Nightmare Side : perlunya membangun ‘rasa horor’ yang asli

GuritaNews – Sebelum mengulas sedikit (saja) tentang film ini, bahwa tahun 2013 lalu pernah dirilis film berjudul sama Nightmare Side ( di sutradarai oleh Intan Rizky Mutiaz, dibintangi oleh Sarwendah Tan dan sebagainya) versi omnibus, yang juga diangkat dari sebuah episode cerita mistis dari sebuah program radio Ardan, Bandung.

Kini, Nightmare Side kembali dirilis di bioskop ( mulai tanggal 28 November), tetap masih bertutur panjangng lebar tentang cerita horor dan misteri program radio Ardan tadi.

Kali ini rumah produksi Dash Pictures dan Radio Ardan mendaulat sutradara muda Joel Fadly untuk mengarahkan sedret bintang muda seperti; Fay Nabila, Gege Elisa, Elina Joerg, dan Ajil Ditto untuk menjadikan Nightmare Side terbaru ini leBih fresh dan punya kekuatan.

Secara film , Nightmare Side telah berhasil menjadi tontonan menghibur, setidaknya treatmen jump-scare bakal membuat penonton ‘kekenyangan’ di hajar dari awal hingga akhir.

Hanya saja, Joel perlu memiliki level taste dan flavour yang ‘sarat’ untuk membuat Nightmare Side lebih hidup dengan atmosfir horonya sendiri ketibang sematan jump-scare dengan efek sound yang terlalu royal.

Alhasil, lantunan scoring pun harus rela mengalah demi mengkoyak debar jantung.

Mungkin inilah misi, dimana -masih ada- film maker yang masih menggunakan pakem bahwa film horor harus ‘ngagetin’ dan memperbanyak sosok hantu-hantuan berwajah ‘merugikan’.

Story telling Nightmare Side , yang mencomot cerita tentang kematian seorang siswi SMA di Bandung, yang pada akhirnya menjadi teror mengerikan bagi dua orang temannnya yang telah melakukan bully di sekolah hingga membuat siswi tersebut tewas mengenaskan ini, tersaa hambar untuk teresap.

Stop! saya tidak mengulas secara detail jalan cerita film ini, karena akan menjadi spoiler!

Andai penataan naskah film ini lebih terkendali dan polesan treatmen yang lebih natural, mungkin Nightmare Side akan keluar dari zona nyamannya sebagai film horor yang hanay sekedar membabi buta dengan ‘efek kejut’ belaka.

Film Nightmare Side masih mampu -sebenarnya- meleluasakan diri untuk mendeveloping atmosfir horornya sendiri, tanpa harus bermain dengan banyak scene dragging.

Padahal, plot twist yang di injek, cukup tepat waktu dan sasaran.

Yah, saya (penulis) harus mahfum bahwa tak ada karya manusia yang sempurna.

Setidaknya Nightmare Side telah mendaulat diri sebagai film horor seutuhnya, bukan lagi seperti pendahlunmya yang berada di ruang omnibus tiga babak. 

Pendatang baru Gege Elisa, cukup mencuri perhatian saya, saat ia harus main sebagai karakter normal dan indigo.

Gege cukup mampu mengurai totalitas perannya sebagai gadis pendiam yang rela di bully dan punya kelebihan indigo namun sangat menakutkan dirinya sendiri, hingga ia harus menjadi hantu. (Q2)

review ini juga dapat anda simak di pojoksinema.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *