Film live-action Mulan : folklore Walt Disney yang tak terlalu agung

Film live-action Mulan : folklore Walt Disney yang tak terlalu agung

GuritaNews – Film live-action berbasis folklore ‘Mulan’ ( dibintangi Liu Yifei ) yang di produksi Walt Disney, belum bisa berupaya maksimal dengan gregetnya untuk menyamai versi animasinya, sebelumnya aktris mandarin Vicky Zhao juga memerankan karakter legenda ini lewat Mulan : Rise of Warrior.

Namun sekali lagi , Vicky Zhao dengan Mulan-nya ( rilisan tahun 2009 ) hanya mampu mengeduk angka penjualan tiket tak lebih dari 1,8 juta dolar dari biaya produksinya sekitar 12 juta dolar.

Kini, Mulan (2020) yang di perankan oleh Liu Yifei, juga didiukung sederet nama aktor beken seperti :  Jet Li, Donnie Yen, Gong Li, Jason Scott Lee -pun hanya mampu medulang komersil sekitar 58,3 juta dolar dari biaya produksi fantastis-nya sekitar 200 juta dolar.

Saya hanya punya sedikit catatan jika berbicara adaptasi atau daur ulang versi asing, seperti film franchise ‘Infernal Affairs’ yang di buat sebanyak tiga jilid ; 1 ( 2002), 2 ( 2003) dan 3 (2003) – yang di bintangi Andy Lau, Tonny Leung, Anthony Wong dan Eric Tsang, kala itu.

Sukses komersil Infernal Affairs menggairahkan hasrat sutradara Martin Scorsese, untuk menggarap The Departed (2005) -yang juga di produseri Brad Pitt – sebagai versi Hollywood Infernal Affairs.

Inilah kesuksesan Hollywood, membuat film aksi-kejahatan pabrikan Hongkong versi remake tersukses dengan mengantongi hampir 300 juta dolar Amerika dari biaya produksinya sebesar 90 juta dollar Amerika.

Namun industri film Hollywood pun juga beruji coba kala itu, lewat remake Ringu, genre horor pabrikan Asia, seperti The Ring ( 2002) yang di bintangi aktris Naomi Watts, bisa disebut sukses besar setelah film asal jepang ini di garap versi Amerikanya.

liu yifei
Aktris Liu Yi Fei memang terampil untuk memperlihatkan olah tubuhnya memainkan kareografi laga kungfu yang lentur saat memerangi lawan tarungnya.

Bahkan Hollywood mengganti nama karakter hantu bernama asli Sadako dalam novelnya, menjadi Samara untuk versi Amrikanya.

Lalu ada The Eye, yang dibintangi Jessica Alba, meski saat itu nama jessica Alba sedang kondang, namun juga tak berpengaruh banyak terhadap pengepulan box office The Eye versi Hollywood, yang hanya berhenti diangka sekitar 56 juta dolar dari biaya produksinya 12 juta dolar.

Masih banyak  lagi sederet problematik Hollywood dengan remake film horor dan aksi Asia versi kapitalisnya.

Menyenggol Mulan versi Walt Disney, tak beda jauh dengan X Men : Dark Phoenix yang dianggap sebagai satu-satunya franchise X-Men paling gagal sepanjang sejarah!

Aktris Liu Yifei memang terampil untuk memperlihatkan olah tubuhnya memainkan kareografi laga kungfu yang lentur saat memerangi lawan tarungnya.

Publik banyak yang memuji perannya sebagai ksatria Mulan.

Bahkan sepertinya Walt Disney-pun mengalah untuk tak menjadikan Donnie Yen ( berperan sebagai Jenderal Tung komandan tempur Dinasty ) dan Jet Li ( Kaisar Tiongkok ), sebagai penguasa tarung dan jago tempur di medan peperangan.

Begitupun dengan Bon Khan musuh bebuyutan Mulan dan Kaisarnya, yang diperankan cukup ‘garang’ oleh aktor Jason Scott Lee, tak terlalu istimewa untuk mengendalikan adegan kelahinya.

Hal ini demi tak menjadikan mereka sebagai ikon laga  di industri film live-action Hollywood.

Praktis sepanjang film adegan baku hantam yang tak terlalu gereget itu hanya di dominasi oleh Liu Yifei.

Bahkan sinematografi kolosalnya pun juga tak terlalu agung dipandang mata.

Apalagi pertempuran kolosal yang coba direkam juga datar-datr saja, mungkin lebih unggul Red Cliff karya John Woo atau Hero milik Zhang Yimou.

Dramatik ‘Mulan’ Walt Disney, masih jauh dari harapan saya, yang sering menikmati film-film perang kolosal Tiongkok -nan detail dan hidup secara visual.

Tapi jika boleh berandai, bagaimana jadinya Mulan jika di arahkan oleh Zack Snyder atau John Woo atau Zhang Yimou? tentu akan berbeda ‘taste’ live-actionnya.

Saya tak perlu mengupas banyak perbedaan antara versi animasi dan live- action bungkusan Walt Disney ini, namun demikian secara hiburan masih tetap ‘enjoy’ untuk ditonton, meski tak perlu berulang kali.

Jangan harap anda akan mendengarkan ‘lelaguan’ yang dinyanyikan Mulan dalam versi live-action ini, karena seperti yang saya sebut tadi, berbeda dengan versi animasi.

Film aksi-kolosal berbasis legenda rakyat memang punya nasibnya sendiri untuk menciptakan selera pasar lewat perolehan uang yang di dapat. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *