Digelarnya Kongres IX SENA WANGI : menumbuhkan kembali jati diri anak bangsa

169
0
Share:

guritanews – Guna berperan lebih jauh dalam pergerakan dunia yang semakin plural, suatu bangsa tidak bisa lain kecuali menggali dan mengefektifkan sumber-sumber nilai (budi pekerti).

Salah satu sumber nilai yang bisa disebut adalah filosofi yang terkandung pada seni Wayang.

“Penting sekali menumbuhkan kembali karakter, jati diri anak bangsa melalui budaya, terutama dapat dilakukan melalui seni Wayang,” ujar Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), Drs. H. Solichin, dalam Rapat Panitia Pelaksana Kongres IX SENA WANGI, di Gedung Pewayangan Kautaman Jakarta, Rabu (12/04/2017).

Solichin, menengarai saat ini masyarakat tengah mengalami kekisruhan (dinamika) dalam kehidupan berbangsa.

Demikian pula arus globalisasi ikut mempercepat proses pengetahuan anak bangsa. Namun tidak seluruhnya berdampak positif.

Diantaranya muncul krisis multidimensional.

Pementasan dengan lakon “Mintaraga” yang digelar atas kerjasama dengan Triardhika Production ini sekaligus menandai 107 tahun grup kesenian tradisi ini berkiprah. (foto eksklusif)

Hal ini karena tidak diimbangi pengetahuan budaya dan melemahnya pendidikan budi pekerti.

“Kita berharap SENA WANGI ikut memberikan out put; sumbangan pemikiran untuk mengatasi berbagai masalah bangsa. Dari situ kita lebih operasional lagi. Mengajarkan budi pekerti, revolusi moral, mengangkat nilai luhur bangsa dan menguatkan identitas Nasional,” ujar budayawan yang juga Ketua Presidium APA (ASEAN Puppetry Association) ini.

Kongres Ke-IX SENA WANGI yang sedianya digelar pada hari Selasa – Rabu, 25 – 26 April 2017 mendatang, di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Cipayung, Jakarta Timur, hendak mengangkat tema “Meningkatkan Peran Wayang Dalam Nation & Character Building.”

Kongres akan dihadiri para Sesepuh, Dewan Kehormatan, Dewan Kebijakan, Dewan Pengurus, dan Dewan Pakar SENA WANGI, dari berbagai latar belakang profesi, disiplin ilmu, dan kompetensi.

Menurut rencana, kongres akan dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.AP.

Selain mengagendakan pemilihan Ketua Umum dan penyusunan program kerja SENA WANGI periode mendatang, panitia kongres juga menggelar sarasehan.

Tiga hal mendasar menjadi meteri pokok pembahasan dalam sarasehan ini, diantaranya “Pengukuhan Filsafat Wayang.”

Menghadirkan pembicara Drs. H. Solichin (topik; Pengantar Filsafat Wayang), Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum (topik; Semiotika dan Epistemologi Wayang), Prof. DR. Joko Siswanto (topik; Metafisika Wayang), dan Prof. Kasidi Hadiprayitno, M.Hum (topik; Aksiologi Wayang).

Pembahasan berikutnya, mengenai pandangan SENA WANGI tentang “Pelaksanaan Pancasila Dengan Pendekatan Filsafati.”

Menghadirkan dua pembicara; Prof. Dr. Kaelan, MS. dan Drs. H. Solichin. Pembahasan terakhir menyoal “Sosialisasi Budi Pekerti/Pandangan Nation and Character Building,” dengan mengedepankan dua pembicara, Dr. Suyanto, S.Kar. MA, dan Dr. Hj. Nurul Zuriah, M.Si.

“Hasil daripada sarasehan ini nanti akan dirumuskan dan menjadi keputusan yang akan disebar ke kalangan Pemerintah, Eksekutif, Legislatif, Judikatif, dan masyarakat luas,” terang Dewan Pengarah Panitia Pelaksana Kongres IX SENA WANGI, Drs. Suparmin Sunjoyo.

Melengkapi agenda Kongres IX SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), panitia kongres juga menggelar pameran ‘Buku dan Foto Wayang.

Pamaeran buku-buku yang diterbitkan SENA WANGI, diantaranya buku; ‘Filsafat Wayang Sistematis’, ‘Pendidikan Budi Pekerti Dalam Pertunjukan Wayang’, ‘Cakrawala Wayang Indonesia’, ‘The Heritage of Asean Puppetry’, dan buku ‘Ensiklopedi Wayang Indonesia’ yang terdiri dari sembilan jilid.

Pada Kongres IX SENA WANGI ini juga akan dipentaskan grup Wayang Orang (WO) legendaris ‘Sriwedari, Selasa (25/04/2017).

Pementasan dengan lakon “Mintaraga” yang digelar atas kerjasama dengan Triardhika Production ini sekaligus menandai 107 tahun grup kesenian tradisi ini berkiprah.

“Wayang Orang (WO) Sriwedari, merupakan salah satu — kalau bukan satu-satunya perkumpulan seni-budaya adiluhung tertua di Indonesia, yang didirikan tahun 1911. SENA WANGI sangat mengapresiasi pergelaran ini, sekaligus menandai Kongres IX SENA WANGI yang berlangsung di Jakarta,” ujar Drs. Suparmin Sunjoyo./***

Share:

Leave a reply