Hitam putihnya industri musik Indonesia tentukan nasib sendiri..!

202
0
Share:

guritanews – Tuntas sudah perhelatan  Indonesia Drum & Perkusi Festival (IDP Fest) 2017, yang digelar pekan lalu (30 Maret – 2 April) di Taman Ismail Marzuki.

Serentet agenda acara tunai digelar, mulai klinik edukasi perkusi, kompetisi drum/perkusi, pentas kolaborasi drum, perkusi dan musisi Indonesia serta seminar hari musik nasional yang diusung Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia.

Didukung Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI), PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia), dan Nagaswara Music.Seminar hari musik nasional menghadirkan para pembicara Dwiki Dharmawan (Ketua LMK PAPPRI & AMI Awards), Rahayu Kertawiguna (Chief Executive Officer Label Nagaswara Music), Dra. Poppy Savitri (Deputi I Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badang Ekonomi Kreatif Indonesia), dan Laksamana Pertama TNI Muhammad Faisal, SE, MM, (Direktur Bela Negara Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI), serta dipandu Irish Riswoyo (Wartawan Musik).

Dari serangkaian acara tersebut, seminar yang bertema Distribusi Industri Musik di Era Digital : Tantangan dan Harapan, menarik disimak.

Mengingat masalah pembajakan menyeruak dalam forum seminar, problem klasik -yang menurut musisi Dwiki Darmawan, salah satu pembicara, jelas-jelas merupakan tindakan kriminal.

Dalam forum diskusi itu, juga mencuatkan pendapat betapa pembajak layak dihukum berat.

Tidak ubahnya koruptor, pembajaklah yang memporak porandakan industry musik Indonesia.

Fakta, saat sebuah album atau single diluncurkan hari ini, maka pada hari yang sama jua produk bajakannya beredar.

Jadi menurt Dwiki,pembajak harus diberangus, tapi bagaimana persoalan pembajakan bias selesai, toh sampai sekarang pembajak masih merajalela.

“ Orang Indonesia itu suka hal-hal yang gratis, termasuk mengunduh musik gratis . Hal –hal yang gratis itulah yang membuat pembajakan music terus berlanjut. Masyarakat masih belum menghargai hak intelektual musisi.Coba jika mereka menghargai bahwa musik adalah karya intelektual , maka mereka pun tidak akan mencari atau membeli produk bajakan. Nah, untuk mengubah pola pikir itu, tentunya tidak mudah. Perlu edukasi, terutama kesekolah- sekolah. Sejak dini sudah dijelaskan, mengenai music itu merupakan karya intelektual. “ papar Dwiki

Perhelatan IDP Festival 2017 yang usai digelar mulai 30 Maret hingga 2 April lalu ,tergolong sukses untuk membuat keramaian publik dan cukup edukatif.

Badan Ekonomi Kreatif sebagai produk era pemerintahan Presiden Jokowi, semestinya juga punya keberanian untuk berbuat lebih  (photos : Q2HER/guritanews.com)

Hanya saja persoalannya, usai mengehelat budaya ritual tahunan ini, berdampak apa bagi masyarakat, seniman, dan industri itu sendiri?

Deputi I Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badang Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Dra. Poppy Savitri, kepada awak media mengatakan “Kemajemukan yang dimiliki bangsa kita adalah sebuah kekayaan dan karunia besar. Dari sisi kultural Indonesia mewarisi kearifan lokal yang sarat dengan nilai-nilai pluralisme. Kearifan lokal bangsa Indonesia diwujudkan dalam karya-karya seni, diantaranya lewat musik,” usai menjadi pembicara pada acara dialog interaktif , yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (30/032017).

Poppy menegaskan, keanekaragaman musik etnik sebagai kekayaan intelektual dan kultural perlu terus dilestarikan.

Sudah menjadi kelaziman, dalam momen nasional, pemerintah selalu gencar melakukan aksi unjuk taring (meski tampak ompong sebenarnya) guna meraih perhatian publik.

Badan Ekonomi Kreatif sebagai produk era pemerintahan Presiden Jokowi, semestinya juga punya keberanian untuk berbuat lebih.

Bukan sekedar berucap ‘klise’ untuk bersama memberantas pembajakan di bumi pertiwi, atau berulang kali berungkap hendak memajukan industri atau  lainnya,  sasaran terpenting adalah bagaiamana kelihaian dan kecerdasan pemerintah melalui BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) meng-edukasi masyarakat Indonesia dalam meng-apresiasi karya intelektual seniman dan berani menggunakan produk berkualitas.

Carut marut atau hitam putihnya industri musik tanah air biar ditentukan oleh nasibnya sendiri. (photos : Q2HER/guritanews.com)

Bicara soal seni budaya bahkan untuk industrinya sendiri, negeri ini masih teramat problematik saat tengah asyik menyimak dan menikmati infiltrasi budaya asing.

Tak dipungkiri bahwa masyarakat-pun kini segala kegilaan mengagumi produk asing, ketibang dalam negeri, kok bisa? Yah bisa saja karena memang negeri ini sedang terjun bebas melahap sajian kapitalis.

Dari dulu, Indonesia selalu berhadapan dengan tantangan dan tuntutan zaman, arogansi penguasa juga melahirkan mind-set masyarakat kita yang serba praktis , tapi sayangnya digunakan dalam ruang terbatas saja, masyarakat perkotaan yang selalu berselera dengan ajakan konsumtif ala barat, tapi selalu bodoh untuk men-treatment seleranya agar jelas arahnya.

Perhelatan Indonesia Drum & Perkusi Festival, meski hendak di gelar sekian kali untuk sekian lamanya, pun tak akan merubah situasi dan kondisi masyarakat ditengah ekspansi besar-besaran teknologi era digital.

Meski disayangkan kekritisan masyarakat belumlah tersaring dengan kumpulan bahan edukasi yang mumpuni, lagi-lagi menjadi tugas pemerintah dan kita bersama memboyong negeri ini menuju kehebatannya, kurangi budaya menghelat ‘ritual belaka’ yang hanya buang anggaran lalu perbanyakalah berbagi manfaat yang tepat sasaran tanpa banyak biaya ‘mubazir’ !

Carut marut atau hitam putihnya industri musik tanah air biar ditentukan oleh nasibnya sendiri. (Q2/SNM)

Share:

Leave a reply