Elly Wulansari dan Atep Koswara ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Harus kemana Elly Wulansari mencari keadilan?

GuritaNews – Sosok wanita pekerja keras bernama Elly Wulansari harus menerima nasibnya saat perusahaan tempatnya bekerja, Bank Central Asia Kantor Cabang Pembantu, Menteng, memberikan sanksi skorsing terhadap dirinya.

Hal ikhwal sanksi ini di jatuhkan, lantaran dirinya di tuduh mencuri uang sebesar Rp 17.000.000, milik rekan kerjanya.

Peristiwa ini berawal ketika seorang kerabat kerja Elly Wulansari, bernama Yulis, kehilangan uang dalam amplop miliknya sebesar Rp 17.000.000,- di kantornya, pada 25 April 2018.

Singkat kisah, nahas bagi Elly Wulansari yang tak tahu menahu dimana dan kemana uang rekannya tersebut berpindah, ternyata ia malah menemukannya di kotak susu UHT miliknya yang berada di bawah locker yang bertuliskan ‘Elly’ .

Elly Wulansari menemukan amplop tertutup rapat bertuliskan uang Rp 17.000.000,-

Peristiwa ini sontak membuatnya kaget dan panik!

Maka bukan tidak mungkin tuduhan spontan bahwa dirinya telah mencuri uang rekannya, bakal ia dapatkan, saat itu.

Merasa khawatir dengan dirinya yang diselimuti ketakutan yang tinggi, Elly Wulansari tak langsung memulangkan amplop hasil temuannya tersebut.

Ia, pun membawa serta amplop tersebut ke rumahnya, sepulang bekerja.

Selama tujuh hari, dengan penuh rasa takut dan bimbang, uang sebesar Rp 17.000.000,- dalam amplop tersebut masih dalam genggaman Elly, hingga akhirnya ia pasrah dengan kondisi apapun untuk mengembalikan amplop berisi uang tersebut, pada 2 Mei 2018.

elly wulansari ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )
Elly Wulansari ( foto ; kicky herlambang/guritanews.com )

Uniknya, Harini – Kepala Bagian Prioritas- atasan Elly, yang menerima amplop berisi uang tersebut, tidak langsung mengembalikan uang senilai tujuh belas juta rupiah tersebut kepada Yulis, justru menyimpannya.

Sehari kemudian pada tanggal 3 Mei 2018, malah Harini mengembalikan uang milik Yulis dengan cara menyetorkan sendiri ke rekening atas nama Yulis.

Kejadian ini cukup unik, uang yang di temukan dan di simpan Harini justru kenapa  tidak langsung di kembalikan kepada pemiliknya , Yulis.

Malah sempat ‘menginap’ di tangan Harini semalaman.

Artinya, dalam kasus ini, jelas tidak cukup bukti untuk mempidanakan Elly Wulansari, apalagi menudingnya sebagai ‘pencuri’, karena barang bukti uang sebsar Rp 17.000.000,- itu sudah ‘lenyap’.

Akhirnya bukan saja sanksi skorsing sebagai karyawan di korporasi bank raksasa itu, Elly Wulansari yang juga karyawan padat prestasi harus berhdapan dengan hukum.

Perusahaan tempat Elly Wulansari bekerja menggugatnya ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Elly Wulansari juga mendapat perlakuan tidak adil dari atasannya.

Pengacara Atep Koswara, SH.MH yang mendampingi Elly Wulansari dalam kasus ini mengatakan bahwa sebenarnya kasus ini aneh bagi saya ‘klien saya di tuduh mencuri dengan beragam tekanan baik oleh atsannya dan pihak terkait lainnya, tapi barang buktinya tidak ada’

“Gugatan dari penggugat sangat prematur karena isi gugatan yang dilayangkan pihak penggugat tidak cukup syarat. yakni belum ada putusan hakim pidana terhadap tergugat dalam perkara yang dituduhkan (pencurian) penggugat,” Papar Atep.

“Lucunya penggugat sudah mendaftarkan gugatan ke PHI dengan petitum ; menuntut tergugat di phk karena pencurian”

Sementara itu, lanjut Atep Koswara,  laporan terhadap tergugat di Polres Jakarta Pusat tidak mengalami perkembangan (laporan sejak November 2018 sampai saat ini tidak ada perkembangan apapun tmsk SP2HP pun tidak ada) karena apa yang dituduhkan terhadap Elly Wulansari tidak dapat dibuktikan secara hukum.

Atep Koswara menduga penyidik mengalami kesulitan untuk menaikan status lidik menjadi sidik karena tidak adanya barang bukti seperti yang dituduhkan kepada tergugat.

Sehingga dapat diduga bahwa laporan dengan tuduhan pencurian terhadap tergugat tidak  memenuhi unsur hukum yakni tidak adanya barang bukti atas obyek kejahatan sebagai sebuah syarat terpenuhinya delik atau tindak pidana.

Alhasil, perkara yang sedang bergulir di PHI ini terkesan “dipaksakan” dan jika benar analisa hukum Atep bahwa penggugat atau pihak lain baru melaporkan peristiwa hukum (pencurian) kepada kepolisian setelah ‘tujuh bulan’ sejak terjadinya peristiwa kehilangan ‘tanpa’ disertai barang bukti atas kejahatan (karena barang bukti diduga sudah disetorkan oleh penggugat kepada rekening pelapor) sehingga dapat diduga Pelapor dengan melaporkan adanya tindak pidana Pencurian kepada Polres Jakarta Pusat, November 2018, hanyalah Delusi.

Mengapa demikian? karena pada saat pelapor melaporkan Elly Wulansari kepada Polres Jakarta Pusat, sejatinya ‘barang bukti’ yang di laporkan hilang tersebut telah kembali kepada pelapor tujuh bulan sebelum pelapor melaporkan Elly Wulansari.

” Maka seharusnya kepolisian (POLRES JAKPUS) mempertimbangkan untuk tidak menerima laporan, karena tidak cukup bukti, karena syarat untuk dapat diterimanya sebuah laporan dugaan tindak pidana adalah adanya bukti permulaan yang cukup. Sedangkan dalam perkara ini yang menjadi bukti permulaan adalah ‘HANYA LAPORAN SESEORANG’ tanpa disertai bukti lain/barang bukti hasil kejahatan,” jelas Atep Koswara, saat wawancara dengan awak media, Rabu (22/1) siang, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Diakhir percakapan Atep Koswara menegaskan ” Berdasar kepada fakta dan data bahwa yang menggugat klien saya adalah PT Bank Central Aisa, Tbk sendiri melalui kuasa hukumnya MMS Law Office,” pungkasnya. (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *