ajari aku islam

Ajari Aku Islam bak drama film televisi (saja)

GuritaNews – Layar bioskop tanah air rupanya masih betah meleluasakan film film drama dengan menyembulkan ‘judul judul’ religius, meski bukan sepenuhnya bertema religi.

Hakikatnya film itu sendiri adalah dakwah lewat rentetan pesan moral dan kemanusiaan yang disampaikan melalui narasi cerita.

Namun demikian, kemasan spirit yang menjadi kekuatan dalam kandungan cerita sering tak bergandengan dengan pemolaan treatmen dan dramaturgi.

Terkadang sering kita temukan film dengan keasikannnya bermain dengan dialog-dialog mesra dan puitis saja.

Para pembuat cerita dan penulis skenario tengah asyik memainkan dakwah puitisnya, tanpa mengindahkan kembali keelokkan cerita film yang semestinya menjad ‘jawara’ dalam film drama tersebut.

Tapi sudahlah, film sebagai karya seni manusia, tentu tak mampu mengelak dari rasa bersalah yakni; keterbatasan.

Studio film RA Pictures kembali merilis film terbarunya, berjudul Ajari Aku Islam.

Tiga potong kata yang menajdi rantai kalimat judul ini, tentu akan membius sekejap hati bahwa film ini ‘pasti religius’ atau ini pasti film religi.

Film arahan Deni Pusung yang di bintangi Cut Meyriska, Roger Danuarta, Shinta Naomi (ex JKT 48), Miqdad Addausy, August Melasz, Asrul Dahlan dan lainnya, menghembus dengan perumpaaman visual ; seseorang anak muda bukan beragama islam yang hendak mengenal ajaran-ajaran Islam.

Pertemuannya dengan sorang gadis cantik berhasil menguatkan batiniahnya untuk mengenal dengan baik apa itu islam?

Secara gagasan, film ini cukup berani dengan menyematkan judul Ajari Aku Islam. .

Saat menonton, meski tidak dengan ekspetasi yang tinggi, saya sedikit berharap sebarapa bagusnya Deni Pusung mengarahkan Ajari Aku Islam menjadi film menghibur dengan nuansa dakwahnya.

Penanganan penulisan cerita oleh Haris Suhud dan Yunita R. Saragih, memang bukan menyihir cerita film ini untuk membius penonton dengan dialog dialog penuh ‘syair-syair ritual’ seperti kebanyakan film dengan notabene religi.

Pada akhirnya saya hanya menyimpulkan, pergerakan dramaturgi dan treatmen naskah hanya melenggang pada formula konflik sederhanan dan klise.

Film Ajari Aku Islam di tangan Deni Pusung tidak serta merta menyemburkan atmosfirnya sebagai film drama nan ringan (sebenarnya), alur lambat pun saya rasakan.

Bahkan penampilan para bintang secara keseluruhan hanya biasa biasa saja kualitas aktingnya.

Tugas tersulit Deni sebagai sutrdara tampak jelas terlihat ; betapa film ini sangat kesulitan mendeveloping chemistry antar pemain.

Alhasil, Ajari Aku Islam mengayun bak drama drama film televisi saja, tapi tayang di bioskop.

Terlepas dengan segala keterbatasan sebagai karya seni film, di tengah issue keragaman yang terjadi belakangan, mungkin Ajari Aku Islam, masuk tepat waktu.

Andai saja film ini (meski kemasannya biasa saja) mau berbuat lebih untuk menggaungkan kalimat Ajari Aku Islam melalui kanal-kanal promosi digital dan off air, bukan tidak mungkin akan sangat menyita perhatian publik.

Sepertinya memang demikian, RA Pictures perlu siasat jitu untuk membuat Ajari Aku Islam medulang sukses komersil di pasaran!

Promosi yang tepat akan memberikan dampak yang sangat baik! (Q2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *