Talkshow episode 7 ; Mengulik Kualitas Akting Bintang Horor

Talkshow episode 7 ; Mengulik Kualitas Akting Bintang Horor

GuritaNews – Perhelatan Jakarta Horror Screen Festival 2020 kembali dengan rangkaian talkshownya memasuki episode 7 lewat tema ‘KUALITAS AKTING BINTANG HOROR’, yang masih digelar di kedai kopi Lali Bojo , Jakarta Timur, ¬†dengan menghadirkan narasumber : Maya Yuniar ( bintang film Mangga Muda,Kuntilanak Ciliwung ), Dimas Juan ( casting director ), Surya Lawu ( Sutradara ), serta bintang pendatang baru yang sedang padat karya, Surya R. Kusumah.

Dalam perbincangan eposode 7 ini, masing masing tamu pembicara punya pandangan berbeda tentang yang dimaksud seni peran bagi para pelakon dalm film horor.

Banyak sineas dan aktor atau sutrdara teater punya pandangan bahwa ‘ seseorang yang main berperan dalam film tak perlu totalitas berakting’.

Lalu bagaimana jika seorang pelakon harus berperan sebagai karakter menakutkan dan mengerikan , bukankah juga perlu kekuatan dan totalitasnya?   

Film horor memang punya kelas tersendiri untuk menyengatkan atmosfir hiburannya kepada penonton.

Film horor memang punya kelas tersendiri untuk menyengatkan atmosfir hiburannya kepada penonton.
Kiri ke kanan : Surya R. Kusumah, Surya Lawu, Dimas Juan dan Maya Yuniar ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Seperti halnya pengakuan maya Yuniar yang sempat memerankan Kuntilanak dalam film horor kerjasama produksi Malaysia – Indonesia.

Maya di haruskan mengerahkan seluruh kemampuannya ‘bermain’

” Kebayang gak sih mas, aku yang cantik begini (hahaha…)  didaulat memerankan kuntilanak? tapi itulah tanggung jawab sebagai pemeran. Aku harus bisa menyulap diri secara penjiwaan. Mehamai akar karakter dan ceritanya dulu dengan menyerapnya, baru setelah itu eksekusi, ”

” Gak gampang loh berperan jadi kuntilanak. Biar jadi hantu, tapi totalitas juga dibutuhkan, jadi gak sekedar aku di bungkus kostum kain kafan putih dan make upnya. Secara penjiwaan juga sangat di haruskan, bagaimana menjaga stabilitas peran dari scene to scene kan harus stabil juga, ” terangnya.

Gak gampang loh berperan jadi kuntilanak.
Maya Yuniar ‘Gak gampang loh berperan jadi kuntilanak.’ ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Pernyataan Maya juga di amini sutradara Surya Lawu, bahwa dalam dunia akting (untuk genre horor) juga perlu memperhatikan detail eksternal dan internalnya.

” Faktor ini sangat penting di perhatikan oleh si pemain (semestinya yah). Jadi pemain jangan pasrah dengan lakon yang di mainkan tanpa memperhatikan internalnya, yah itu tadi masalah penjiwaan atau soulnya, ” jelasnya.

” Saya masih sering lihat banyak pemain film horor kita kurang waspada pada persoalan ruh karakternya, hingga kualitas akying atau seni peran yang ditampilkan yah flat ajah atau cukup lah segitu. Tanpa memberikan kesempatan kepada kemampuannya untuk total eksplor, “

 Dua pernyataan diatas semestinya juga menjadi perhatian yang sangat mahfum bagi para sineas dan filmmaker dalam mengolah dan mendeveloping karakter film horor.

Agar saat kita menonton siapapun pemeran karakter yang di ekskusi menjadi tak hambar untuk di nikmati sepanjang durasi.

Banyak yang 'kepleset' saat mereka datang casting ke kantor
Dimas Juan ‘Banyak yang ‘kepleset’ saat mereka datang casting ke kantor’ ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Dimas Juan yang malang melintang dengan profesinya sebagai casting director juga punya pemahan serupa.

Jelasnya, ia sering terbentur pada persoalan ruh karakter yang di mainkan oleh calon pemeran.

” Banyak yang ‘kepleset’ saat mereka datang casting ke kantor dengan rasa percaya diri yang tinggi, merasa punya jam terbang, pas begitu saya kasih scrip pendek. Lalu record cam, eghh.., jauh banget dari harapan, ” akunya.

Mungkin Dimas memang punya naluri sendiri dengan kiatnya mengeksekusi seorang calon bintang untuk memerankan tokoh atau karakter utama dalam film horor.

” Pada akhirnya saya sadar juga betapa susahnya mencari pemain dengan kualitas olah akting yang di mau naskah. Pun biar dia seorang aktor sekalipun dengan jam terbangnya, ”

Dimas menambahkan pentingnya para pemain dan aktor untuk memahami konflik dalam cerita agar bisa bertemu dengan ruh karakter yang ia mainkan.

” Jadi bukan sekedar baca naskah, nyimak ‘oh..oke begini’ tapi miskin penjiwaan, “

film horor juga tak mesti hanya menghibur dengan treatmentnya saja
foto bersama ‘film horor juga tak mesti hanya menghibur dengan treatmentnya saja, kualitas secara keseluruhan juga sangat penting untuk di kemas. ( foto : guritanews.com )

Sementara, bintang muda Surya R Kusumah, menceritakan pengalamannya saat tampil berperan sebagai dua karakter ; baik dan jahat secara bersamaan dalam film Trah 7 produksi Diana Limbong Kreatif.

Surya menceritakan level kerumitan memerankan dua karakter sekaligus  sebagai si baik dan si jahat.

” Film Trah 7 bagi aku tantangan terhebat mas sepanjang karir mudaku ini. Sekalinya dapat peran mesti eksplor habis habisan. Baru saya sadar bahwa akting itu juga menuntut kualitasnya. Jadi kalau kemampuannya segitu ajah, yah segitu pula kualitasnya, ” pungkasnya.

Film horor belakangan menjadi trend produksi yang sarat komersil, ketika banyak studio memproduksi film-film genre horor, maka saat itu pula masyarakat berbagi seleranya untuk mencoba bersahabat genre yang dulunya dianggap kasta bawah ini.

baca juga : Mengenal Karakter Setan dalam Talkshow Jakarta Horror Screen Festival

Tapi persoalannya, film horor juga tak mesti hanya menghibur dengan treatmentnya saja, kualitas secara keseluruhan juga sangat penting untuk di kemas.

Bahkan untuk soal seni peran para pelakonnya saja, juga di tuntut kemampuan internal tadi.

Coba perhatikan mediang Suzanna, tak satupun aktor yang mampu menggantikan kemampuan internal aktingnya! (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *