Demam Victoria’s Secret Memudar

150
0
Share:
Victoria's Secret

GuritaNews – Kehebohan dan demam akan merek Victoria’s Secret mengalami penurunan di antara konsumen kuncinya, wanita berusia 18 hingga 49 tahun. Masalah persepsi mungkin berkontribusi terhadap perjuangan penjualan merek ini, demikian dilansir dari Marketwatch.

Dengan penurunan ini, merek pakaian dalam yang merupakan portofolio dari L Brands Inc., mungkin perlu mempertimbangkan kembali upaya pemasarannya. Merek yang terkenal dengan model-model cantiknya ini dikenal oleh acara fashion televisinya. Sayangnya peringkat tayangan ini untuk produksi tahun 2017 menurun hampir 30% menjadi kurang dari 5 juta pemirsa.

Pada jamannya, fashion Show Victoria’s Secret pernah menjadi bagian penting dari upaya pemasaran di sekitar musim liburan. Event ini akan mendorong pemasaran dari berbagai obrolan tentang merek, aktivitas media sosial, dimana akhirnya akan meningkatkan “traffic” dan pembelian oleh konsumen.

Dewasa ini, sejumlah kolumnis mode dangaya hidup dan pelaku ritel lainnya bertanya-tanya apakah pertunjukan seperti itu masih sejalan dengan sentimen konsumen. Berbagai kampanye sosial berkembang dan menganggap pertunjukan itu sebagai pelecehan seksual yang dipublikasikan, puncaknya adalah gerakan #MeToo yang terus membesar.

Salah satu model Victoria’s Secret Karlie Kloss pada bulan lalu melakukan pembelaan atas tudingan tersebut. Menurut model asal Amerika Serikat yang menjadi Victoria’s Secret Angel pada 2011-2014, fashion show dan pertunjukan di TV itu sangat relevan untuk dunia saat ini, tulis YouGov BrandIndex di dalamnya laporan terbarunya. Meski demikian, menurut YouGov BrandIndex  ” Konsumen mungkin tidak setuju”.

Dalam kajian yang dilakukan oleh YouGov BrandIndex, setidaknya 60% pelanggan Victoria’s Secret adalah perempuan dalam rentang usia 18 hingga 49. Mereka beranggapan bahwa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika wanita memegang kendali, dibandingkan dengan 52% dari semua wanita AS yang memegang keyakinan ini. Sementara 79% wanita berusia 18 hingga 49 tahun itu juga mengatakan mereka menyukai perusahaan yang memiliki pesan moral.

Dalam laporan dikwartal pertama tahun ini, perusahaan itu menyatakan adanya pelemahan. Meski demikian, laba per saham naik dari 15 sen menjadi 20 sen. Sementara lonsensus FactSet adalah untuk 18 sen.

Data lain menunjukkan bahwa konsumen menolak harga yang digantung pada produk-produk Victoria’s Secreet. Menurut mereka harga-harga tersebut sangat dipaksakan dan “palsu”. Keluarnya perusahaan dari kategori barang pakaian renang dan jadi, juga berdampak buruk pada penjualan.

Penjualan barang-barang Victoria’s Secret ditoko mengalami kenaikan 1% di bulan Maret, dianggap sebagai pertumbuhan yang “moderat” dalam industri pakaian dalam. Meski sebagian harus diimbangi oleh penurunan produk kasual redline bagi anak muda atau mahasiswa. Potensi ini telah disorot pertumbuhannya sejak akhir tahun lalu.

Saham-saham L Brands sendiri turun 40,4% ini, sementara indeks S&P 500 naik 0,5%. (Lukman Hqeem

Share:

Leave a reply