Demi pecinta film nasional, Boven Digoel rela tayang hanya dengan 15 layar!

347
0
Share:

GuritaNews – Film Boven Digoel, produksi Foromoko Matoa Indah, memang tak berbicara banyak tentang historical sebelum era revolusi fisik, ketika Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di buang ke negeri antah berantah di timur Indonesia ini.

Sejatinya Boven Digoel, hanya mengakar pada persoalan kiprah seoarng dokter muda, bernama John Manangsang (diperankan dengan baik oleh Joshua Matulessy) yang harus mengalami berbagai treagedi kemanusiaanya saat bertugas menolong masyarakat di wilayah Boven Digoel.

Dalam tugasnya John harus berhadapan dengan banyak tipikal warga kampung.

Menelusuri perjalanan dari kampung ke kampung yang letaknya berjauhan, berjam-jam harus menggunakan sampan melintasi sungai yang berkelok.

Dari persoalan warga yang masih bergantung kepada metode penyembuhan penyakit ala dukun kampung, hingga membelek perut seorang ibu yang hamil tua karena kedapatan kandungan bayinya berposisi lintang, maka harus di operasi dengan alat seadanya, menggunakan silet.

Kompleksitas film ini memang terkontrol lunak dan tidak menjelimet, sepertinya FX Purnomo yang mengendalikan penyutradraan film memang tak ingin melebarkan merk ‘Boven Bigoel’ dengan mengaitkannya sebagai latar historical berdirinya sebuah republik.

“Ini sebuah film kami pertama yang memang dengan lugas dan elegan menyampaikan pesan kepada pemerintah, bahwa rakyat Papua yang lembut dan santun dan selalu punya kepedualian tinggi kepada sesamanya harus diperlakukan sama dengan orang Indonesia lainnya,” papar Dokter John Manangsang, produser Boven Digoel.

Sinematografi khas Yudi Datau, sangat berani dan bertenaga memanjakan mata kita, untuk sejenak merenung lewat gambar gambar fantastisnya yang sangat meng-elokkan alam Papua.

Sayangnya kenapa film dengan mesej lugas yang berkar pada keragaman , toleransi, serta budaya – bahkan bisa dibilang Boven Digoel seperti hendak melakukan restorasi sosial lewat film ditengah kondisi memuncaknya pergeseran nilai-nilai keharmonisan – dengan biaya produksi sekitar 7 miliar rupiah hanya mendapat jumlah 15 layar penayangan saja dari pihak exhibitor korporasi Cinema 21?

Maria Fransisca (foto : Q2HER/www.guritanews.com)

Bahkan scene ‘mahal’ saat dokter John mengeluarkan bayi meninggal dari perut seorang ibu yang di bedahnya dengan silet harus disensor tanpa ampun???

Oh, Boven Digoel…

Bukankah film ini sangat menarik untuk menjadi media edukatif dan informatif??

“Boven Digoel memang punya biaya produksi yang cukup besarlah sekitar 7 miliar, itupun sudah hasil dari pemotongan anggaran produksi juga ongkos pemain, yang sebelumnya biayanya berkisar puluhan miliar rupiah. Kami sih tetap jalan saja, meski dapat kuota layar gak banyak, sekitar 15 layar saja dari pihak twenty one. Kita lihat juga nanti seperti apa fakta dilapangan, jika meningkat jumlah penontonnya saya juga akan minta ditambahkan jumlah layarnya,” pungkas John kepada guritanews.com.

Boven Digoel telah memulai eranya, sebagai seperangkat medium yang mamapu leluasa menyampaikan hasrat dan misinya kepada para penikmat film Indonesia dengan serba keterbatasannya.

Film yang juga dibintangi sederet nama kondang seperti ; Christine Hakim, Edo Kondologit serta runner-up kontes Miss Indonesia 2014, Maria Fransisca , ini mulai ditayangkan serentak di bioskop pada 9 Februari mendatang. (Q2)

Share:

Leave a reply