Bernostalgia dengan Tiga Dara lewat restorasi ala 4K

213
0
Share:

GuritaNews –  Mungkin tanggal 11 Agustus 2016 bisa (saja) menjadi hari bersejarah bagi perfilman nasional.

Pada tanggal ini, sebuah film klasik era 1950-an yang pernah didaulat menjadi salah satu film terbaik  di Indonesia, yaitu Tiga Dara (1956), dirilis ulang secara komersil di bioskop-bioskop Indonesia.

Film ini sekaligus menandai pencapaian monumental, sebagai film Indonesia pertama yang direstorasi dalam format 4K digital, yang berarti tata gambar dan tata suara telah dipulihkan kembali menjadi cemerlang dan jernih, selayaknya film yang baru dibuat.

Tentu saja kejernihan gambar dan suara ini akan membantu penonton film melihat dengan jelas kepingan sejarah penting Indonesia, terutama Jakarta.

Film Tiga Dara diproduksi pada tahun 1956, berarti sebelas tahun setelah Indonesia merdeka pada 1945.

Dengan keterbatasan teknis, film Tiga Dara mampu menghadirkan cerita yang masih bisa dinikmati di era kekinian, serta mampu merekam suasana Jakarta masa itu yang tidak banyak kita ketahui.

“Salah satu adegan di film itu syutingnya di Jalan Panglima Polim. Waktu itu Jalan Panglima Polim masih sepi sekali, tidak seperti sekarang,” kenang aktris veteran, Mieke Widjaja, pemeran Nana, anak tengah dalam film Tiga Dara ini.

“Tentu saja sekarang kita jadi asyik sendiri menonton film ini, sambil menebak- nebak, ini lokasinya di mana ya? Sekarang jadinya apa ya? Itulah keasyikan tersendiri
menonton film ini.”

Senada dengan memori Mieke Widjaja, ungkapan sama juga dilontarkan Yoki P. Soufyan dari SA Films yang menggagas restorasi film Tiga Dara.

“ Dengan menggunakan teknologi 4K, membuat tampilan gambar film Tiga Dara menjadi lebih jelas, maka kita bisa melihat detil-detil Jakarta tempo dulu. Misalnya, salah satu adegan memperlihatkan Neni mengunjungi bioskop Metropole. Nah, sekarang ternyata gedung Metropole sendiri masih berfungsi sebagai bioskop dan sudah juga direstorasi,” pungkasnya. (Q2)

Share:

Leave a reply