Dibutuhkan kesabaran mengurus perfilman Indonesia

394
0
Share:

guritanews – Oleh Syamsudin Noer Moenadi,  Artikel ringan ini mengacu dari ucapan Dr. Maman Wijaya,M.Pd , pejabat Kepala Pusat Pengembangan Perfilman dalam suatu percakapan ringan namun serius di sebuah hotel megah di kawasan Petamburan, Slipi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Percakapan berlangsung di sela-sela acara diskusi tentang perfilman bertema ‘Kearifan Lokal Sebagai Kekuatan Film Indonesia’ beberapa waktu lalu, yang menurut saya dan Pak Maman, panggilan akrab bos Kepala Pusat Pengembangan Perfilman, itu masih banyak pekerjaan rumah yang sejatinya diselesaikan dan belum tuntas-tuntas.

Kenapa bisa demikian? Dengan nada lirih, tapi tidak memelas Pak Maman mengemukakan pendapat secara runtut dan berlogika, betapa untuk mengurus perfilman Indonesia memang dibutuhkan kesabaran serta ketulusan.

“Awal-awalnya menjabat, saya merasa kaget. Namun kemudian, saya menjadi terbiasa. Saya harus berada di dalam orang-orang film dan bagaimanapun harus berjarak. Artinya, tidak sekadar mengayomi. Banyak orang-orang film selalu menanyakan tugas dan kerap pula bertanya apa sih yang bakal dilakukan Pusat Pengembangan Perfilman,”

Dirinya percaya, perfilman Indonesia bisa mendunia dan sejajar dengan industri perfilman negara lain yang sudah digdaya, misalnya Korea Selatan atau India, asal orang-orang film kompak.
Kata kompak ini patut digarisbawahi, mengingat selama ini orang-orang film selalu berjalan sendiri-sendiri.

Apalagi selama ini orang-orang film berkesan tidak akur dalam berpendapat, sertamerta terdapat sikap pesimis yang menyatakan bahwa tanpa campur tangan pemerintah, industri perfilman Indonesia sudah berjalan sebagaimana adanya.

Tidak diingkari orang-orang film (Indonesia) bisajadi merasa kesal dengan pemangku kepentingan yang biasa mengurusi masalah perfilman, yang kini berada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dan banyaknya lembaga yang ingin saling tampil mengurusi masalah perfilman, hal inilah yang membuat orang-orang film menjadi gerah.

Maka supaya suasana tidak gerah, kiranya pada saat ini pula Pusat Pengembangan Perfilman sepatutnya mulai berperan.

Undang-undang tentang perfilman mengamanatkan masalah perfilman dikelola oleh Kementerian yang bertanggungjawab di bidang kebudayaan.

Melalui peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, perihal Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri membentuk pusat baru di bawah Sekretariat Jenderal bernama Pusat Pengembangan Perfilman.

Orang-orang film perlu tahu tentang Pusat Pengembangan Perfilman yang tugasnya apa saja.

Pusat Pengembangan Perfilman tidak lain unsur pendukung pelaksanaan tugas di bidang pengembangan perfilman.

Ditilik dari bidangnya, terdiri atas 1 bagian dan 2 bidang yang menangani pengembangan perfilman. Yakni : Bagian Tata Usaha, Bidang Perizinan dan Pengendalian, Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilamn serta Kelompok Jabatan Fungsional.

Pusat Pengembangan Perfilman dipimpin Kepala Pusat yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri melalui Sekretarian Jenderal.

Tugas Pusat Pengembangan Perfilman sangat jelas: Memberikan layanan maksimal kepada dunia perfilman nasional.

Serta melaksanakan pelayanan seluas-luasnya kepada masyarakat perfilman pada lingkup pengembangan perfilman dalam negeri dan promosi film Indonesia di luar negeri.

 

Di dalam negeri.

Pusat Pengembangan Perfilman membangun ekosistem perfilman agar menjadi lebih sehat, berimbang dan disukai, hingga berharap film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri.

Tentu tugas ini tidak gampang, tidak seperti membalik telapak tangan.

Karenanya untuk menggulirkan semuanya itu diperlukan kesabaran,dan diikuti dengan rasa ikhlasan serta ketulusan.

Semua tahu kemajuan film mampu memberikan sumbangan besar kepada negara, baik dari segi ekonomi maupun budaya.

Khusus untuk lingkup promosi,apa yang dilakukan Pusat Pengembangan Perfilman adalah melakukan diplomasi budaya.

Dalam hal ini melakukan kompetisi bidang film dalam rangka merebut pasar dunia dan pengaruh budaya.

Pusat Pengembangan Perfilman pun mendorong pekerja film untuk ikut serta dalam berbagai percaturan,termasuk ikut dalam pasar film internasional, pekan film di luar negeri sebagai ajang diplomasi budaya dan ikut di berbagai festival film internasional.

Dalam percaturan itu memang ada indikasi persaingan yang sangat ketat.

Tetapi ke-ikutsertaan pada berbagai even internasional tetap menjadi tantangan.

Menjadi suatu tantangan bagi Pusat Pengembangan Perfilman yang dikomandoi Pak Maman, untuk mewujudkan semua itu, apalagi ingin menjadikan film Indonesia raja di negeri sendiri dan menjadi tamu memesona di negara lain, sebagaimana jorgon yang didengung-dengungkan.

Tantangan yang dihadapi Pak Maman adalah suatu keniscayaan. Banyak pekerjaan rumah yang berderet harus diselesaikan. Satu persatu musti dibereskan.

 

Persoalan nyaris menumpuk

Berbagai masalah bisa jadi berbelit-belit serta melilit –lilit penyelesaiannya.

Semisal, masalah sepele mengenai penumbuhan rasa cinta oleh masyarakat , semangat menghargai dan mengapresiasi karya sineas film-film dalam negeri, ternyata wacana semata.

Bukan mudah diwujudkan dalam seketika.

Masalah kecil inipun,mau tak mau, harus dijawab oleh Pusat Pengembangan Perfilman.

Namun, sekali lagi dengan kesabaran, selain ketulusan dan ikhlasan, percayalah Pusat Pengembangan Perfilman bisa membereskan kendati tidak dalam waktu seperti mengedipkan mata.

Percayalah Pak Maman mampu menanganinya. (Syamsudin Noer Moenadi , Jurnalis Senior dan Pemerhati Masalah Film/Q2)

Share:

Leave a reply