berbuat banyak, kecuali hanya merestui hasrat si bos/produser.

Fakta! produser adalah segalanya!

Ini adalah filmnya produser bukan filmnya sutradara, itulah yang banyak di alami oleh para sineas Indonesia.

Beberapa Film Box Office Indonesia, juga tak dipungkiri adanya andil dari para bintang kondang yang didapuk tampil dalam memerankan ‘kebutuhan’ empiris produser.

Pasalnya, para bintang yang dipasang memiliki rekor bagus dalam menyedot penonton, hingga otomatis memberikan bisnis value bagi produser.

Namun jika kita amati dalam jangka waktu 3- 5 tahun kebelakang, alangkah jenuhnya mata kita di suguhkan oleh aktor/aktris yang itu–itu saja di berbagai judul film, yang di produksi oleh banyak production house di Indonesia.

Menguntungkankah ? Iya, bagi produser.

Baguskah ? belum tentu !!!

Semisal -terkadang- seorang aktor/aktris dalam  setahun bisa memainkan 3 – 4 judul film.

Ada kegamangan, apakah ‘benar’ si aktor/aktris akan menghasilkan kwalitas seni peran dalam setiap karakter filmnya ?

Kita akhirnya mempertanyakan totalitasnya berperan, dimana setiap proses pembentukan karakter peran tidak bisa instant !

scene-film-habibie-ainun

Namun, ada juga yang sukses dalam memerankan beberapa karakter tokoh yang berbeda pada setiap filmnya. (Scene film Habibie & Ainun)

Proses pembentukan karakter peran dalam film tidak seperti karakter film televisi/sinetron yang bisa terjadi ketika datang ke lokasi hapalkan skenario dan ber-lakonlah di depan kamera dan besok atau malamnya langsung tayang.

Sudah banyak contoh aktor/ aktris film Indonesia yang beberapa tahun belakangan ‘booming’ namun kini tidak terdengar lagi, lenyap ditelan angin.

Sekali lagi, itu dikarenakan mereka tidak bisa memberikan totalitas, kwalitas, serta kesungguhan dalam setiap karakter peran yang di mainkan.

Namun, ada juga yang sukses dalam memerankan beberapa karakter tokoh yang berbeda pada setiap filmnya.

Meskipun, dalam 1 tahun bermain dalam 3-4 judul film yang berbeda.

Aktor dan Aktris yang seperti inlilah yang Indonesia butuhkan.

 

Indonesia butuh aktor multitask

 

Sudah saatnya para film maker nasional harus mencari dan menemukan aktor – aktor baru yang memiliki bakat yang multitasking di Indonesia.

Lahirnya aktor baru yang berbakat dan multitask akan menjawab kejenuhan penonton Indonesia dan akan membuka mata dunia bahwa Indonesia bisa dan punya.

laskar-pelangi

Ingat..! Masa depan perfilman Indonesia ada di tangan generasi muda saat ini (foto poster film Laskar Pelangi)

Masakah, dari Sabang sampai Merauke kita ‘gak’ mampu menemukan calon aktor/ aktris berbakat seperti Nicolas Saputra, Dian Sastro, Iko Uwais, Joe Taslim dan Yayan Ruhian..?

Saya (penulis) memiliki keyakinan semakin banyak bermunculan aktor / aktris Indonesia yang memiliki multitask dan mau belajar, maka merekapun dipastikan punya kemampuan ‘dahsyat’ untuk bersaing di kancah perfilman dunia.

Ingat..! Masa depan perfilman Indonesia ada di tangan generasi muda saat ini, bukan nanti atau kemarin tetapi saat ini ! (Q2)

Artikel ini ditulis aslinya oleh sahabta saya yang punya kepedulian tinggi terhadap industri film dan budaya nasional, Rama Sastra Negara

Share:

Leave a reply