Darurat Tuberkulosis di Indonesia!

35
0
Share:

guritanews – Perlu kita sadari bahwa penyakit menular tuberkulosis (TB) masih mengancam Indonesia.

Salah besar jika kita mengira penyakit menular – yang dulunya disebut TBC – ini sudah tidak ada lagi di Indonesia.

Faktanya, negara Indonesia menempati kasus TB nomor 2 di dunia, setelah India.

Penanganan masalah ini bukan sekedar menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi semua pihak (multi- stakeholders) harus berperan mencegah kelangsungan penyakit menular berbahaya ini.

Berdasarkan Laporan WHO tahun 2016, jumlah kasus TB di Indonesia telah mencapai 1,6 juta orang, dengan estimasi kasus TB baru di Indonesia sebesar 1 juta setiap tahun, dengan 100.000 kematian per tahun.

Hal ini berarti terdapat 273 kematian setiap hari atau 11 kematian setiap jam.

Laporan WHO juga mengungkap fakta bahwa jumlah penderita TB di dunia mencapai 10,4 juta kasus, dengan 8,6 juta kasus baru setiap tahun.

Penularan TB—yang dipicu kuman Mycobacterium tuberculosis dari percikan dahak pengidap TB yang tersebar di udara setelah batuk— berlangsung cepat dan dapat menular kepada 10-15 orang di sekitarnya.

Penyelesaian permasalahan TB harus segera dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi oleh semua pihak (multi-stakeholders), meliputi sektor swasta, masyarakat madani (Lembaga Swadaya Masyarakat-LSM/Civil Society Organization-CSO), dan layanan kesehatan.

.Senada disampaikan oleh Ketua FSTPI Arifin Panigoro dalam diskusi bertema “Rekomendasi Koalisi Penanggulangan TB di Indonesia” yang digelar di gedung PBNU, Jakarta (8/3) lalu, bahwa kasus TB belum sepenuhnya menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia dibandingkan dengan masalah sosial lainnya, seperti narkoba dan HIV/AIDS.

“Meskipun tidak berlatar belakang kedokteran atau kesehatan, saya merasa terpanggil untuk ikut memikirkan dan melakukan berbagai upaya penanggulangan TB melalui FSTPI yang saya pimpin guna membantu Kementerian Kesehatan,” kata Arifin .

Untuk itu, tambah Arifin, semua komponen bangsa diimbau untuk menanggulangi TB di Indonesia, sekurang-kurangnya melakukan upaya promotive dan preventive di lingkungan masing-masing dengan melakukan penyuluhan secara masif, dimulai dari tingkat RT bekerja sama dengan jajaran kesehatan mulai dari puskesmas.

Arifin menegaskan FSTPI akan berkomitmen terus melakukan upaya-upaya pengendalian TB, salah satunya dengan merangkul berbagai pihak, seperti CSO, layanan kesehatan, dan dunia industri.

Turut hadir dalam diskusi tersebut adalah para inisiator koalisi seperti KH Said Aqil Siroj ; Ketua Umum PBNU, Ketua Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI); dan Lakish Hatalkar, Vice President GFO, Johnson & Johnson Asia Pacific.

“Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam) tidak boleh diam. Islam harus bisa ikut hadir dalam mewujudkan umat yang sehat. Karena hal ini sesuai dengan maksud dan hikmah diturunkannya Islam (hikmatut tasyri’), yaitu, pertama, untuk mengenal Allah SWT (ma’rifatullah), dan mengesakan-Nya (tauhid); Kedua, menjalankan segenap ritual dan ibadah kepada Allah SWT sebagai manisfestasi rasa syukur kepada-Nya; Ketiga, untuk mendorong amar ma’ruf nahi munkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), serta mengasihi hidup manusia dengan etika dan akhlak mulia (tasawuf); dan keempat, untuk menetapkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan sosial (mu’amalah) di antara sesama manusia,” ujar KH. Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU.

Dalam kesempatan tersebut Lakish Hatalkar menyampaikan dukungan dan komitmen penuh Johnson & Johnson Indonesia terhadap gerakan yang dilakukan FSTPI untuk pengendalian TB di Indonesia.

“Fakta menunjukkan bahwa kelompok usia produktif merupakan kelompok penderita terbesar, maka partisipasi aktif dari sektor industri sangatlah penting. Kami percaya bahwa sektor industri dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menurunkan jumlah kasus TB di Indonesia. Mari kita bekerjasama untuk benar-benar membebaskan Indonesia dari TB,“ tutup Lakish Hatalkar, Vice President GFO, Johnson & Johnson Asia Pacific. (***)

Share:

Leave a reply