joko anwar ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Ramuan ‘twist ending’ Perempuan Tanah Jahanam

GuritaNews –  Sesaat sebelum pemutaran perdana -khusus wartawan (screening)- film Perempuan Tanah Jahanam, pembawa acara sempat mengingatkan bahwa film karya Joko Anwar tersebut lebih ‘horor’ dari Pengabdi Setan, yang juga di garapnya.

Film Perempuan Tanah Jahanam adalah hasil produksi elaborasi studio film Base Entertainment, Ivanhoe Pictures (Amerika Serikat), Rapi Films dan Logika fantasi serta CJ Enternational (Korea selatan).

Jika melihat merk perusahan pembuat film asal Amerika Serikat dan Korea Selatan diatas, maka sepertinya kita punya ekspetasi besar bahwa film ini punya rasa ‘internasional’.

Film Perempuan Tanah Jahanam yang naskah dan pennyutradaraannya di tangani langsung oleh Joko Anwar, memang hukan film berbiaya murah, secara visual film yang melakukan pengambilan gambar di Jawa Timur ini memang ‘tampil’ mahal.

Tara Basro ( foto : kicky herlambang/guritanews.com )

Artinya pihak rumah produksi memang memaksimalkan desain produksi serta tetek bengek lainnya.

Secara film, lewat penakaran aspek sinematografis dan visual plus polesan grading colour dan sound efek serta sematan CGI yang jempolan, Perempuan Tanah Jahanam telah mewakili kastanya untuk hadir sebagai tontonan berkelas di genre horor (katanya) dan misteri.

Treatmen dan developing karakter masing-masing pemain juga terbungkus dengan serius, alhasil hampir secara keseluruhan kekhawatiran adanya ‘deragging’ dalam karakter yang di tampilkan dalam berbagai scene- memang tidak ada.

Namun sebagai karya seni, Perempuan Tanah Jahanam tetap punya kelemahan nan manusiawi.

Jika ada penyebutan film ini lebih ‘horor’ dari Pengabdi Setan, seperti yang saya (penulis) sebutkan di atas tadi, maka sejatinya perlu kembali saya khawatirkan , benarkah demikian?

Treatmen dan dramaturgi Perempuan Tanah Jahanam secara film memang -sebenarnya- ingin menghabisi emosional penonton dengan rasa takut yang maksimal, sah-sah saja jika sutradara menginginkan demikian.

Hanya saja, balutan warna misteri film ini memang lebih dominan ketibang ‘rasa horornya’, alhasil Perempuan Tanah Jahanam lebih meleluasakan petualangan misteri di kampung ‘horor’ (mungkin lebih tepat saya katakan demikian).

Joko Anwar sadar betul bahwa horor yang ia inginkan adalah sebuah tujuan membedah treatmen cerita dengan menghanyutkan penonton lewat ‘original taste’.

Ekspresi masing masing pemain dengan porsi karakternya cukup mewakili bahwa film ini penuh ‘tanda tanya’, yah itu tadi ; kekuatan misteri bukan horornya (meski horor tak berarti seram secara visual tapi bisa juga ketakutan tinggi lewat rasa).

Akan tetapi, porsi misteri ini juga pada akhirnya mengkoreksi ramuan hroronya melalui beberapa scene ramuan ‘twist’ mendekati akhir cerita.

Persoalan banyaknya ‘tempelan’ karakter problematik juga melupakan rasa film horor ala Perempuan Tanah Jahanam.

Mungkin inipun di lakukan Joko Anwar dengan tujuannya sendiri (hanya dia yang tahu).

Menag, banyak film horor pabrikan Eropa dan Hollywood yang ikut andil mempelopori ‘twist ending’, yang bertujuan membuat kejutan di akhir babak.

Lalu bagaimana upaya twist yang di poles Joko, apakah sukses menggugah rasa penasaran dan mengejutkan? ( sebaiknya anda nonton dulu filmnya..)

Alhasil story telling Perempuan Tanah Jahanam, meski bukan se-horor Pengabdi setan, tetap mengayun dengan presmis takjub bahwa: manusia di zaman apapun memang selalau menjadi pengrusak kehidupan!

Film yang dibintangi sederet nama beken seperti Tara Basro, Christine Hakim, Marissa Anita, Ario Bayu dan sebagainya ini, punya selera menghibur yang tetap dalam ‘rambu’ Joko Anwar. (Q2)

baca juga ulasan ini di pojoksinema.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *