'Mengulas 'Film Horor dan Perempuan' lewat talkshow episode 10

Mengulas ‘Film Horor dan Perempuan’ lewat talkshow episode 10

GuritaNews – Kali ini talkshow episode 10 JAKARTA HORROR SCREEN FESTIVAL 2020 mengulas tema ‘Film Horor dan Perempuan‘, yang di gelar pada Jumat (25/9) pukul 17.00 WIB di studio Zonmer, Jakarta Selatan.

Ada yang berbeda pada gelaran talkshow kali ini dengan mngemas acara acara obrolan santai ‘bergaya’ podcast.

Hadir dalam talkshow edisi podcast tersebut ; Produser Muhammad Bagiono, sportcaster Farah Fang serta pemain film dan model Laila Vitria.

Perbincangan santai yang di pandu Teguh Yuswanto , creative director JAKARTA HORROR SCREEN FESTIVAL 2020 dan wartawan senior Bismar Yogara.

Studio Zonmer, mengundang awak Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia, untuk mengelar acara talkshow Jakarta Horror Screen festival di studio yang dikelolanya.

Alhasil kolaborasi ini, melahirkan tayangan podcast semi talkshow.

Lalu apa saja yang di ulas oleh ketiga narasumber tadi, terkait genre film horor yang masih senang meilbatkan pelakon perempuan nan masih dianggap ‘penting’ itu?

Lewat tema ‘Film Horor dan Perempuan‘ talkshow episode 10 ini mengupasnya.

Film horor sebagai produk yang di yakini para produser sebagai ‘dagangan’ yang masih laris di jajakan kepada penikmat film, masih setia untuk memberikan ruang lega bagi para bintang perempuan.

Pasalnya memajang pemain gen perempuan, masih dianggap menjadi selera pasar, apalagi untuk genre horor.

” Pemeran perempuan dalam banyak film horor masih menjadi barang laku di di industri film horor, bahkan bukanm untuk genre ini saja, ” papar Muhammad Bagiono, produser film Get Lost dan Bukan Jodoh Biasa itu.

” Namun yang berbeda, saat ini yah, setelah beberapa tahun belakangan , tak ada lagi film-film horor yang asal asalan memajang perempuan hanya sebagi pemanis, “

tak ada lagi film-film horor yang asal asalan
Muhammad Bagiono Yah hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya. ( foto : kicky herlamang/guritanews.com )

“Semisal pada eranya dulu, atau saat kebangkitan awal film nasional, belasan tahun lalu, masih banyak film-film horor yang menjadikan perempuan sebagai pesona komersil, umpamanya, banyak film horor yang mengeksploitasi seksualitas dan sensualitas, ” paparnya lagi

” Yah hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya. kan film horor gak mesti jualan sensualitas dan seksualitas. Kini banyak rumah produksi yang mulai rajin untuk ‘serius’ menggarap genre horor, dan meninggalkan taste kualitas usang, ” terang Muhammad Bagiono, prosuder yang sedang mnenyipakan produksi film terbarunya Ratu Kuntilanak.

baca disini : Talkshow JHSF 2020 kupas dampak psikis film horor bagi penonton

Senada dengan Bagiono, presenter dan sport-caster Farah Fang, mengatakan saatnya perfilman nasional berbenah.

” Ada masanya ketika industri itu merasa jenuh dan jalan di tempat, maka para pelakunya harus keluar dari zona nyaman mereka. Dengan melakukan terobosan mutakhir, ” jelas Farah Fang.

Tak ada parameter yang pasti
Farah Fang ” Karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri,” ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Menurut Farah Fang, semisal mengambil contoh peradaban industrti Hollywood ‘ selalu melakukan banyak terobosan untuk selalu bertahan menjadi ‘Kaisarnya’ industri film di dunia’

” Tak ada parameter yang pasti, bahwa film horor yang mengeksploitasi perempuan dengan sensualitas serta di bungkus bumbu seks, maka akan banyak penontonnya. Untuk saat ini, penonton kita lebih wisely,”

” Karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri,”

” Ada banyak kok dalam beberapa tahun belakangan, film-film horor nasional yang memperkerjakan aktris perempuan dengan jatah peran yang sangat bagus, tanpa bumbu esek-esek malah. Namun laku kok di pasaran.. “

” Hanya tinggal bagaimana menyatukan selera gambar, cerita, kualitas akting dan penyutradaraan yang baik serta efek-efek promosi yang jempolan. Maka bukan tidak mungkin akan di sambut para penikmat film horor nasional, ” lanjut Farah Fang.

Sementara Laila Vitria, mengungkapkan, bahwa kini bukan lagi masanya genre horor bermasin dengan kualitas esek esek atau murahan.

ekspolitasi anak-anak perempuan belum cukup umur
Laila Vitria ” Namun seperti yang tadi mas Gion dan Farah sampikan, begitulah kita dalam industri, apapun kiatnya yah sah-sah saja namanya juga kan bisnis hiburan, “ ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

” Yah bagi saya, itulah industri, karena saat itu para produser punya daya tangkap yang bagus untuk menciptakan selera pasar, alhasil banyaklah film horor dengan bumbu-bumbu seks yang melibatkan pereman perempuan, ” papar Laila Vitria.

 ” Tapi bukan itu saja sih , maksudnya bukan hanya soal seks, ekspolitasi anak-anak perempuan belum cukup umur untuk memerankan lakon atau karakter jahat juga punya pengaruh psikis bagi penonton, ”

” Namun seperti yang tadi mas Gion dan Farah sampikan, begitulah kita dalam industri, apapun kiatnya yah sah-sah saja namanya juga kan bisnis hiburan, ” tutup Laila Vitria. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *