Bank Indonesia Menaikkan Suku Bunga, Menolong Rupiah

68
0
Share:
Rupiah

GuritaNews – Guna menolong Rupiah yang tertekan Dolar AS, Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen pada Kamis (17/05).

Dalam jumpa pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya bank sentral menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 16-17 Mei memutuskan menaikkan suku bunga 25 basis poin ‎ menjadi sebesar 4,50 persen dan berlaku efektif 18 Mei 2018,” kata Agus di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.

Keputusan yang tidak mengejutkan ini dianggap sebagai upaya menolong Rupiah. Ini merupakan kali pertama Bank Indonesia meningkatkan suku bunga acuannya sejak November 2014. Banyak mata uang negara berkembang telah menemukan sandaran sebagai akibat dari kenaikan tanpa henti Dolar AS. Hal ini menjadi pendorong utama di balik Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam empat tahun.

Ekspektasi pasar yang semakin besar mengenai kenaikan suku bunga AS tahun ini memastikan bahwa Dolar terus menguat. Dolar dapat semakin menguat menguat karena selisih suku bunga terus mendukung mata uang Amerika Serikat.  Jika Federal Reserve meningkatkan suku bunga empat kali tahun ini, Bank Indonesia mungkin terpaksa mengikutinya guna menjaga nilai tukar Rupiah.

BI pada dasarnya meningkatkan tingkat repo tujuh hari dalam upaya untuk mempertahankan Rupiah Indonesia. Mata uang Indonesia telah terjepit selama beberapa minggu terakhir setelah pembalikan spektakuler dalam sentimen investor terhadap USD. Langkah awal BI ini hanya membuat Rupiah reli singkat, penguatan Dolar AS kembali melumerkan Rupiah.

Rupiah telah mengalami kebangkitan dalam Dollar, tetapi tidak sendirian dan sejumlah mata uang emerging market yang berbeda telah menjadi korban reli Dollar dalam waktu singkat. Saya tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa bank-bank sentral lain akan mengikuti jejak BI, dengan menaikkan suku bunga dalam upaya untuk mempertahankan mata uang masing-masing.

Harus diingat bahwa meningkatnya hasil treasury AS dan data ekonomi AS yang positif, telah memastikan kekuatan Dolar tetap menjadi tema pasar yang dominan. Investor bergerak kembali ke arah diinvestasikan dalam perbedaan suku bunga, yang menunjukkan bahwa masih ada masalah lebih lanjut ke depan untuk mata uang negara berkembang. (Lukman Hqeem)

Share:

Leave a reply