Dampak Psikis Film Horor Bagi Penonton

Talkshow JHSF 2020 kupas dampak psikis film horor bagi penonton

GuritaNews – Talkshow Jakarta Horror Screen Festival (JHSF)2020 yang memasuki episode sembilan, kembali di gelar pada Jumat ( 21/8) malam di Parkiran Steak & Bar, Jakarta Utara, lewat tema ‘Dampak Psikis Film Horor Bagi Penonton’ penyelenggara menghadirkan dua pembicara yakni, Psikolog Dra. A Kasandra Putranto dan bintang film ‘Trah 7’ Tine Rustiansah.

Namun, kedua narasumber tidak secara bertemuan dalam satu lokasi yang sama.

Jika Tine Rustiansah berada di lokasi acara, sementara psikolog Kasandra Putranto harus melakukan perbincangan dari kediamannya, melalui siaran langsung kanal instagram yang di siarkan oleh tuan rumah Parkiran Steak & Bar.

Kasandra berhalangan hadir ke lokasi acara, untuk itu ia melakukannya via video siaran langsung instagram, yang dipandu langsung oleh ketua Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia ( KJSI ) Kicky Herlambang.

Setiap film memiliki premisnya sendiri dengan gaya penuturannya yang juga bervarian (meski juga ada yang nyaris serupa).

Namun jika bicara soal film horor , tentu yang jarang tersentuh adalah dampak psikisnya.

Saya harus rela mengesampingkan ‘mutu’ juga juga punya dampak dan pengaruh terhadap industri kreatifnya sendiri, khususnya di Indonesia.

Pada genre horor, dampak komersil dan psikologi juga sering tampil bersamaan, namun tak banyak filmmaker dan sineas yang mampu melakukannya dengan baik.

Psikolog Kasandra Putranto mengatakan film horor selalu punya dampak psikis ‘meski tak semuanya demikian’

” Dampak psikis itu bisa positif, juga bisa negatif, tergantung cara penontonya menyimak. Jika ada adegan kekerasan dan sadistik, maka jangan juga di tafsirkan itu sebagai ‘belajar membunuh’. Jadi harus di tafsirkan dengan benar dan bijak, ” paparnya.

Tak semua film horor menjual banyak adegan sadis atau sering di sebut ‘slasher’, pasalnya lembaga sensor film di Indonesia juga punya aturan ketat untuk scene-scene seperti ini.

Psikolog Kasandra Putranto mengatakan film horor selalu punya dampak psikis 'meski tak semuanya demikian'
Kasandra Putranto ( bawah ) Tak semua film horor menjual banyak adegan sadis atau sering di sebut ‘slasher’, pasalnya lembaga sensor film di Indonesia juga punya aturan ketat untuk scene-scene seperti ini.

Kenapa demikian ketatnya? yah itu tadi dampak psikis dan kekhawatiran menimbulkan traumatik bagi penonton, apalagi jika penontonnya terthitung belum mampu menalar cerita dan adegan dengan bijak.

” Untuk itu ada aturan yang di sebut Parents Guide (PG), jadi penonton belum cukup usia – yang telah disesuaikan ketentuannya oleh lembaga sensor- wajib di dampingi orang tua. Mau itu nonton di bioskop atau di televisi,” lanjut Kasandra.

Lebih jauh Kasandra memaparkan, memang tak banyak film horor berdampak psikis, apalagi di Indonesia semua film genre horor di garap bervarian.

” Banyak film horor Indonesia masih sering menampilkan hantu, pocong, kuntilanak, gendoruwo, “

Penting bagi kita semua juga pandai memilah mana film yang tidak berdampak negatif  atau buruk secara psikologi.

Untuk film horor yang punya dampak negatif , sangat tidak di anjurkan bagi anak anak karena kapasitas mentalnya belum mampu.

Yang perlu di waspadai menurut Kasandra adalah jika film horor-slasher di konsumsi oleh mereka yang punya kerentanan psikologis, biasanya film tersebut akan memberikan dampak stress, paranoid, cemas, insomnia, kekerasan, juga  bahkan bisa saja ada prilakunya yang meniru adegan.

Lain halnya Tine Rutiansah yang memerankan sosok iblis halaka dalam film terbarunya Trah 7, mengatakan saat ia memerankan karakter iblis Halaka pun ia juga punya rasa takut yang tinggi.

“Saat aku total make-over oleh tim mua dan kostum, jujur ajah gak berani lihat cermin saat itu hanya untuk lihat seperti apa penampilanku. Dampak psikis karakter Halaka itu seperti ‘ada’ dalam diriku sebelum pengambilan gambar di mulai, ” aku bintang film Mangga Muda dan Koki Koki Cilik itu.

” Tapi saat take scene, semua beban lepas dan aku secara profesional melakukan adegan yang di arahkan naskah,”

” Gimana sih yah.. aku perempuan cantik, di sulap penampilanku jadi sosok mengerikan dn menakutkan, dan aku gak pernah ngebayangin sebelumnya seperti apa? Begitu jadi , malah ciut nyali.. Psikis banget loh buat aku…”

 ” Tapi begitulah kita sebagai pekerja seni berbuat maksimal untuk kepuasan penonton yang juga maksimal. Jadi, jangan penonton yang merasakan punya dampak psikis saat usai nontonfilm horor, aku ajah memerankan karakter iblis juga merasakan psikisnya mas, “

Entah itu berdampak pada psikologi bagi penonton atau tidak, film horor memang punya kelas dan cara sendiri untuk menyuguhkan ‘rasa menghiburnya’.

Setidaknya dalam genre horor kita bisa nikmati scoring, sound efek, jump-scare serta angle-angle mahal yang menyeret penonton terlibat langsung ke dalam imajiner visual, belum lagi tempelan efek Computer Generated Imagery, yang sedang tren, lalu  bonus (nya) seperti biasa.. penampakkan hantu-hantu konyol (bagi saya) yang sedemikian rupa di bentuk demi menakut-nakuti penontonnya.

baca juga : Trah, Kutukan dan Halaka dalam film horor masih laku?

Meski terkdang juga sering kita jumpai adegan-adegan sadis dan menakut nakuti yang amburadul di garapnya..!

Cerita film horor-misteri-thriller dan sadis yang mentah kita luma,t juga berperan penting mempengaruhi daya psikis kita, seperti yang disampaikan Kasandra Putranto dan Tine Rustiansah.

Begitulah kalau kita bicara soal film horor selalu berdampak, entah itu sebatas komersil atau juga psikisnya, silahkan anda cerna sendiri dengan bijak. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *